<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505</id><updated>2011-12-03T12:00:12.689+07:00</updated><title type='text'>THE FUTURE INFORMATION AND LIBRARY</title><subtitle type='html'>The Future Information and Library di ciptakan untuk menyediakan artikel dan berita terkini yang lebih spesifik ke dunia teknologi informasi dan perpustakaan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>83</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-8609629418418456077</id><published>2010-01-09T09:27:00.001+07:00</published><updated>2010-01-09T09:27:32.990+07:00</updated><title type='text'>Perkembangan Teknologi Digital</title><content type='html'>Pada akhir-akhir ini, berbagai perkembangan yang terjadi memang cukup menakjubkan, khususnya dalam bidang teknologi terutama dalam hal informasi dan komunikasi. Teknologi informasi yang tadinya dikenal dengan teknologi komputer, beserta perangkat elektronika lainnya, menjelma menjadi satu dalam perpaduan kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula dengan ditemukannya berbagai perangkat sederhana, mulai dari telepon, yang berbasis analog, maju dan berkembang terus hingga muncul berbagai perangkat elektronika lainnya. Hingga akhirnya teknologi ini terintegrasi satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, akibat perkembangan dari kemampuan teknologi, terjadi juga perubahan yang cukup dramatis di sisi perjalanan dan operasi bisnis, yang menghasilkan pelayanan-pelayanan baru, termasuk dalam hal pemanfaatan jaringan dunia tanpa batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon, yang pada awal ditemukan pada tahun 1876, diniatkan sebagai media untuk mengirimkan suara, dan salah satu penerapan konsep analog, juga memberikan konstribusi yang tidak sedikit terhadap perkembangan teknologi. Sampai dengan sekitar tahun 1960-an, penerapan analog ini masih tetap bertahan, hingga setelah itu, mulai mengarah kepada teknologi digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, teknologi digital yang mulai merambah ke berbagai rancangan teknologi yang diterapkan dan digunakan oleh manusia. Facsimile, adalah salah satu batu loncatan dari pemanfaatan jaringan telekomunikasi, yang mampu memberikan konstribusi dan pemikiran, bahwa datapun mampu untuk dilewatkan melalui media telepon tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan perkembangan komputer. Komputer pertama yang diperkenalkan adalah ENIAC II, diinstalasi dan digunakan pada tahun 1946, setelah perang dunia kedua. Komputer ini merupakan sebuah rangkaian elektronika lampu tabung seberat 20 ton. Perkembangannya juga cukup menakjubkan, baik dalam ukuran dan kemampuan kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ukuran komputerpun, hanya dalam ukuran segenggam tangan. Dengan ukuran sedemikian, berbagai proses mampu diolahnya, tidak hanya untuk melakukan proses yang berhubungan dengan pengolahan perhitungan dan database, tetapi juga mampu dalam hal berkomunikasi dengan pengguna lainnya yang menggunakan perangkat yang tadinya masih merupakan pemisahan dari segi fungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protocol, merupakan salah satu yang memegang peranan kunci disini, sehingga berbagai perangkat dapat berinteraksi satu dengan lainnya. Dengan adanya protocol ini, satu mesin dengan mesin lainnya dapat untuk saling berkomunikasi. Protocol merupakan suatu metoda yang mengakibatkan suatu alat dengan alat lainnya dapat saling berkomununikasi sehingga terjadilah percakapan sehingga akhirnya berjabat tangan (handshaking), dan dapat diibaratkan kesepakatan bahasa antar dua alat, yang mengakibatkan satu sama lainnya mengerti apa yang diperintahkan dan apa yang sedang diolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu perangkat yang dihasilkan dari pabrik yang berbeda, sesuatu yang mungkin untuk ikut berperanan dalam menyemarakkan bidang teknologi informasi dan telekomunikasi ini, sebab dengan protocol yang sama, alat itupun bisa menggabungkan diri menjadi bagian dari berbagai perangkat yang ada. Begitu juga dengan bandwith, sebagai jalur data, compression, codes, dan bits, menjadi tulang punggung yang mendasar, terutama untuk perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan berselang setelah Neil Amstrong melangkah di bulan, terjadi suatu langkah yang besar di UCLA, sewaktu komputer pertama dikoneksikan ke ARPANET. ARPANET mengkoneksikan empat site, diantaranya UCLA, Stanford Research Institute (SRI), UC Santa Barbara, dan University of Utah. Pada tahun 1977, terdapat lebih seratus mainframe dan komputer mini yang terkoneksi ke ARPANET yang sebagian besar masih berada di Universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya fasilitas ini, memungkinkan dosen-dosen dan mahasiswa dapat saling berbagi informasi satu dengan lainnya tanpa perlu meninggalkan komputer mereka. Saat ini, terdapat lebih dari 4.000.000 host internet di seluruh dunia. Sejak tahun 1988, Internet tumbuh secara eksponensial, yang ukurannya kira-kira berlipat-ganda setiap tahunnya. Istilah Internet pada mulanya diciptakan oleh para pengembangnya karena mereka memerlukan kata yang dapat menggambarkan jaringan dari jaringan-jaringan yang saling terkoneksi yang tengah mereka buat waktu itu. Internet merupakan kumpulan orang dan komputer di dunia yang seluruhnya terhubung oleh bermil-mil kabel dan saluran telepon, masing-masing pihak juga dapat berkomunikasi karena menggunakan bahasa yang umum dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apakah yang dimaksud dengan Internet ? Pertama, Internet adalah kumpulan yang luas dari jaringan komputer besar dan kecil yang saling bersambungan menggunakan jaringan komunikasi yang ada di seluruh dunia. Kedua, Internet adalah seluruh manusia yang secara aktif berpartisipasi sehingga membuat Internet menjadi sumber daya informasi yang sangat berharga. Apakah yang mebuat hal tersebut bisa bekerja? Semua adalah karena permainan listrik dan gelombang yang akhirnya diolah sedemikian rupa. Semua berasal dari analog maupun digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;div style="font-size: 11px; text-align: justify;"&gt;    ___________&lt;br /&gt;&lt;b&gt;jack Febrian&lt;/b&gt; --     &lt;i&gt;Dosen dan Praktisi Teknologi Informasi di Bandung. Telah menulis beberapa buku, diantaranya Menggunakan Internet, Kamus Komputer dan Teknologi Informasi, Menjelajah Dunia dengan Google, Tentang Pendidikan Tinggi di Indonesia, dll..&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-8609629418418456077?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/8609629418418456077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2010/01/perkembangan-teknologi-digital.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/8609629418418456077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/8609629418418456077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2010/01/perkembangan-teknologi-digital.html' title='Perkembangan Teknologi Digital'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-4446041589188750686</id><published>2010-01-09T09:24:00.000+07:00</published><updated>2010-01-09T09:25:07.833+07:00</updated><title type='text'>TECHNOPRENEURSHIP : Inkubator Bisnis Berbasis Teknologi</title><content type='html'>Perubahan demi perubahan yang terjadi dari suatu zaman ke zaman berikutnya telah mengantarkan manusia memasuki era digital, suatu era yang seringkali menimbulkan pertanyaan : apakah kita masih hidup di masa kini atau telah hidup di masa datang. Pertanyaan ini timbul karena hampir segala sesuatu yang semula tidak terbayangkan akan terjadi pada saat ini, secara tiba-tiba muncul di hadapan kita. Masa depan seolah-olah dapat ditarik lebih cepat keberadaannya dari waktu yang semestinya, berkat kemajuan teknologi informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi komunikasi dan informasi atau teknologi telematika (information and communication technology –ICT) telah diakui dunia sebagai salah satu sarana dan prasarana utama untuk mengatasi masalah-masalah dunia. Teknologi telematika dikenal sebagai konvergensi dari teknologi komunikasi (communication), pengolahan (computing) dan informasi (information) yang diseminasikan mempergunakan sarana multimedia. Masalah di Indonesia yang paling utama adalah bagaimana memecahkan masalah kesenjangan digital yang masih sangat besar dengan menumbuh-kembangkan inovasi atau teknopreneur industri telematika. Technopreneurship atau wirausaha teknologi merupakan proses dan pembentukan usaha baru yang melibatkan teknologi sebagai basisnya, dengan harapan bahwa penciptaan strategi dan inovasi yang tepat kelak bisa menempatkan teknologi sebagai salah satu faktor untuk pengembangan ekonomi nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusaha bidang teknologi (Technopreneur), khususnya teknologi informasi (TI) membutuhkan adanya kebebasan dalam berinovasi, tanpa harus terkekang oleh regulasi yang malah menghambat. Semakin pemerintah mengendurkan ketatnya regulasi yang mengatur gerakan grass root komunitas TI di Indonesia, maka akan memberikan dampak positif berupa tumbuhnya TI itu sendiri dan juga aspek bisnisnya. Hal ini sangat penting karena dilandasi pengalaman di lapangan, di mana seringkali terjadi benturan antara kepentingan badan usaha sebagai unit bisnis yang menuntut untuk selalu bersikap dan berperilaku sebagai wirausahawan dan melakukan perubahan-perubahan, menyesuaikan antara fakta yang ada dengan tuntutan perubahan serta memperbesar usaha, tetapi di sisi lain ada kepentingan-kepentingan Pemerintah yang mungkin saja berlawanan dengan kepentingan sebagai suatu unit bisnis. Padahal dalam technopreneurship diperlukan semangat kompetisi yang dominan, agar tidak tertinggal dari turbulensi bisnis global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu yang panjang, ilmu pengetahuan ditempatkan pada “kotak” tersendiri secara eksklusif, seolah-olah diasingkan dari kegiatan ekonomi. Dunia ilmu pengetahuan atau kita sebut dengan pendidikan, dianggap bukan menjadi bagian dari suatu sistem ekonomi. Dunia pendidikan dipandang sebagai suatu dunia tersendiri tempat dibangunnya nilai-nilai luhur, sementara dunia ekonomi dipandang sebagai dunia yang penuh dengan kecurangan, ketidakadilan, bahkan seolah dunia tanpai nilai (value). Cara pandang yang dikotomis tersebut, dalam kurun waktu yang lama belum dapat terjembatani secara baik. Masing-masing pihak lebih mementingkan dan meng claim sebagai pihak yang paling benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu kita ketahui adalah bahwa dalam era ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan, pendidikan merupakan wujud dari keberhasilan pembangunan nasional suatu negara. Bahkan pendidikan dapat menjadi keunggulan daya saing suatu negara. Dengan kata lain, pendidikan memegang peran strategis dalam memajukan ekonomi bangsa. Dan hal ini telah dibuktikan oleh negara-negara industri baru seperti Singapore, Taiwan dan Malaysia, di mana dengan membangun sarana dan prasarana pendidikan secara serius dalam sepuluh tahun terakhir, kualitas kehidupan bangsa-bangsa tersebut terus meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Indonesia ?. Selama berpuluh tahun, pendidikan dijadikan alat politik penguasa, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Akibatnya pendidikan berjalan lamban (too slow), sehingga tidak dapat mengejar tuntutan perubahan. Pendidikan belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perubahan yang terjadi atau masih sangat sedikit (too little). Bahkan pendidikan seringkali terlambat (too late) dalam mengadaptasi perubahan, sehingga pendidikan tertinggal dan belum mampu menjawab tantangan masa depan. Faktor penyebabnya adalah karena kebijakan yang ada disamping tambal sulam, juga dibuat secara tergesa-gesa. Bahkan pemerintah dinilai belum memiliki visi dan komitmen yang jelas tentang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga dapat dikatakan bahwa Indonesia baru dan sedang melakukan perubahan orientasi pendidikan dari pendidikan yang berbasis akademis kepada pendidikan yang berbasis kompetensi. Disinilah pokok bahasan tentang technopreneurship tersebut perlu dikembangkan. Memang tidak mudah untuk dilaksanakan, namun menjadi sebuah tantangan bagi kita untuk memajukan bangsa ini pada masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         ___________&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tata Sutabri S.Kom, MM&lt;/b&gt; --     &lt;i&gt;Deputy Chairman of STMIK INTI INDONESIA,  Pemerhati Dunia Pendidikan TI&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-4446041589188750686?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/4446041589188750686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2010/01/technopreneurship-inkubator-bisnis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/4446041589188750686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/4446041589188750686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2010/01/technopreneurship-inkubator-bisnis.html' title='TECHNOPRENEURSHIP : Inkubator Bisnis Berbasis Teknologi'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-6813607047528194379</id><published>2009-12-11T12:54:00.002+07:00</published><updated>2009-12-11T12:58:51.323+07:00</updated><title type='text'>Pustaka Sekolah Merupakan Gudang buku rongsokan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SyHfkab9tII/AAAAAAAAAFs/PXfOMogYQbU/s1600-h/buku+bekas.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 143px; height: 107px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SyHfkab9tII/AAAAAAAAAFs/PXfOMogYQbU/s400/buku+bekas.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413854043740943490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Marjohan&lt;br /&gt;Guru SMA Neg 3 Batusangkar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RATA-RATA pustaka sekolah dikelola secara serampangan karena disebabkan banyak faktor. Dalam suasana sekolah dua shift dengan jam istirahat sangat kasib membuat murid-murid enggan untuk berkunjung ke pustaka. Sebab mereka tidak memiliki waktu yang cukup untuk membolak balik buku dan menilai bacaan-bacaan yang lain. Murid-murid lebih senang untuk menggunakan waktu istirahat yang jumlahnya Cuma beberapa belas menit saja untuk pergi ke kantin atau bersenda gurau untuk sekedar menarik nafas segar di luar pustaka.&lt;br /&gt;Hanya ada segelintir murid saja bila dibandingkan dengan total populasi sekolah. Murid-murid itu pun mengunjungi pustaka karena merasa kebingungan, tidak punya duit lagi untuk pergi ke kantin dan tidak punya teman yang sreg untuk bersenda gurau. Kecuali satu atau dua orang murid saja yang mempunyai niat untuk mengunjingi pustaka.&lt;span id="more-360"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya murid, guru-guru pun jarang terlihat yang mengunjungi pustaka. Kalau ditanya “mengapa” maka jawaban yang paling-paling kita dengar adalah tidak ada waktu atau tidak ada kesempatan. Dan ini adalah sebuah jawaban tradisionil.&lt;br /&gt;Salah satu dari penyebab hilangnya gairah guru dan murid mengunjungi pustaka karena pustaka yang berfungsi tempat koleksi buku-buku ternyata miskin dengan koleksi buku kecuali yang dapat ditemukan di perpustakaan adalah tumpukan buku-buku teks pelajaran dan buku-buku terbitan Pusat Pembukuan Depdikbud dan PN. Balai Pustaka. Seolah-olah perpustakaan sekolah bukanlah tempat gudang ilmu tetapi tepatnya perpustakaan sekolah adalah tong sampah bagi pembuangan buku-buku teks terbitan PN Balai Pustaka dan buku-buku keluaran Pusat Perbukuan Depdikbud.&lt;br /&gt;Kedengarannya amat sinis. Tapi ini adalah kalimat yang dilontarkan oleh seorang petugas pustaka yang merasa putus asa atau frustasi melihat perkembangan pustaka yang tidak pernah menggairahkan. Paling kurang menurut visi petugas pustaka tadi.&lt;br /&gt;Sebetulnya ini adalah suatu kenyataan. Kalau kita mengunjungi beberapa pustaka sekolah, kecuali kalau petugas pustaka menumpuknya dalam gudang, kita akan menemukan deretan buku-buku teks yang diterbitkan pemerintah masih utuh. Dan rata-rata buku-buku itu berdebu dan hampir tidak terawat. Malah ada inisiatif dari petugas pustaka yang suka iseng untuk menjualnya secara kiloan untuk kertas pembungkus teri di tengah pasar. “Sungguh sayang bukan,” katanya, dari pada buku-buku itu ditumpuk atau dibakar maka lebih baik dijual dan uangnya dapat dimanfaatkan untuk pembeli sabun cuci. Sungguh ini merupakan suatu pelecehan atas buku dan ilmu. Apalagi mengingat biaya yang dikeluarkan pemerintah, Depdikbud, tentu berkisar sampai puluhan miliar rupiah dan berakhir dalam bentuk pemborosan dana negara yang amat sia-sia.&lt;br /&gt;Mengapa hal seperti ini bisa terjadi, apakah buku-buku ini diluncurkan tanpa rencana?&lt;br /&gt;Untuk mendapat jawabannya tentu kita dapat menemui berbagai pihak, terutama guru-guru dan petugas pustaka sebagai orang lapangan yang langsung berkecimpung menghadapi buku-buku teks tersebut.&lt;br /&gt;Tampaknya buku-buku keluaran Depdikbud dibuat asal jadi saja, komentar seorang guru Bahasa Indonesia. Bahasa yang digunakan oleh buku-buku paket (buku teks) agak kaku dan penampilannya sangat formal dan tidak sesuai dengan selera murid yang berusia remaja. Untuk buku Bahasa Indonesia, misalnya, tidaklah tepat kalau disusun oleh ahli bahasa saja tetapi juga diikutsertakan unsur dari sastrawan agar bahasa buku ini enak dicerna dan menarik untuk dibaca.&lt;br /&gt;Tampaknya buku-buku keluaran Depdikbud bersifat “teacher-centered”. Maksudnya buku-buku itu musti ditelaah dulu oleh guru dan baru disampaikan uraiannya pada murid. Sering kita dengar murid merasa susah untuk memahami isi buku dan jenuh dengan gaya bahasanya. Melihat sistem belajar orang kita yang cenderung menghafal dan buku mentelaah isi buku maka guru suka memanjakan murid dengan cara meringkaskan isi buku untuk dapat dihafalkan bila ada ujian. Akibatnya jadilah murid-murid ibarat sapi suci agama Hindu di India yang mengunyah-ngunyah kertas berisi tulisan, menelannya dan mengeluarkan dalam bentuk kotoran tanpa pernah singgah di dalam kepala. Begitu pula bagi guru karena tidak menguasai materi pelajaran, membuat keringkasan dan menghafalnya. Akibatnya jadilah guru itu dengan ilmu tua semalam dari murid.&lt;br /&gt;Kebiasaan guru yang suka meringkas isi buku dan mencatatkan kepada murid, secara dikte agar dapat mengefektifkan jam tatap muka atau menyuruh seorang murid mencatatkan di papan tulis sampai tangannya pegal-pegal, membuat buku-buku paket keluaran Depdikbud tetap utuh di perpustakaan. Disamping itu yang membuat buku-buku paket tetap menumpuk di Pustaka adalah rasa acuh tak acuh guru terhadap keberadaan pustaka. Sehingga guru tersebut tidak tahu kalau-kalau buku pendamping buku paket lain, untuk memperkaya wawasan murid, telah datang ke pustaka. Malah kalaupun tahu ada buku baru, banyak guru tidak memperdulikan karena tidak suka bersusah-susah payah. Sehingga kita lihat buku-buku penunjang lain semakin berdebu saja di pustaka.&lt;br /&gt;Hal ini yang membuat guru enggan menggunakan buku paket, dengan akibat menyuruh murid-murid untuk membeli buku-buku pasaran, akibat materi buku paket Depdikbud tidak persis sama dengan isi GBPP sesuai dengan persepsi guru masing-masing atau materi pelajarannya melompat-lompat. Misal, pelajaran yang seharusnya untuk kelas tiga tetapi terdapat pada buku kelas dua.&lt;br /&gt;Masih ada alasan pribadi lain yang membuat buku paket keluaran Depdikbud dan PN. Balai Pustaka terabaikan. Sehingga tetap menumpuk-numpuk di perpustakaan.&lt;br /&gt;Sanggar-sanggar belajar seperti MGMP, LKG, SPKG dan lain-lain adalah ajang mendiskusikan, mana buku-buku yang bermutu, diantara guru-guru peserta sanggar. Maka sering penilaian mereka jatuh kepada buku pasaran sebagai buku, yang berkwalitas karena mudah untuk dicerna sehingga buku paket pemerintah semakin menempati urutan belakang. Barangkali buku-buku pasaran itu laris karena tujuannya komersil maka ia dirancang secara profesional. Apakah dari segi perwajahan buku, ilustrasi, gaya bahasa dan sampai kepada ukuran buku yang menyerupai buku populer karena desainnya menarik. Disamping itu karena dalam sistem kenaikan pangkat sekarang yang memberi penilaian kepada guru yang kreatif membuat buku atau LKS. Maka guru inti yang kreatif dan yang memiliki orientasi kepangkatan dan orientasi ekonomi segera merancang buku apakah dengan cara mengedit, yakni dengan caplok sana caplok sini. Maka jadilah sebuah buku atau LKS yang menarik setelah keluar dari percetakan lokal. Kemudian mereka, guru-guru inti, mempengaruhi guru-guru inti, mempengaruhi guru-guru pengikut sanggar agar sekolah mereka menggunakan buku atau LKS yang ditulis oleh guru-guru inti. Inipun membuat buku paket semakin terpojok kedudukannya.&lt;br /&gt;Alasan kekurangan atau kesulitan ekonomi juga membuat guru-guru bidang studi berbisnis buku dengan cara mengambil buku kepada agen pemasaran buku untuk dijual kepada murid-murid dengan janji bahwa kalau terjual maka keuntungan 20 sampai 30 persen adalah untuk guru bidang studi yang telah berjasa tadi. Suatu keuntungan yang lumayan yang membuat guru dapat tersenyum manis. Tetapi ini dapat menelantarkan buku-buku paket sebagai buku utama.&lt;br /&gt;Pada umumnya buku-buku paket yang menumpuk di perpustakaan sekolah adalah buku-buku paket dalam kurikulum lama. Tetapi sebagian besar, ketika kurikulum lama masih berlaku, buku-buku paket itu telah ada juga yang menumpuk-numpuk dan berdebu di perpustakaan.&lt;br /&gt;Sekarang bagaimana dengan keadaan atau nasib buku-buku paket yang ditulis seusai dengan kurikulum sebelumnya, apalagi bagi buku kurikulum sebelumnya, apalagi bagi buku kurikulum baru, ., ini?&lt;br /&gt;Dari buku-buku paket terbitan PN. Balai Pustaka atau yang diluncurkan oleh Pusat Perbukuan Depdikbud kita telah melihat kemajuan-kemajuan yang sangat berarti. Pada umumnya buku-buku sudah dirancang dengan perwajahan yang cukup menarik dan penjilidan yang cukup kokoh sehingga tidak memungkinkan lagi lembaran halaman buku-buku mudah lepas dan bertebaran. Tetapi dari awal-awal tahun berlakunya kurikulum sebelumnya, apalagi bagi buku kurikulum sebelumnya, apalagi bagi buku kurikulum baru telah terlihat pula gejala bahwa buku-buku ini mengalami nasib serupa dengan buku-buku paket kurikulum lama yakni ditumpuk-tumpuk dalam perpustakaan. Pada hal buku-buku ini dengan modal puluhan miliar rupiah sengaja dirancang untuk membantu orang tua murid dan sekaligus menyukseskan program pengajaran yang telah dirancangkan oleh pemerintah kita. Tetapi sekarang dimana letak salah dan letak penyebabnya.&lt;br /&gt;Karena tujuannya betul-betul komersil maka penerbitan swasta dalam naungan IKAPI, dan sebagian buku-buku yang dipasarkan ada yang telah disahkan oleh Dirjen Dikdasmen, melihat bahwa sekolah-sekolah adalah pasar yang potensial untuk mencari keuntungan. Maka mereka mempelajari kelemahan buku yang diluncurkan pemerintah dan juga mempelajari selera guru dan murid sebagai konsumen mereka.&lt;br /&gt;Seorang penyalur buku pelajaran dari penerbit swasta mengatakan bahwa yang membuat buku-buku keluaran penerbit mereka laris seperti kacang goreng adalah karena adanya kesan “pandangan pertama” terhadap buku-buku yang mereka pasarkan dan kesan ini tidak dimiliki oleh buku paket yang dikeluarkan oleh pemerintah. Kesan buku terbitan non pemerintah yaitu bentuknya pop, mungkin bahasanya adalah bahasa populer dan ukuran disajikan seperti majalah remaja, dan ukuran buku itu cukup tipis sehingga mendatangkan kesan enteng untuk dibaca dan dicerna. Kemudian ditambah dengan unsur pelayanan dari agen pemasaran yang menyebar dan mengunjungi setiap sekolah. Disana mereka mempengaruhi guru-guru bidang studi dan menunjukkan keunggulan buku-buku mereka sehingga membuat guru betul-betul merasakan adanya kemudahan-kemudahan terhadap buku pasaran itu. Misalnya buku pasaran menyajikan uraian, rata-rata dengan cara mengunyah-ngunyahkan materi dan menyuapkannya ke dalam mulut murid, terasa mudah untuk dicerna oleh guru dan murid. Malah tanpa adanya kehadiran guru, murid sendiripun juga dapat melakukan instruksi pelajaran dalam buku pasaran. Betul-betul pendekatannya bersifat “student-centered”. Sedangkan buku terbitan pemerintah memuat uraian yang bersifat umum sehingga murid musti mengerutkan dahi agar dapat memahaminya seorang guru harus meringkaskan isi buku terlebih dahulu. Terasa oleh kita penyajian buku pasaran juga bersifat memanjakan murid atau memanjakan pendidikan yang bersifat menghafal. Sedangkan buku terbitan Balai Pustaka dan Depdikbud lebih mendorong guru dan murid untuk menelaah isi buku dan mengembangkan sikap “menganalisa” dan bukan sikap menghafal.&lt;br /&gt;Kita rasa karena penyebaran buku pelajaran pasaran dikemas secara potensial dengan tujuan komersil yaitu dengan mengirim agen-agen pemasaran sampai menemui setiap guru bidang studi telah dapat mempengaruhi mereka dan membuat mereka berpaling dari buku terbitan Depdikbud. Pada sebuah SMA yang didatangi oleh agen penyaluran buku kita akan dapat melihat transaksi antar guru dan agen untuk mengambil pesanan buku untuk dapat disebarkan pada beberapa kelas dengan jumlah total murid diatas seratus orang dengan janji kelak 20 atau 30 persen keuntungan adalah untuk ibu atau bapak guru. Sementara dihadapkan guru itu sendiri tergeletak onggokan buku paket kurikulum sebelumnya, apalagi bagi buku kurikulum sebelumnya, apalagi bagi buku kurikulum baru yang diterbitkan oleh pemerintah tetapi sebentar lagi bakal masuk atau digusur kembali ke dalam pustaka sebagai tong sampah tempat pembuangan. Ketika ditanya “kenapa buku pasaran atau LKS ini yang dipakai dan buku paket Depdikbud dikembalikan ke Pustaka”. Jawabannya adalah karena LKS atau buku itu lebih tipis dan lebih praktis untuk dipakai dalam proses belajar mengajar di kelas. Tampaknya guru-guru kita ingin mengajar asal enteng saja.&lt;br /&gt;Dapat kita lacak bahwa yang membuat buku paket keluaran Depdikbud terabaikan dan buku pelajaran yang diproduksi oleh swasta begitu laris karena adanya perbedaan dalam pelayanan. Dimana buku swasta langsung datang dipasarkan ke sekolah-sekolah dan melayani guru-guru. Disamping itu ada kalanya karena faktor keterlambatan datang buku-buku paket pemerintah. Dimana tahun pelajaran telah berjalan sekian minggu, dan malah sampai satu bulan, maka buku paket baru datang. Tentu saja kekosongan buku diisi oleh buku swasta meski dengan cara menguras kantong orang tua murid yang rata-rata banyak yang kurang mampu. Dimana mereka harus mengeluarkan uang yang banyak untuk setiap bidang studi di sekolah dan untuk sekian orang anak-anak merasa yang menjadi tanggung jawab mereka.&lt;br /&gt;Kita merasa khawatir kalau-kalau buku paket kurikulum sebelumnya, apalagi bagi buku kurikulum sebelumnya, apalagi bagi buku kurikulum baru . ini mengalami nasib yang sama dengan buku paket Depdikbud dalam kurikulum lama. Maka agar buku paket ini tidak ditumpuk di perpustakaan, sebagai ton sampah, tempat pembuangan buku-buku paket atau buku-buku teks terbitan PN Balai Pustaka dan terbitan Pusat Perbukuan Depdikbud untuk itu kita mohon kepada pihak-pihak yang terkait untuk melakukan antisipasi dalam rangka kita dapat memanfaatkan buku-buku yang telah diciptakan dengan dana besar demi kemajuan bangsa kita ini juga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-6813607047528194379?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/6813607047528194379/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/12/pustaka-sekolah-merupakan-gudang-buku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/6813607047528194379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/6813607047528194379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/12/pustaka-sekolah-merupakan-gudang-buku.html' title='Pustaka Sekolah Merupakan Gudang buku rongsokan'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SyHfkab9tII/AAAAAAAAAFs/PXfOMogYQbU/s72-c/buku+bekas.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-5669257686261982644</id><published>2009-11-25T13:51:00.002+07:00</published><updated>2009-11-25T14:00:44.722+07:00</updated><title type='text'>Pengemasan informasi: Sebuah usaha pendekatan sumber informasi pada pengguna perpustakaan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Oleh: Arif Surachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;h2&gt;PENGERTIAN&lt;/h2&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Secara umum sebetulnya konsep pengemasan informasi masih belum jelas, namun dari berbagai diskusi yang pernah dilakukan berikut beberapa pengertian pengemasan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       Menurut &lt;em&gt;Alan Bunch&lt;/em&gt;, 1984 (dalam &lt;em&gt;Stilwell,&lt;/em&gt; 2004) menggambarkan pengemasan informasi sebagai sebuah pendekatan untuk membantu diri sendiri, menekankan pada permasalahan bahwa layanan informasi adalah memilih informasi yang sesuai, dan memproses ulang informasi tersebut dalam sebuah bentuk yang benar-benar dapat dipahami, mengemas informasi, dan merancang semua bahan ini dalam sebuah media yang tepat bagi pengguna, sehingga mengkombinasikan dua konsep yang melekat dalam istilah pengemasan (yakni memproses ulang dan mengemas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.      Menurut Webster's New World College Dictionary, 1995 menyatakan bahwa "&lt;em&gt;repackaging is to package again in or as in a better or more attractive package&lt;/em&gt;." Jadi dapat dikatakan bahwa pengemasan merupakan sebuah usaha mengemas kembali ke dalam bentuk yang lebih baik dan menarik.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;LATAR BELAKANG MASALAH&lt;/h2&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Melihat pengertian di atas sebetulnya dapat kita lihat bahwa pengemasan informasi adalah sebuah proses untuk mengolah kembali informasi yang ada sehingga mampu ditampilkan ke dalam kemasan yang lebih baik dan siap pakai bagi pengguna dan pencari informasi.  Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, mengapa pengemasan informasi ini penting bagi sebuah layanan perpustakaan terutama bagi pengguna agar lebih "dekat" dengan sumber-sumber informasi yang dibutuhkan? Ada beberapa permasalahan yang dapat dijadikan dasar mengapa pengemasan informasi ini penting:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.            &lt;strong&gt;Banjir Informasi.&lt;/strong&gt; Banyaknya informasi yang ada dari berbagai sumber informasi baik tercetak, non cetak, maupun digital membuat "kebingungan" tersendiri bagi pengguna untuk mendapatkan informasi "terbaik" dan sesuai dengan kebutuhannya. Banyaknya informasi seringkali menjadikan pengguna dihadapkan pada informasi yang tidak sesuai, kandungan informasinya kurang tepat, tidak relevan sampai informasi "aspal", asli tapi palsu yang tidak dapat dipercaya. Untuk itu perlu sebuah tindakan dari perpustakaan untuk mengantisipasi apa yang biasa disebut sebagai &lt;strong&gt;&lt;em&gt;"banjir informasi". &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Pengemasan informasi yang&lt;strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;menghasilkan produk terseleksi adalah salah satu jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.            &lt;strong&gt;Kebutuhan Pemakai Informasi.&lt;/strong&gt; Seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang begitu cepat, maka kebutuhan pemakai informasi juga semakin meningkat, yakni kebutuhan akan informasi yang cepat, tepat dan mudah. Perpustakaan sebagai institusi yang bertanggungjawab kepada transfer informasi ini juga harus dapat melihat fenomena pergeseran orientasi kebutuhan pengguna akan informasi ini, untuk itu perlu dilakukan inovasi berbasis kebutuhan pemakai informasi ini. Pengemasan informasi adalah salah satu bentuk yang dapat dipakai oleh perpustakaan sebagai bentuk inovasi menjawab kebutuhan pemakai informasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.            &lt;strong&gt;Kebutuhan Peningkatan Layanan Perpustakaan&lt;/strong&gt;. Perpustakaan sebagai pusat sumber informasi sudah semestinya dapat meningkatkan pelayanan dari waktu ke waktu, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan tuntutan penggunanya. Perpustakaan yang tidak "mau" meningkatkan dan menyesuaikan layanannya dengan perkembangan global di dunia tentunya akan ditinggalkan oleh penggunanya. Peningkatan layanan perpustakaan ini harus didukung berbagai aspek termasuk kemasan dari informasi yang ingin ditampilkan dan disajikan kepada penggunanya. Untuk itu pengemasan informasi menjadi penting agar pengguna dapat merasakan sebuah peningkatan yang signifikan dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.            &lt;strong&gt;Orientasi Ekonomis&lt;/strong&gt;. Informasi yang tak terbentung dan terus bertambah akan menyebabkan perpustakaan menjadi "gudang" informasi yang apabila tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan pengeluaran biaya yang tidak sedikit.  Penggunapun akan semakin sulit menemukan informasi yang tepat dan uptodate. Untuk itu perlu diambil langkah penghematan (biaya, ruang dan tenaga) diantaranya dapat dilakukan melalui pengemasan informasi. Secara ekonomis, hasil kemas informasi merupakan produk yang sangat mungkin untuk dijual kepada khalayak umum dengan segmentasi tertentu, sehingga membuka peluang usaha bagi perpustakaan. Selain itu pengguna akan menghemat banyak waktu, tenaga dan biaya untuk sekedar mendapatkan informasi yang sesuai, mudah, cepat dan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat permasalahan di atas terkait satu dengan lainnya sehingga tidak dapat dipisahkan. Satu dengan lainnya akan membawa kepada sebuah sinergitas dalam menentukan arah dan langkah dalam penyajian informasi yang lebih baik demi kepentingan bersama. Hal ini juga akan berpengaruh pada bentuk penyajian informasi seperti apa yang layak dilayankan saat ini di perpustakaan. Kemasan informasi sendiri harus dapat memberikan nilai lebih bagi informasi itu sendiri. Informasi dikatakan mempunyai nilai (menurut Djatin) apabila diukur dari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·         Mampu menurunkan biaya penelitian, pengembangan dan pelaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·         Menghemat waktu, sehingga implementasi dan inovasi bisa lebih cepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·         Membuat kebijakan lebih efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·         Mendukung ke arah pencapaian tujuan/sasaran strategis organisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·         Mengatasi Ke-ketidaktahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·         Memuaskan manajemen dan pemakai&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;BENTUK PENGEMASAN INFORMASI&lt;/h2&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan analisa ketiga hal dalam permasalahan di atas maka selanjutnya perpustakaan dapat menentukan sejauh mana bentuk kemasan informasi tersebut harus diwujudkan. Berikut adalah beberapa contoh bentuk kemasan informasi yang ada sampai saat ini dan relevan digunakan bagi pengguna perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·         &lt;strong&gt;Publikasi Cetak.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Pengemasan informasi biasanya dapat juga diwujudkan dalam bentuk publikasi cetak seperti Brosur, Newsletter, Prosiding, Indeks Majalah, Indeks Artikel, Kumpulan Artikel Terpilih, Bibliografi, dan bentuk publikasi terseleksi lainnya. Kemasan dalam bentuk publikasi cetak ini akan sangat membantu pengguna dalam menemukan informasi tercetak yang terpilih sesuai dengan bidang kajian dan kebutuhannya. Sehingga pengguna tidak perlu "membuang" waktu untuk menelusur satu demi satu kebutuhan informasinya dalam "belantara" informasi di perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·         &lt;strong&gt;Media  Audio-Visual. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Informasi juga dapat dikemas dalam bentuk Audio-Visual seperti dalam bentuk Audio-Video Cassette, CD- Interaktif, VCD, DVD, dan bentuk lainnya. Kemasan informasi ini merupakan kemasan yang menarik karena akan mengajak pengguna menggunakan informasi dalam bentuk gambar dan suara.&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·         &lt;strong&gt;Pangkalan Data Lokal.  &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Kemasan informasi juga dapat diwujudkan dalam pangkalan data (database) lokal. Sekitar 2 tahun yang lalu, konsep pangkalan data lokal ini banyak digunakan di Indonesia, terutama dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi ilmiah bagi para pengguna melalui semacam server lokal, baik yang berupa file maupun CD-ROM. Contohnya adalah CD Database ERIC, CD Database Medline, CD-Database Agricola, dan sebagainya.&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·         &lt;strong&gt;Pangkalan Data Online.  &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Saat ini di Indonesia pangkalan data Online sedang mengalami perkembangan yang cukup baik, baik dengan "membeli" kemasan yang sudah jadi, mengambil dari sumber-sumber gratis maupun membangun sendiri. Kemasan informasi dalam bentuk ini telah memberikan kesempatan akses informasi secara lebih luas tidak terbatas dalam perpustakaan. Hal ini berkat kemajuan teknologi internet yang mau tidak mau harus diikuti oleh perpustakaan dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi pada penggunanya. Contoh beberapa kemasan informasi siap pakai dalam bentuk pangkalan data online yang diproduksi antara lain EBSCOHost, ProQuest, ScienceDirect, IEEE Database, JSTOR dan lain sebagainya. &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TAHAPAN PENGEMASAN INFORMASI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan sebuah perpustakaan untuk melakukan dan menggunakan kemasan informasi harus diikuti dengan mempersiapkan langkah-langkah yang tepat agar tidak terjadi kesia-siaan. Beberapa langkah yang secara umum dilakukan oleh perpustakaan dalam rangka pengemasan informasi adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Orientasi kebutuhan dan tuntutan pemakai/pengguna informasi di perpustakaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Seleksi dan Penetapan Topik informasi yang akan dikemas. Penetapan dan seleksi ini biasanya akan melibatkan ide-ide dan masukan dari staf ahli, produsen produk kemasan informasi, konsumen produk &amp;amp; jasa informasi, karyawan, dan manajemen puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Menentukan bentuk kemasan informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Penetapan strategi pencarian informasi yang akan dikemas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      Penetapan lokasi informasi dan cara mengaksesnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.      Pengolahan informasi, mengevaluasi, dan mensitir informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.      Mengemas informasi dalam bentuk yang telah ditetapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.      Mengevaluasi produk yang dikeluarkan dan proses pembuatannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus penentuan kemasan informasi dalam bentuk non cetak terutama pangkalan data sering kali tidak semua langkah di atas dilakukan. Hal ini dikarenakan produk dalam bentuk pangkalan data sering kali merupakan produk kemasan informasi yang siap pakai, karena prosedur seleksi informasi dan proses pengolahan hingga menjadi produk sudah dilakukan oleh produsen. Pada kasus ini posisi perpustakaan adalah sebagai user &lt;em&gt;selector&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;user evaluator&lt;/em&gt; saja.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3&gt;DAMPAK EKONOMIS PENGEMASAN INFORMASI&lt;/h3&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pengemasan informasi merupakan bagian dari sebuah usaha ekonomis dari perpustakaan atau penyedia informasi yang juga akan membawa dampak ekonomis bagi perpustakaan /penyedia informasi dan juga masyarakat/pengguna yang memanfaatkannya. Beberapa dampak ekonomis dari adanya pengemasan informasi diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Perpustakaan mampu menyediakan kemasan-kemasan informasi yang siap pakai yang dapat dijual kepada masyarakat/pengguna dengan segmentasi yang telah ditentukan, misal informasi bidang kedokteran yang terkemas akan sangat berguna bagi para praktisi dan pemerhati di bidang kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Banjir informasi yang terus menerus apabila tidak ditangani oleh perpustakaan akan membawa dampak pada pembengkakan cost perawatan dan pengelolaan, sehingga apabila dibandingkan dengan biaya yang dihasilkan dari pemanfaatan informasi akan sangat tidak signifikan. Dengan pengemasan informasi maka perpustakaan dapat menekan biaya (cost) bagi perawatan dan pengelolaan, sekaligus dapat memanfaatkan hasilnya sebagai bentuk layanan  "penjualan informasi" di perpustakaan kepada pengguna yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Bagi pengguna, adanya kemasan informasi ini akan memotong biaya dan juga waktu yang dibutuhkan oleh pengguna dalam mencari, memilih, dan memperoleh informasi yang dibutuhkannya. Hal ini dikarenakan pengguna dengan mudah mendapatkan kemasan informasi yang siap pakai dan disediakan oleh perpustakaan secara mudah, cepat, tepat dan hemat waktu. Misalnya, untuk mendapatkan informasi tertentu di perpustakaan, pengguna cukup mengakses database perpustakaan melalui internet yang menyediakan berbagai koleksi digital hasil kemas informasi di berbagai bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Pengemasan informasi ini merupakan peluang komoditas bagi perpustakaan yang berpotensi sebagai bidang usaha informasi di perpustakaan yang akan mampu menghasilkan pemasukan. Hal ini tentunya akan membantu melepaskan image perpustakaan sebagai "cost institution" menjadi "benefit institution". Artinya perpustakaan tidak lagi dianggap sebagai lembaga yang hanya "menyedot" biaya dan punya ketergantungan terhadap biaya, menjadi perpustakaan yang mampu memberikan keuntungan dan membiayai kegiatannnya sendiri. Misalnya perpustakaan mengeluarkan produk kumpulan artikel dalam bidang X yang dikemas baik menggunakan media digital (CD, Disket, etc) maupun cetak yang dapat dipasarkan (dijual) kepada pengguna dengan segmentasi tertentu (sesuai dengan bidang X tersebut).  Contoh: Perpustakaan Fakultas Kedokteran mengeluarkan produk "Kumpulan Artikel Bidang Kedokteran khusus masalah Flu Burung" yang dapat dijual kepada dokter maupun masyarakat umum yang "konsen" terhadap permasahan flu burung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3&gt;PENUTUP&lt;/h3&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pengemasan informasi ini merupakan usaha dari sebuah perpustakaan atau pusat informasi untuk mendekatkan pengguna kepada sumber-sumber informasi yang relevan, akurat, mudah dan terakses secara cepat. Namun informasi yang terkemas ini tidak akan dapat dimanfaatkan secara maksimal apabila tidak didukung oleh peran tenaga perpustakaan atau pustakawan dalam mensosialisasikan dan juga melakukan pendidikan pemakai perpustakaan. Intinya adalah proses pengemasan informasi tidak selesai begitu saja sampai pada produk terkemas dihasilkan. Akan tetapi juga pada pencapaian tujuan pengemasan informasi tersebut, yakni memberikan informasi yang lebih baik dan menarik bagi pengguna perpustakaan. Jadi perpustakaan akan selalu mempunyai tanggung jawab dan pekerjaan rumah yang besar bagi proses tranformasi informasi yang relevan dan sesuai tuntutan penggunanya dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, pengemasan informasi akan membawa dampak ekonomis yang cukup signifikan baik bagi perpustakaan maupun pengguna. Bahkan saat ini dapat dikatakan bahwa produk hasil kemas informasi merupakan komoditas yang dapat dijadikan alternatif usaha bagi perpustakaan, sehingga informasi tidak berhenti sebagai hal yang akan "menguras" biaya perawatan dan pengelolaan, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan/pemasukan bagi perpustakaan. Penggunapun akan semakin mudah, hemat waktu dan hemat biaya dalam memperoleh informasi yang "instant" dan segera dibutuhkan oleh mereka. Jadi tunggu apa lagi? Kini saatnya anda hadir dalam "bisnis informasi" di era globalisasi informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;Bibliografi&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;Djatin, Jusni., dan Hartinah, Sri. (-). &lt;em&gt;Pengemasan dan Pemasaran Informasi: Pengalaman PDII-LIPI&lt;/em&gt;. Jakarta: PDII-LIPI : &lt;a href="http://www.consal.org.sg/webupload/forums/attachments/2277.doc"&gt;www.consal.org.sg/webupload/forums/attachments/2277.doc&lt;/a&gt; diakses tanggal 20 September  2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Limb, Peter. (2004&lt;em&gt;). Digital Dilemmas and Solutions&lt;/em&gt;. Oxford: Chandos Publishing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neufeldt, Victoria., and Guralnik, David B. (ed). (1995). &lt;em&gt;Webster's New World College Dictionary&lt;/em&gt;. Ohio:  Macmillan General Reference.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stilwell, Christine. (2004). &lt;em&gt;Repackaging information: a review&lt;/em&gt;. &lt;a href="http://www.hs.unp.ac.za/infs/kiad/04stilw.doc"&gt;www.hs.unp.ac.za/infs/kiad/04stilw.doc&lt;/a&gt;. Diakses tanggal 20 September  2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Webb, Sylvia P., dan Winterton, Jules. (2003). &lt;em&gt;Fee-Based Services in Library and Information Centres&lt;/em&gt;. Second edition. London: Europe Publications Limited.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-5669257686261982644?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/5669257686261982644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/pengemasan-informasi-sebuah-usaha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/5669257686261982644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/5669257686261982644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/pengemasan-informasi-sebuah-usaha.html' title='Pengemasan informasi: Sebuah usaha pendekatan sumber informasi pada pengguna perpustakaan'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-5340332518854803902</id><published>2009-11-17T08:17:00.002+07:00</published><updated>2009-11-17T08:23:04.125+07:00</updated><title type='text'>MEMPERCEPAT DISTRIBUSI DAN INFORMASI MELALUI EKSISTENSI PERPUSTAKAAN DIGITAL</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center; line-height: 200%;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Heri Abi Burachman Hakim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center; line-height: 200%;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;ABSTRAK&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Eksistensi teknologi informasi dan komunikasi memberikan dampak bagi semua segi kehidupan. Masyarakat sendiri semakin akrab dan bergantung pada eksistensi perangkat teknologi informasi. Sebagai lembaga yang tumbuh dan berkembang dimasyarakat perpustakaan perlu menyesuaikan diri dengan dinamika yang terjadi masyarakat. Perpustakaan perlu menyesuaikan layanan yang diberikan kepada masyarakat sesuai dengan dinamika masyarakat. Di saat masyarakat akbrab dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi maka perpustakaan perlu mengembangkan layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Salah satu wujud dari layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi adalah dengan pengembangan perpustakaan. Dengan perpustakaan akan mempercepat distribusi informasi serta menyajikan koleksi perpustakaan dalam genggaman masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Kata kunci: Informasi, Digitalisasi, Perpustakaan Digital&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Dinamika masyarakat saat ini terjadi sangat cepat. Hal ini disebabkan karena iklim hidup yang semakin kompetif serta kemajuan teknologi yang terjadi. Kemajuan teknologi memungkinkan masyarakat melakukan rutinitas lebih cepat hingga waktu yang digunakan dapat efektif dan efisien. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Hambatan geografis tidak lagi menjadi masalah utama bagi masyarakat dalam menjalankan rutinitas harian. Masyarakat dapat lakukan aktivitasnya kapanpun dan dimanapun. Sekali lagi, ini dimungkinkan karena kemajuan teknologi informasi memberikan fasilitas melakukan aktivitas tersebut. Untuk berkomunikasi seorang saat ini tidak perlu harus bertatap muka atau berkirim surat yang memakan waktu lama, dalam hitungan detik saat ini masyarakat dapat berkomunikasi dengan menggunakan telepon, telepon seluler dan internet. Perkembangan berbagai teknologi tersebut memungkinkan masyarakat berkomunikasi melalui &lt;em&gt;teleconference&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;chatting&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;e-mail&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Perkembangan teknologi informasi telah mengubah format masyarakat, dari masyarakat dunia lokal menjadi masyarakat dunia global, sebuah dunia yang sangat transparan terhadap perkembangan informasi, mengantarkan masyarakat memasuki sebuah desa besar, dimana masyarakat saling kenal dan menyapa satu sama lainnya(Bungin, 2006: 159). Masyarakat global ini memungkinkan komukasi secara global sehingga komunitas manusia mengasilkan budaya bersama, menghasilkan produk industri bersama, menciptakan pasar bersama, distribusi informasi bersama bahkan mampu menciptakan peperangan dalam skala global di semua lini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Semua lembaga perlu merespon fenomena ini. Baik itu lembaga pemerintahan, bisnis atau lembaga non profit perlu menyesuaikan diri dengan kondisi semacam ini. Berbagai lembaga tersebut mulai menyesuaikan diri dengan mengembangkan layanan berbasis “&lt;em&gt;e-&lt;/em&gt;”. Lembaga pemerintah telah merespon kondisi ini dengan menerapkan &lt;em&gt;e-government&lt;/em&gt;, lembaga bisnis merespon dengan menerapkan &lt;em&gt;e-bisnis&lt;/em&gt;, sedangkan lembaga pendidikan merespon dengan mengerapkan &lt;em&gt;e-learning&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;e-education&lt;/em&gt;. Berbagai layanan baru tersebut sebagai bentuk respon atas dinamika yang terjadi dimasyarakat menjadikan internet dan teknologi jaringan komputer sebagai tulang punggungnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Sebagai bagian dari masyarakat maka perpustakaan perlu merespon kondisi yang sedang terjadi dimasyarakat. Ketika masyarakat menginginkan segala sesuatu berjalan dengan cepat maka perpustakaanpun perlu meresponnya. Perkembangan teknologi informasi yang membawa perubahan dimasyarakat juga perlu direspon oleh perpustakaan. seperti apa respon perpustakaan terhadap dinamika yang terjadi dimasyarakat akan coba dibahas dalam tulisan dibawah ini&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Pembahasan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Informasi Sebagai Produk Layanan Perpustakaan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Perpustakaan memeliki beberapa jenis layanan yang disediakan bagi pengguna perpustakaan. Akan tetapi dari berbagai layanan tersebut, sebenarnya hanya ada satu produk yang dilayanankan kepada masyarakat. Perpustakaan hanya membungkus produk tersebut menjadi berbagai jenis layanan. Produk yang menjadi inti dari layanan perpustakaan adalah informasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Informasi saat ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Bahkan informasi menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan seseorang atau lembaga. Mereka akan sukses apabila mampu mengelohan dan memanfaatkan informas yang tersedia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Informasi adalah nilai yang lebih tinggi dari data. Data merujuk pada fakta-fakta baik berupa angka-angka, teks, dokumen, gambar, bagan, suara yang mewakili deskripsi verbal atau kode tertentu. Apabila Informasi telah disaring dan diolah selalui suatu sistem pengolahan sehingga memiliki arti dan nilai bagi seseorang maka data itu berubah menjadi Informasi (Kumorotomo dan Margono, 1998: 10).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Dari definisi tersebut maka informasi dapat dianologikan sebagai pengetahuan, karena&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;pengetahuan memberikan manfaat bagi orang yang memilikinya. Dalam dunia perpustakaan yang dilayankan perpustakaan adalah informasi karena didalam buku atau koleksinya lainnya di perperpustakaan terekan informasi dan ilmu pengetahuan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Akan tetapi saat ini dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang menyebabkan terjadinya ledakan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;data dan informasi. Disini informasi dan data akan berserakan layakanya sampah. Dan ini menjadi tugas pengelola perpustakaan &lt;span&gt; &lt;/span&gt;mengolah data untuk menjadi informasi dan informasi yang telah diolah akan menjadi ilmu pengetahuan (Sutarno NS,2005: 65). Selanjutnya ilmu pengetahuan tersebut didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Mobile&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;dan &lt;em&gt;Wireless Technology&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Kemajuan teknologi memberikan kemudahan bagi manusia. Untuk berkerja atau berkomunikasi, seseorang tidak perlu datang langsung kekantor atau bertatap muka satu sama lain. Semua dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun. Untuk berkerja seseorang dapat bekerja melalui internet sehingga tidak perlu datang kekantor. Sedangkan untuk berkomunikasi seseorang dapat menggunakan telepon.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Berbagai produk teknologi informasi dan komunikasi terus berkembang. Saat ini perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memasuki &lt;em&gt;era mobile technology &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;wireless technolgy&lt;/em&gt;. Era mobile technology adalah masa dimana produk-produk teknologi informasi dapat dibawa dan dimanfaatkan kapanpun dan dimanapun. Sedangkan untuk wireless technology adalah teknologi tanpa kabal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Saat ini komunikasi masyarakat semakin dipermudah dengan keberadaan telepon seluler atau Personal Digital Assiten (PDA). Dimanapun seseorang dapat berkomunikasi tanpa bergantung pada jaringan kabel telpon yang disediakan PT Telkom. Munculnya berbagai operator telepon seluler semakin memudahkan masyarakat dalam berkomunikasi.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Untuk perkembangan teknologi komputer dan jaringan saat ini telah mencapai masa teknologi &lt;em&gt;wireless&lt;/em&gt;. Teknologi ini memungkinkan seseorang terkoneksi internet tanpa harus terhubung dengan kabel jaringan, dengan menggunakan komputer yang memiliki fasilitas &lt;em&gt;wireless&lt;/em&gt; dan berapa pada area &lt;em&gt;hotspot&lt;/em&gt; memungkinkan seseorang terkoneksi kedalam jaringan internet. Teknologi &lt;em&gt;wireless&lt;/em&gt; semakin memudahkan komunikasi antar komputer&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Ilustrasi diatas merupakan contoh dari produk &lt;em&gt;mobile&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;wireless technology&lt;/em&gt;. Dan perkembangan kedua teknologi tersebut memberikan pengaruh terhadap budaya dan gaya hidup masyarakat. Masyarakat menjadi masyarakat yang menginginkan segalanya disajikan secara cepat dan tepat. Hal ini dikarenakan masyarakat telah dimanjakan oleh perkembangan teknologi yang memungkinkan segalanya disajikan dan didapatkan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;secara mudah dan cepat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Harga-harga perangkat &lt;em&gt;mobile technology&lt;/em&gt; yang semakin terjangkau menyebabkan pemanfaatan perangkat &lt;em&gt;mobile technology&lt;/em&gt; menjadi gaya hidup sekaligus kebutuhan bagi masyarakat indonesia. Saat ini dapat dilihat bagimana masyarakat sangat tergantung pada telepon seluler &lt;span&gt; &lt;/span&gt;sebagai alat komunikasi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Berbagai produk teknologi informasi dan komunikasi diatas merupakan sarana untuk distribusi informasi, dan sebagai lembaga yang produk layanannya adalah informasi maka perpustakaan tentu &lt;span&gt; &lt;/span&gt;berubah. Perubahan ini diperlukan untuk mendekatkan perpustakaan dengan pengguna serta memenuhi tuntutan pengguna perpustakaan agar perpustakaan mampu beradaptasi dengan dinamika yang terjadi.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Dengan perubahan ini tingkat akses masyarakat terhadap layanan perpustakaan akan semakin meningkat.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Perpustakaan perlu mendesain layanan yang mampu mempercepat distribusi&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;informasi bagi pengguna perpustakaan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Perpustakaan dalam Genggaman Tangan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Perkembangan mobile dan wireless technology tentu perlu direspon perpustakaan. Ketika masyarakat indonesia menjadi masyarakat “mobile” maka waktu mereka untuk mengakses perpustakaan secara langsung semakin terbatas. Dalam kondisi seperti ini perpustakaan perlu mendesain layanan yang mampu mendekatkan layanan perpustakaan kepada pengguna walaupun perpustakaan jauh secara fisik dari pengguna. Apabila hal ini tidak dilakukan perpustakaan, mungkin perpustakaan akan ditinggalkan oleh masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Jika berkunjung kebeberapa caffe atau mall di yogyakarta serta berkeliling ke berbagai fakultas yang ada di lingkungan kampus Universitas Gadjah Mada, maka dapat dilihat mahasiswa yang sedang mengakses internet dengan menggunakan laktop atau PDA.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Melihat fenomena diatas serta akrabnya masyarakat dengan perangkat-perangkat &lt;em&gt;mobile techonology&lt;/em&gt; seperti internet, PDA dan telepon seluler maka perpustakaan dapat mendesain layanan berbasis web. Layanan berbasis web ini memungkinkan pengguna mengakses layanan perpustakaan kapanpun dimanapun. Dengan perangkat &lt;em&gt;mobile techology&lt;/em&gt; hal ini tentu mungkin dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Konsep layanan berbasis web ini tidak hanya sebatas perpustakaan memiliki sebuah website. Saat ini banyak telah perpustakaan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;memiliki website. Akan tetapi selama ini kebanyakan website perpustakaan tersebut hanya difungsikan sebagai sarana publikasi atau katalog online sebuah perpustakaan. seharusnya eksistensi website perpustakaan juga dimanfaat sebagai digital library sehingga perpustakaan dapan diakses selama 24 jam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Layanan berbasis web yang dimaksudkan disini adalah optimalisasi website perpustakaan dalam memberikan layanan kepada pengguna perpustakaan. Pengguna dapat mendapatkan layanan apapun yang mereka butuhkan melalui website perpustakaan. Misalnya untuk ngetahui status suatu koleksi ada atau sedang pinjam, memesan buku yang dibutuhkan dapat melalui website perpustakaan Untuk mewujudkan hal ini maka sistem informasi perpustakaan perlu terintegrasi dengan web perpustakaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Website perpustakaan tersebut nantinya juga akan difungsikan sebagai perpustakaan digital. Melalui website yang dimiliki perpustakaan dapat menyajikan koleksi yang dimilikinya kepada pengguna perpustakaan. Dengan usaha ini maka pengguna tidak perlu berkunjung ke perpustakaan. Cukup dengan mengakses website perpustakaan dengan laktop atau komputer desktop mereka dapat menikmati koleksi digital perpustakaan untuk menunjang aktivitasnya. Dengan demikian maka perpustakaan seolah-olah berada dalam genggaman mereka. Bahkan di era mobile techology semacam ini tampaknya perpustakaan digital merupakan format ideal perpustakaan yang diimpikan masyarakat. Dimanapun dan kapapun mereka dapat mengakses layanan serta koleksi yang dimiliki perpustakaan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Melalui website ini pula perpustakaan dapat membuka layanan pesan koleksi, perpanjangan atau layanan &lt;em&gt;delivery service&lt;/em&gt;. Sehingga apabila satu buku telah masuk daftar pesanan maka tidak dapat dipinjam oleh pengguna lain serta apabila tidak memiliki waktu untuk datang ke perpustakaan pengguna dapat memanfaatkan layanan &lt;em&gt;delivery service&lt;/em&gt; agar perpustakaan mengantarkan buku yang dipesannya di posisi dia berada, atas layanan ini tentu pengguna perpustakaan dikenai biaya tersendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Selain itu, teknologi telepon seluler juga dapat dimanfaatkan dalam menunjang layanan berbasis web. Caranya, pengguna perpustakaan dapat memesan buku, cek status buku atau meminta layanan &lt;em&gt;delivery service&lt;/em&gt; buku melalui telepon seluler yang mereka miliki. Perkembangan teknologi telepon seluler dan software komputer memungkinkan melalukan hal tersebut. Saat ini untuk memesan tiket pesawat terbang atau melakukan transaksi perbankan cukup dilakukan dengan menggunakan telepon seluler tanpa harus datang langsung ke perpustakaan dan mengapa perpustakaan tidak mampu menerapkan konsep ini dalam layanan perpustakaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Dengan layanan berbasis web ini mungkin akan menurutkan tingkat kunjungan pengguna perpustakaan ke perpustakaan, akan tetapi akan meningkatkan akses pengunjung terhadap layanan yang disediakan perpustakaan. Pengguna perpustakaan akan semakin dekat dengan perpustakaan dan dengan mudah dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan setiap saat. Perpustakaan seolah-olah berada dalam genggaman tangan pengguna perpustakaan, karena hanya dengan mengoperasikan berbagai produk teknologi informasi dan komunikasi yang ada dalam genggaman tangan mereka, masyarakat dapat menikmati layanan perpustakaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Koleksi Digital sebagai Kebutuhan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Untuk realisasi konsep layanan diatas maka sudah saatnya perpustakaan membangun koleksi digital. Fungsi koleksi digital ini sebagai pelengkap koleksi tercetak yang dimiliki perpustakaan. Kedua jenis koleksi ini diharapkan mampu menjembatani kebutuhan dua kelompok pengguna perpustakaan yang berbeda, yaitu mereka yang lebih aktif memanfaatkan koleksi tercetak serta menyediakan kelompok yang tidak memiliki banyak waktu untuk mengakses langsung perpustakaan dan mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengakses koleksi digital perpustakaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Perpustakaan perlu menghimpun koleksi digital. Ada 2 cara yang dapat dilakukan untuk menghimpun koleksi digital yaitu dengan melakukan proses digitalisasi&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;koleksi atau mencari koleksi digital yang tersebar di dunia maya atau internet. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Digitalisasi koleksi merupakan adalah proses digitalisasi dokumen, informasi dan koleksi lainya sehingga berwujud dokumen digital (Suprihadi, 2005; 2). Dengan kata lain digitalisasi berarti melakukan konversi dari koleksi tercetak menjadi koleksi digital maka ada berbagai sarana yang dibutuhkan perpustakaan. Proses konversi ini adalah usaha untuk Sarana tersebut dapat berupa perangkat keras maupun perangkat lunak. Perangkat keras yang dibutuhkan meliputi komputer lengkap dengan scanner, sedangkan untuk kebutuhan perangkat lunak proses digitalisasi membutuhkan program adobe acrobad. Adobe acrobad merupakan program yang familiar digunakan untuk konversi dalam format digital. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Cara kedua yaitu memanfaatkan internet sebagai sarana untuk menghimpung koleksi digital. Cara ini merupakan cara yang efektif dan efisien. Efektif disini dimaksudkan bahwa dengan memanfaatkan internet koleksi digital dapat diperoleh secara cepat dan tepat. Sedangkan efisien disini dimaksudkan bahwa koleksi digital tersebut diperoleh secara cepat dan tidak membutuhkan biaya yang besar. Di dunia internet tersedia banyak jurnal on-line atau elektronik, makalah atau &lt;em&gt;e-book&lt;/em&gt;. Apabila perpustastakaan mampu melakukan langkah ini maka distribusi informasi bagi mereka yang membutuhkan dapat dilakukan secara cepat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Konsep &lt;em&gt;Open Content&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Perpustakaan digital yang menjadikan website sebagai sarana layanannya merupakan format perpustakaan yang ideal bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi seperti saat ini. untuk mengakses layanan dan koleksi perpustakaan, mereka tidak perlu mengakses perpustakaan secara fisik, cukup dengan mengakses website perpustakaan kebutuhan informasi pengguna perpustakaan akan segera diperoleh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Akan tetapi untuk membangun perpustakaan digital bukan tanpa masalah. Salah satu masalah besar yang terkait dengan realisasi perpustakaan digital adalah masalah hak cipta. Sampai saat ini hak cipta menjadi momok dalam melakukan kegiatan digitalisasi. Perpustakaan tentu tidak ingin kasus digitalisasi koleksi beberapa perpustakaan oleh google yang mendapat protes keras dari penerbit karena dianggap melanggar hak cipta terulang lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Untuk itu dalam kegiatan digitalisasi koleksi, perpustakaan harus memiliki batasan yang jelas mengenai koleksi yang aman untuk digitalasi atau tidak. Perpustakaan tentu tidak ingin dituntut penerbit karena dianggap melanggar hak cipta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Untuk itu koleksi yang didigitalisasi adalah koleksi yang berlabel “Open Content”. Dalam dunai penulisan saat ini dikenal konsep baru yaitu &lt;em&gt;open content, &lt;/em&gt;konsep ini berusaha untuk memfasilitasi pembuatan “content” yang berkualitas dan dapat tersedia secara gratis (Rahadjo, 2000: 2). &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Open content &lt;/em&gt;merupakan gerakan seperti &lt;em&gt;open source&lt;/em&gt; yang memberikan kebebasan orang menggunakan produk-produknya tanpa harus takut terjerat undang-undang hak cipta. Open content memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk memanfaatkan tulisan atau informasi yang ada dalam sebuah karya. Mereka bebas menggunakannya bahkan menggandakannya.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Atau dengan katalain digitalisasi koleksi yang berlabel&lt;em&gt; open content &lt;/em&gt;tidak akan menimbulkan masalah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Sedangkan untuk terbitan atau buku-buku yang berlabel hak cipta maka perpustakaan tidak perlu mendigitalkan koleksi tersebut kecuali ada izin dari penulis karya tersebut. Selain itu untuk publikasi lokal (&lt;em&gt;grey literature&lt;/em&gt;) yang disumbangkan oleh pengguna perpustakaan, perpustakaan dapat meminta izin terlebih dahulu kepada pengguna yang menghibahkan karyanya tersebut agar perpustakaan diberikan izin untuk mendigitalkan karya yang telah disumbangkannya ke perpustakaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Sampai saat ini belum ada pembahasan yang jelas mengenai digitalisasi dan hak cipta, untuk itu perputakaan perlu berhati-hati Usaha ini dilakukan agar perpustakaan proses digitalisasi koleksi perpustakaan tidak tergolong sebagai salah satu kategori pelanggar hak cipta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Perubahan Pola Kerja&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Di era &lt;em&gt;mobile technology &lt;/em&gt;seperti saat ini, membawa perubahan atas pola kerja serta oritentasi kerja perpustakaan. Pola kerja perpustakaan tidak hanya berorientasi pada layanan konvensional, akan tetapi mulai berubah ke orientasi layanan berbasis teknologi informasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Pustakawan tidak hanya sibuk mengurus kartu katalog, memasang kelengkapan buku atau masih banyak lagi kegiatan konvensional lainnya. Pustakawan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;akan semakin dengan kegiatan analisis informasi, digitalisasi koleksi, serta publikasi koleksi digital perpustakaan melalui website perpustakaan. Analisis informasi disini mencakup kegiatan analisis ribuan informasi yang tersebar di internet, pustakawan mulai mengklasifikasi informasi yang dibutuhkan pengguna kemudian menyusun metadata atas informasi tersebut sehingga memudahkan proses temu kembali informasi. Kegiatan digitalisasi meliputi kegiatan alih media dari dokumen tercetak menjadi dokumen digital, pustakawan dapat menggunakan &lt;em&gt;scanner&lt;/em&gt; sebagai perangkat keras dan &lt;em&gt;adobe acrobat&lt;/em&gt; sebagai perangkat lunak yang digunakan untuk mendigitalisasi koleksi perpustakaan. Setelah itu, koleksi digital tersebut disajikan dalam website perpustakaan sehingga dapat diakses oleh masyarakat yang semakin bermobilitas tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Untuk itu profil pustakawan kedepan adalah pribadi yang komunikatif, berkemampuan berpikir kritis, mampu mengaplikasikan serta senantiasa mengikuti perkembangan teknologi informasi. Pustakawan tidak hanya dibekali dengan ilmu manajemen perpustaan serta pengolahan bahan pustaka, akan tetapi pustakawan juga perlu melengkapi dirinya dengan kemampuan dibidang teknologi informasi. Sudah saat pustakawan belajar menggunakan aplikasi desain website seperti macromedia dreamweaver, php sebagai &lt;em&gt;scripting&lt;/em&gt; serta mysql sebagai database. Pengetahuan tersebut diperlukan agar pustakawan mampu mendesain website perpustakaan, bahkan dapat mendesain program automasi perpustakaan.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Dengan keterampilan seperti ini maka pustakawan dapat mendesain perpustakaan masa depan tanpa harus bergantung pada orang-orang yang bergerak dibidang teknologi informasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 28.05pt; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Mobilititas masyarakat yang semaking tinggi serta perkembangan &lt;em&gt;mobile technology&lt;/em&gt; menghembuskan angin perubahan bagi perpustakaan. Perubahan ini mutlak dilakukan agar perpustakaan tidak ditinggalkan oleh masyarakat, karena di era semacam ini muncul banyak lembaga-lembaga alternatif menyediakan informasi bagi masyarakat. Langkah-langkah yang perlu dilakukan perpustakaan dalam upaya pembenahan ini adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Menanamkan kepada setiap pustakawan tentang konsep perpustakaan kedepan sehingga setiap pustakawan dapat mempersiapkan diri dalam usaha menuju perpustakaan masa depan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Pustakawan perlu melengkapi dirinya dengan keterampilan dibidang teknologi informasi karena kedepan teknologi informasi tidak dapat dipisahkan dari dunia perpustakaan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Saat ini kualifikasi SDM yang dibutuhkan perpustakaan adalah mereka yang memiliki kemampuan berbahasa internasional, berpikir kritis serta mampu mengaplikasikan perangkat teknologi informasi dan komunikasi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Perpustakaan perlu mendesain layanannya berbasis web      sehingga dapat diakses oleh masyarakat di era &lt;em&gt;mobile technology&lt;/em&gt; saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Perpustakaan dapat membuka layanan &lt;em&gt;delivery service&lt;/em&gt; guna membantu anggota perpustakaan yang tidak      dapat datang langsung ke perpustakaan untuk meminjam buku yang dibutuhkan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Dalam kegiatan digitalisasi koleksi perpustakaan perlu mempertimbangkan masalah hak cipta yang melekat pada koleksi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: Arial;"&gt;Daftar Pustaka &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Arif, Ikhwan. “Konsep dan Perencanaan dalam Automasi Perpustakaan”&lt;span&gt;   &lt;/span&gt;Makalah Seminar dan Workshop Sehari “ Membangun Jaringan Perpustakaan Digital dan Otomasi Perpustakaan menuju Masyarakat &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Berbasis Pengetahuan “ UMM 4 Oktober 2003&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-left: 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Buxbaum, Shari, (Ed.). 2004. &lt;em&gt;Library Service: Perpustakaan Virtual untuk Kuliah Bisnis Sistem Jarak Jauh, Tren yang Berkembang Saat ini&lt;/em&gt;. Jakarta: Muari Kencana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-left: 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Bungi, M. Burhan. 2006.&lt;em&gt; Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat&lt;/em&gt;. Jakarta: Kencana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-left: 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Kumorotomo, Wahyudi dan Subandono Agus Margono. 1998. &lt;em&gt;Sistem Informasi Manajemen&lt;/em&gt;. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-left: 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Nugroho, Bunafit. 2004. &lt;em&gt;Aplikasi Pemrograman Web Dinamis dengan PHP dan MySQL: Studi Kasus, Membuat Sistem Informasi Pengolahan Data Buku.&lt;/em&gt;Yogyakarta: Gava Media.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-left: 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pujiyono, Wahyu; Umar, Rusdi dan Sari, Kustanti Arum. 2005. “Sistem Pesanan Pelayan Tiket Via SMS”. &lt;em&gt;Seminar Peran Perguruan Tinggi di Era Mobile Technology&lt;/em&gt;, 27 Agustus Dilaksanakan oleh Universita Ahmad Dahlan, Yogykarta. Hal. 39-44 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-left: 28.05pt; text-indent: -28.05pt;" class="Referensi"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Rahardjo, Budi, “Bisnis Open Source”, Makalah disampaikan pada “National Open Source Workshop &amp;amp; Conference (NOSWOCK 2000)”, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, 25 - 29 September 2000.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-left: 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Sopandi, Dede. 2004.&lt;em&gt; Instalasi dan Konfigurasi Jaringan Komputer&lt;/em&gt;. Bandung: Informatika.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-left: 28.05pt; text-indent: -28.05pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Suprihadi, Eddy. &lt;span&gt;Digitalisasi Informasi Karya Ilmiah dan Perlindungan Karya Intelektual &lt;/span&gt;Makalah ini disampaikan pada seminar: “Online Informasi Resource Sharing dan Digitalisasi Karya Ilmiah di Lingkungan Perguruan Tinggi”.Universitas Malang, 3 Oktober 2005.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-left: 28.05pt; text-align: justify; text-indent: -28.05pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Sutarno NS. 2005. &lt;em&gt;Tanggung Jawab Perpustakaan dalam Mengembangkan Masyarakat Informasi&lt;/em&gt;. Jakarta: Panta Rei.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-5340332518854803902?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/5340332518854803902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/mempercepat-distribusi-dan-informasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/5340332518854803902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/5340332518854803902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/mempercepat-distribusi-dan-informasi.html' title='MEMPERCEPAT DISTRIBUSI DAN INFORMASI MELALUI EKSISTENSI PERPUSTAKAAN DIGITAL'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-7907290632951660894</id><published>2009-11-17T07:58:00.000+07:00</published><updated>2009-11-17T08:11:03.103+07:00</updated><title type='text'>Perpustakaan Digital dan Sistem Informasi Perpustakaan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Dunia perpustakaan semakin hari semakin berkembang dan bergerak ke depan. Perkembangan dunia perpustakaan ini didukung oleh perkembangan teknologi informasi dan pemanfaatannya yang telah merambah ke berbagai bidang. Hingga saat ini tercatat beberapa masalah di dunia perpustakaan yang dicoba didekati dengan menggunakan teknologi informasi.   Dari segi data dan dokumen yang disimpan di perpustakaan, dimulai dari perpustakaan tradisional yang hanya terdiri dari kumpulan koleksi buku tanpa katalog, kemudian muncul perpustakaan semi modern yang menggunakan katalog (index). Katalog mengalami metamorfosa menjadi katalog elektronik yang lebih mudah dan cepat dalam pencarian kembali koleksi yang disimpan di perpustakaan. Koleksi perpustakaan juga mulai dialihmediakan ke bentuk elektronik yang lebih tidak memakan tempat dan mudah ditemukan kembali. Ini adalah perkembangan mutakhir dari perpustakaan, yaitu dengan munculnya perpustakaan digital (digital library) yang memiliki keunggulan dalam kecepatan pengaksesan karena berorientasi ke data digital dan media jaringan komputer (internet). More...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Di sisi lain, dari segi manajemen (teknik pengelolaan), dengan semakin kompleksnya koleksi perpustakaan, data peminjam, transaksi dan sirkulasi koleksi perpustakaan, saat ini muncul kebutuhan akan penggunaan teknologi informasi untuk otomatisasi business process di perpustakaan. Sistem yang dikembangkan dengan pemikiran dasar bagaimana kita melakukan otomatisasi terhadap berbagai business process di perpustakaan, kemudian terkenal dengan sebutan sistem otomasi perpustakaan (library automation system).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;from: /www.pdii.lipi.go.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-7907290632951660894?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/7907290632951660894/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/perpustakaan-digital-dan-sistem.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7907290632951660894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7907290632951660894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/perpustakaan-digital-dan-sistem.html' title='Perpustakaan Digital dan Sistem Informasi Perpustakaan'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-7102017030443807906</id><published>2009-11-04T10:23:00.001+07:00</published><updated>2009-11-04T10:23:38.459+07:00</updated><title type='text'>Peran Perpustakaan Perlu Dioptimalkan</title><content type='html'>&lt;span id="article_body"&gt;&lt;p&gt;Bantul, Kompas - Peran perpustakaan perlu dioptimalkan di era multimedia yang merasuk ke semua penjuru. Perpustakaan tidak lagi diposisikan sebagai gudang buku dengan koleksinya yang terbatas, melainkan harus dimaknai sebagai pusat informasi masyarakat. Karenanya, koleksi perpustakaan yang dimiliki harus multiformat, baik buku maupun file, dengan tambahan akses internet.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Perpustakaan adalah layanan tak terbatas waktu dan ruang. Karena itu, perpustakaan hadir bukan hanya menjaga koleksi dan memberikan akses yang pasif, tetapi memberikan nilai pada informasi dan pengetahuan yang lebih penting," kata Kepala Perpustakaan Kabupaten Bantul Eddy Susanto, Sabtu (24/10).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat ini perpustakaan Bantul belum memiliki koleksi data dalam bentuk file. Namun, ke depan, tengah dibuat persiapan transformasi ke arah multiformat. "Sistem komputerisasi kami awali dari pelayanan peminjaman dan pengembalian buku. Dengan sistem itu, kami dengan mudah bisa mengetahui buku-buku yang belum kembali maupun yang terlambat dalam pengembalian," ujar Eddy.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat ini, perpustakaan juga menyediakan layanan internet gratis. Masyarakat bisa memanfaatkan layanan internet gratis itu untuk mencari informasi yang bermanfaat. "Selain buku, internet bisa menjadi sumber informasi yang praktis karena hampir semua jenis informasi bisa digali dari internet," tutur Eddy. Rak kosong&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jumlah koleksi buku perpustakaan Bantul saat ini berkisar 57.000 buah, yang sebagian besar buku non-fiksi. Tiap tahun pengadaan buku melalui APBD sekitar 3.000 buku, dengan anggaran Rp 100 juta. Buku-buku yang dibeli masih kurang untuk mencukupi rak-rak perpustakaan dan perpustakaan mobil keliling.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Dengan kapasitas yang saat ini ada, pengadaan buku tiap tahun minimal 10.000 buku, dengan nilai anggaran antara Rp 400 juta-Rp 500 juta. Bayangkan, untuk satu unit mobil keliling saja butuh isi sekitar 2.500-3000 buku. Sementara ini, kami ada delapan unit mobil sehingga sisa buku di rak perpustakaan tinggal 9.000 buku," kata Eddy.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Deny (23), seorang pengunjung perpustakaan, mengaku senang dengan kehadiran perpustakaan daerah. Apalagi, pihak perpustakaan tidak menerapkan sistem denda bagi peminjam yang telat mengembalikan bukunya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Saya biasanya ke perpustakaan untuk mencari informasi soal pertanian karena saya masih menempuhkan pendidikan di fakultas pertanian. Ke depan saya berharap bisa mengakses data berupa file dari perpustakaan, seperti di kantor-kantor penelitian dan pengembangan," ucapnya. (ENY)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-7102017030443807906?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/7102017030443807906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/peran-perpustakaan-perlu-dioptimalkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7102017030443807906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7102017030443807906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/peran-perpustakaan-perlu-dioptimalkan.html' title='Peran Perpustakaan Perlu Dioptimalkan'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-1821366636037505703</id><published>2009-11-03T08:52:00.000+07:00</published><updated>2009-11-03T08:53:02.876+07:00</updated><title type='text'>Alamat Internet akan Berubah</title><content type='html'>&lt;b&gt;SEOUL--MI:&lt;/b&gt; Internet akan melakukan perubahan terbesar dengan disetujuinya rencana memberlakukan alamat web menggunakan karakter non-Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan pengatur internet, Icann, memutuskan mengijinkan nama domain menggunakan abjad Arab, China dan abjad lainnya dalam pertemuan tahunan di Seoul, demikian laporan &lt;i&gt;BBC&lt;/i&gt;, Jumat (30/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih setengah dari 1,6 miliar penduduk yang menggunakan internet memakai bahasa dengan abjad non-Latin. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Internationalised Domain Names&lt;/span&gt; (IDNs) yang pertama akan digunakan tahun depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana IDNs disetujui pertama kali dalam pertemuan Juni 2008 namun pengujian sistem telah berlangsung selama dua tahun. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Domain Name System&lt;/span&gt; (DNS) akan diubah sehingga dapat dikenali dan diterjemahkan ke abjad non-Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DNS bertindak seperti buku telepon yang memudahkan memahami nama-nama domain ke dalam angka-angka komputer yang dikenali yang disebut alamat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Internet Protocol&lt;/span&gt; (IP)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-1821366636037505703?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/1821366636037505703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/alamat-internet-akan-berubah.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/1821366636037505703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/1821366636037505703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/alamat-internet-akan-berubah.html' title='Alamat Internet akan Berubah'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-2353106340455603134</id><published>2009-11-03T08:46:00.001+07:00</published><updated>2009-11-03T08:47:44.741+07:00</updated><title type='text'>Perpustakaan Digital Al Quran Pertama di Indonesia Berdiri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/Su-LuLWNYRI/AAAAAAAAAFk/oj6MdMGrR6I/s1600-h/perpus+qurais.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 330px; height: 260px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/Su-LuLWNYRI/AAAAAAAAAFk/oj6MdMGrR6I/s400/perpus+qurais.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399688103676698898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Heru Prihmantoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TANGERANG-MI:&lt;/b&gt; Yayasan Lentera Hati yang dipimpin oleh Husein Ibrahim bekerjasama dengan Yayasan Paguyuban Ikhlas pimpinan Rosano Barack mendirikan digital Library of Al-Quran di Pusat Studi Al-Quran (PSQ) di Ciputat, Tanggerang Selatan, Selasa (20/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pimpinan PSQ Prof Dr M Quraish Shihab, kendati jumlah buku yang terdapat di perpustakaan ini belum banyak yakni sekitar 30.000, namun perpustakaan ini merupakan perpustakaan Al Quran terlengkap yang ada di Indonesia. Juga merupakan satu-satunya perpustakaan Al-quran dan tafsir dalam bentuk cetak dan digital pertama di Indonesia. Selain berisi buku-buku dalam bentuk cetak dan elektronik di komputer, perpustakaan ini juga menyediakan berbagai referensi dalam bentuk elektronik dan audio video.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak-anak sekolah, pelajar, mahasiswa serta pelajar yang tengah mengambil paper atau skripsi kerap memanfaatkan perpustakaan ini untuk keperluan mereka," kata Prof Quraish Shihab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir dalam peresmian perpustakaan tersebut Walikota Tanggerang Selatan M Soleh, sesepuh Tanggerang sekaligus mantan Menteri Koperasi dan UMKM Zarkasih Noor, dan mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, serta Dirjen Bimas Islam Depag Nazaruddin Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walikota Taggerang M Soleh dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas didirikannya Pusat Studi Al-Quran dan perpustakaan tersebut. Sebab, hal itu dapat lebih menegaskan Tanggerang Selatan sebagai kota pelajar sekaligus pusat kegiatan pendidikan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain peresmian perpustakaan, bersamaan dengan itu juga Yayasan juga meresmikan Pondok Pesantren Bayt Al-Quran, yang juga terletak di kawasan Pondok Cabe, Tanggerang Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendirian pesatren tersebut menurut Ketua Yayasan Lentera Hati Husein Ibrahim adalah untuk memberi pengertian lebih dalam terhadap pemahaman Al Quran. Kata Hesein, saat ini bayak orang yang hafal dan bisa membaca Al Quran tetapi tidak didukug oleh pemahaman dan wawasan yang luas. Mereka juga banyak yang berasal dari kalangan ekonomi lemah sehingga diperlukan dukungan agar mereka bisa belajar lebih baik lagi. Selain itu mereka juga dididik untuk meningkatkan ilmu lain di bidang kewirausahaan, manajemen, motivasi pengembangan diri dan ketrampilan terapan lainnya. (Hru/OL-7)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-2353106340455603134?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/2353106340455603134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/perpustakaan-digital-al-quran-pertama.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2353106340455603134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2353106340455603134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/perpustakaan-digital-al-quran-pertama.html' title='Perpustakaan Digital Al Quran Pertama di Indonesia Berdiri'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/Su-LuLWNYRI/AAAAAAAAAFk/oj6MdMGrR6I/s72-c/perpus+qurais.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-7237519292667193535</id><published>2009-11-03T08:41:00.000+07:00</published><updated>2009-11-03T08:42:39.139+07:00</updated><title type='text'>Kondisi SDM Teknologi Informasi</title><content type='html'>Dari berbagai pengamatan, penelitian, dan pengelolaan berbagai project yang telah kami kelola selama ini, baik dalam skala nasional dan internasional, instansi pemerintah dan swasta, banyak hal menarik tentang kondisi sumberdaya manusia ini terutama di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kawan tidak jarang mengeluh tentang Sumber Daya Manusia ini. Keluhan yang datang tidak hanya dari kalangan swasta, namun juga dari kalangan pemerintahan. Pengalaman penulis memantau di bidang pemerintahan misalnya, waktu bertemu dengan salah seorang Gubernur, disana terungkap bahwa untuk salah satu kantor Dinas mereka yang khusus bergerak di dalam telekomunikasi dan Informasi, hanya memiliki satu orang Sarjana dalam bidang teknologi informasi in. Sementara ruang lingkup pekerjaan dari kantor ini adalah untuk seluruh kantor Dinas dan Badan yang ada pada level propinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ketika penulis diminta oleh JICA –Jepang untuk melakukan survey ke beberapa lokasi di Indonesia. Umumnya mereka yang dikunjungi merasa kesulitan untuk mendapatkan sumberdaya manusia handal dari bidang Informatika. Ketika dilihat dari sudut pandang pihak swasta pun demikian sulitnya. Sementara SDM yang mampu untuk suatu bidang tertentu juga bukan main sulitnya menemukan. Bahkan salah seorang kawan, sempat mengatakan, sudah berkali-kali mencoba membuat iklan lowongan, namun yang masuk umumnya adalah mereka yang masih kurang pengalaman, sehingga tidak siap langsung memecahkan masalah yang ada. Sementara pekerjaan sudah mulai menuntut untuk diterapkannya suatu teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa kondisi tentang sumberdaya manusia kita khususnya dalam bidang informatika di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Banyak Tapi Sulit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumberdaya dalam bidang teknologi informasi ini, yang seharusnya dan umumnya berasal dari jurusan Informatika ini fenomenanya memang menarik. Lulusan yang dihasilkan dalam setahun bisa mencapai ribuan. Lulusannya juga tidak sedikit yang menganggur. Sementara di sisi lain, para pencari kerja mengeluhkan susahnya mencari orang-orang yang berhubungan dengan informatika ini. Aneh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kalau ditelaah lebih jauh, ternyata kuncinya yang dicari adalah yang memahami dan bisa mengimplementasikan, bukan yang memiliki gelar saja. Sehingga tidaklah menjadi aneh, karena tidak semua yang menjadi sarjana informatika berkualitas. Beberapa perusahaan baik dari Eropa dan Amerika tidak jarang mengontak penulis mengenai sumberdaya manusia ini. Termasuk mengerjakan pembangunan sistem informasi. Mereka begitu senang dengan orang Indonesia. Kenapa tidak, standar gaji orang Indonesia secara umum dibandingkan dengan standar gaji mereka rendah lumayan rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita coba bandingkan ketika kami dilibatkan dalam pengerjaan salah satu sistem informasi untuk sebuah perusahaan pembuat mobil mewah di Jerman (awal tahun 2000an). Kenapa mereka mau mengerjakannya di Indonesia? Sebagai salah satu pembanding, hitunglah biaya gaji. Kita ambil mata uang dolar aja, ya. Di sana, gaji orang IT berkisar $3500-$5000. Di negara kita? Mm.... sekitar 2 juta – 7juta atau sekitar $222-$777 (kurs dipakai $1=Rp.9000). Bisa dibayangkan, gaji satu orang mereka yang bekerja di sana bisa untuk membayar sekitar 7-8 orang kita. Komunikasi antar negara? Tidak mahal, cukup pakai internet saja...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Orang Komputer&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian yang salah dan sering terjadi adalah pengertian dari istilah “orang komputer” atau ”informatika” yang dipakai masyarakat. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan bahwa seseorang yang dimaksud paham tentang komputer. Paham tentang komputer ini diartikan lebih jauh lagi, bahwa orang yang dimaksud adalah ahli komputer, ahli dalam berbagai hal dalam bidang komputer. Ini salah satu kendala lain dari para informatikawan ketika berada di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita coba memahami hal ini, apakah “ahli komputer” yang dimaksud orang tersebut memang mengerti tentang berbagai hal dalam bidang komputer? Oh, no.. no…! belum tentu ada orang seperti ini, kalau boleh mengatakan selain “sangat jarang”. Ilmu tentang komputer atau teknologi informasi itu luas sekali, memiliki bagian-bagian tersendiri, danmasing-masing itupun memiliki turunan lagi yang lebih spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada istilah menarik, “tau banyak berarti tau sedikit-sedikit, tau sedikit bisa berarti banyak”. Ini adalah statement yang tepat untuk ini. Jika anda mengenal orang yang mengatakan dia tahu segala hal seperti computer network , desain grafis , artificial intelligence , dsb, berarti dia bisa diasumsikan yang dia tahu adalah kulit-kulitnya saja. Apakah dia paham bagaimana mendesain dengan corel draw atau software desain lain? Apakah dia paham cara untuk melakukan manajemen database pada server ? Pahamkah dia bagiamana merancang program dengan menggunakan algoritma? Itu baru sebagian dari dasar masing belum lebih terlalu dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Diakui oleh Dunia Internasional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumberdaya manusia kita yang mendalami bidang teknologi informasi ini termasuk yang diperhitungkan dalam dunia internasional, kenapa tidak, salah satu buktinya pada salah satu lomba yang diadakan oleh google di India pada awal tahun 2005, dimana Indonesia mampu menguasai dua peringkat tertinggi yang dilombakan dalam bidang pemrograman tersebut, sedangkan Amerika menduduki peringkat ke 17. Serta masih banyak lagi kemampuan para informatikawan Indonesia yang tidak bisa dianggap enteng dalam kemampuan daya saing mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, bagi mereka yang merasa memiliki kemampuan untuk bersaing, tidak jarang juga yang bekerja ke luar negeri. Karena kemampuan mereka diakui dengan sertifikasi berkelas internasional yang dikantonginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;div style="font-size: 11px; text-align: justify;"&gt;    ___________&lt;br /&gt;&lt;b&gt;jack Febrian&lt;/b&gt; --     &lt;i&gt;Dosen dan Praktisi Teknologi Informasi di Bandung. Telah menulis beberapa buku, diantaranya Menggunakan Internet, Kamus Komputer dan Teknologi Informasi, Menjelajah Dunia dengan Google, Tentang Pendidikan Tinggi di Indonesia, dll..&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-7237519292667193535?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/7237519292667193535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/kondisi-sdm-teknologi-informasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7237519292667193535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7237519292667193535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/kondisi-sdm-teknologi-informasi.html' title='Kondisi SDM Teknologi Informasi'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-3650537848145447804</id><published>2009-11-03T08:36:00.000+07:00</published><updated>2009-11-03T08:38:52.247+07:00</updated><title type='text'>Perkembangan Teknologi Digital</title><content type='html'>Pada akhir-akhir ini, berbagai perkembangan yang terjadi memang cukup menakjubkan, khususnya dalam bidang teknologi terutama dalam hal informasi dan komunikasi. Teknologi informasi yang tadinya dikenal dengan teknologi komputer, beserta perangkat elektronika lainnya, menjelma menjadi satu dalam perpaduan kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula dengan ditemukannya berbagai perangkat sederhana, mulai dari telepon, yang berbasis analog, maju dan berkembang terus hingga muncul berbagai perangkat elektronika lainnya. Hingga akhirnya teknologi ini terintegrasi satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, akibat perkembangan dari kemampuan teknologi, terjadi juga perubahan yang cukup dramatis di sisi perjalanan dan operasi bisnis, yang menghasilkan pelayanan-pelayanan baru, termasuk dalam hal pemanfaatan jaringan dunia tanpa batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon, yang pada awal ditemukan pada tahun 1876, diniatkan sebagai media untuk mengirimkan suara, dan salah satu penerapan konsep analog, juga memberikan konstribusi yang tidak sedikit terhadap perkembangan teknologi. Sampai dengan sekitar tahun 1960-an, penerapan analog ini masih tetap bertahan, hingga setelah itu, mulai mengarah kepada teknologi digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, teknologi digital yang mulai merambah ke berbagai rancangan teknologi yang diterapkan dan digunakan oleh manusia. Facsimile, adalah salah satu batu loncatan dari pemanfaatan jaringan telekomunikasi, yang mampu memberikan konstribusi dan pemikiran, bahwa datapun mampu untuk dilewatkan melalui media telepon tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan perkembangan komputer. Komputer pertama yang diperkenalkan adalah ENIAC II, diinstalasi dan digunakan pada tahun 1946, setelah perang dunia kedua. Komputer ini merupakan sebuah rangkaian elektronika lampu tabung seberat 20 ton. Perkembangannya juga cukup menakjubkan, baik dalam ukuran dan kemampuan kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ukuran komputerpun, hanya dalam ukuran segenggam tangan. Dengan ukuran sedemikian, berbagai proses mampu diolahnya, tidak hanya untuk melakukan proses yang berhubungan dengan pengolahan perhitungan dan database, tetapi juga mampu dalam hal berkomunikasi dengan pengguna lainnya yang menggunakan perangkat yang tadinya masih merupakan pemisahan dari segi fungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protocol, merupakan salah satu yang memegang peranan kunci disini, sehingga berbagai perangkat dapat berinteraksi satu dengan lainnya. Dengan adanya protocol ini, satu mesin dengan mesin lainnya dapat untuk saling berkomunikasi. Protocol merupakan suatu metoda yang mengakibatkan suatu alat dengan alat lainnya dapat saling berkomununikasi sehingga terjadilah percakapan sehingga akhirnya berjabat tangan (handshaking), dan dapat diibaratkan kesepakatan bahasa antar dua alat, yang mengakibatkan satu sama lainnya mengerti apa yang diperintahkan dan apa yang sedang diolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu perangkat yang dihasilkan dari pabrik yang berbeda, sesuatu yang mungkin untuk ikut berperanan dalam menyemarakkan bidang teknologi informasi dan telekomunikasi ini, sebab dengan protocol yang sama, alat itupun bisa menggabungkan diri menjadi bagian dari berbagai perangkat yang ada. Begitu juga dengan bandwith, sebagai jalur data, compression, codes, dan bits, menjadi tulang punggung yang mendasar, terutama untuk perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan berselang setelah Neil Amstrong melangkah di bulan, terjadi suatu langkah yang besar di UCLA, sewaktu komputer pertama dikoneksikan ke ARPANET. ARPANET mengkoneksikan empat site, diantaranya UCLA, Stanford Research Institute (SRI), UC Santa Barbara, dan University of Utah. Pada tahun 1977, terdapat lebih seratus mainframe dan komputer mini yang terkoneksi ke ARPANET yang sebagian besar masih berada di Universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya fasilitas ini, memungkinkan dosen-dosen dan mahasiswa dapat saling berbagi informasi satu dengan lainnya tanpa perlu meninggalkan komputer mereka. Saat ini, terdapat lebih dari 4.000.000 host internet di seluruh dunia. Sejak tahun 1988, Internet tumbuh secara eksponensial, yang ukurannya kira-kira berlipat-ganda setiap tahunnya. Istilah Internet pada mulanya diciptakan oleh para pengembangnya karena mereka memerlukan kata yang dapat menggambarkan jaringan dari jaringan-jaringan yang saling terkoneksi yang tengah mereka buat waktu itu. Internet merupakan kumpulan orang dan komputer di dunia yang seluruhnya terhubung oleh bermil-mil kabel dan saluran telepon, masing-masing pihak juga dapat berkomunikasi karena menggunakan bahasa yang umum dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apakah yang dimaksud dengan Internet ? Pertama, Internet adalah kumpulan yang luas dari jaringan komputer besar dan kecil yang saling bersambungan menggunakan jaringan komunikasi yang ada di seluruh dunia. Kedua, Internet adalah seluruh manusia yang secara aktif berpartisipasi sehingga membuat Internet menjadi sumber daya informasi yang sangat berharga. Apakah yang mebuat hal tersebut bisa bekerja? Semua adalah karena permainan listrik dan gelombang yang akhirnya diolah sedemikian rupa. Semua berasal dari analog maupun digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;div style="font-size: 11px; text-align: justify;"&gt;    ___________&lt;br /&gt;&lt;b&gt;jack Febrian&lt;/b&gt; --     &lt;i&gt;Dosen dan Praktisi Teknologi Informasi di Bandung. Telah menulis beberapa buku, diantaranya Menggunakan Internet, Kamus Komputer dan Teknologi Informasi, Menjelajah Dunia dengan Google, Tentang Pendidikan Tinggi di Indonesia, dll..&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-3650537848145447804?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/3650537848145447804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/perkembangan-teknologi-digital.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/3650537848145447804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/3650537848145447804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/11/perkembangan-teknologi-digital.html' title='Perkembangan Teknologi Digital'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-7467935956406201077</id><published>2009-10-20T10:41:00.001+07:00</published><updated>2009-10-20T10:41:23.627+07:00</updated><title type='text'>detikcom : Betapa Lengkap dan Nyaman Perpustakaan di Austria</title><content type='html'>title : Betapa Lengkap dan Nyaman Perpustakaan di Austria&lt;br /&gt; summary : Untuk meningkatkan minat baca, Pemerintah Austria membuat perpustakaan senyaman dan selengkap mungkin. Kapan perpustakaan di Indonesia bisa seperti ini?  &lt;a href='http://www.detiknews.com/read/2008/12/03/155754/1047394/10/betapa-lengkap-dan-nyaman-perpustakaan-di-austria'&gt;(read more)&lt;a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-7467935956406201077?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/7467935956406201077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/10/detikcom-betapa-lengkap-dan-nyaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7467935956406201077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7467935956406201077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/10/detikcom-betapa-lengkap-dan-nyaman.html' title='detikcom : Betapa Lengkap dan Nyaman Perpustakaan di Austria'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-211230472184151247</id><published>2009-10-20T10:35:00.001+07:00</published><updated>2009-10-20T10:35:24.948+07:00</updated><title type='text'>detikcom : JK Tinggalkan Rumah Dinas Wapres untuk Selamanya</title><content type='html'>title : JK Tinggalkan Rumah Dinas Wapres untuk Selamanya&lt;br /&gt; summary : Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) telah meninggalkan rumah dinasnya di Jl Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, guna menghadiri pelantikan Presiden dan Wakil Presiden. Dia meninggalkan rumah dinas itu untuk selamanya. &lt;a href='http://www.detiknews.com/read/2009/10/20/094801/1224668/10/jk-tinggalkan-rumah-dinas-wapres-untuk-selamanya'&gt;(read more)&lt;a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-211230472184151247?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/211230472184151247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/10/detikcom-jk-tinggalkan-rumah-dinas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/211230472184151247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/211230472184151247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/10/detikcom-jk-tinggalkan-rumah-dinas.html' title='detikcom : JK Tinggalkan Rumah Dinas Wapres untuk Selamanya'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-3546534429465484763</id><published>2009-10-20T10:05:00.001+07:00</published><updated>2009-10-20T10:07:51.624+07:00</updated><title type='text'>Membangun Perpustakaan Digital : Suatu Tinjauan Aspek Manajemen</title><content type='html'>Oleh : Hermawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;Kecenderungan menggunakan teks secara elektronik terus meningkat dari hari ke hari. Merujuk pengalaman di berbagai perpustakaan (terutama negara-negara maju) menunjukkan bahwa mayoritas pengguna perpustakaan lebih senang menggunakan “electronic format” dari pada teks secara konvensional,(printed materials) khususnya untuk koleksi jurnal (SWEETLAND, 2002 ). Kecenderungan ini tentunya akan merubah model manajemen yang dikembangkan di perpustakaan yaitu dari sistem konvensional&lt;span&gt; &lt;/span&gt;menuju ke sistem yang lebih modern.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span id="more-130"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;Persoalannya adalah bagaimana kita bisa mengembangkan manajemen perpustakaan modern, sementara kondisi objektif perpustakaan di Indonesia rata-rata masih memprihatinkan. Misalnya tentang anggaran yang sangat kecil, kualitas sumber daya manusia yang masih rendah dan sarana dan prasarana yang terbatas.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kondisi ini tentunya tidak menjadikan kita (pustakawan) menjadi pesimistis , tidak bersemangat dan putus asa. Kita harus berusaha untuk mengoptimalkan, baik itu sumber dana, sumber daya manusia dan fasilitas lain yang tersedia, untuk meningkatkan layanan perpustakaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis akan mencoba untuk membahas bagaimana membangun perpustakaan digital dengan melihat kondisi objektif yang ada dilingkungan kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;PENGERTIAN PERPUSTAKAAN DIGITAL&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Di dalam era informasi dimana INTERNET merupakan media yang mudah dimanfaatkan di seluruh pelosok dunia, istilah Digital Library (Perpustakaan Digital), E-Library (Perpustakaan Elektronik), dan Virtual Library (Perpustakaan Maya) mulai sering kita dengar dan menjadi perbendaharaan kosa kata baru dalam bahasa kita. Ketiga istilah tersebut mempunyai konotasi yang sama yaitu merujuk pada perpustakaan yang tidak berujud. Dalam makalah ini penulis akan mengutip salah satu definisi tentang E-Library.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;E- Library is a comprehensive digital for information seekers of all ages. Users can do business research, use it for homework, get background materials for term papers, find out about both current and historical events, and more, all in one vast database designed for both depth of content and simplicity of interface.( http://ask.elibrary.com/index.asp)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kata kunci dari definisi di atas adalah “a comprehensive digital for information seekers” yang mempunyai arti digital secara menyeluruh untuk pencari informasi. Jadi yang di”digitalkan” ,dalam konteks perpustakaan, tidak hanya data bibliografi dan layanannya, tetapi menyangkut semua aspek termasuk isinya (full text).&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;MANFAAT PERPUSTAKAAN DIGITAL&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Seperti sudah disebutkan di atas bahwa pengguna perpustakaan lebih senang menggunakan format secara elektronik daripada secara tradisional. Sebetulnya manfaat perpustakaan digital tidak hanya dirasakan oleh pengguna perpustakaan tetapi juga dapat dirasakan oleh pustakawan atau staf perpustakaan. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya perpustakaan digital adalah sebagai berikut :&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bagi Pengguna Perpustakaan :&lt;/p&gt; &lt;ul style="margin-top: 0pt;" type="square"&gt;&lt;li&gt;mengatasi keterbatasan waktu&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;mengatasi keterbatasan tempat&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;memperoleh informasi yang paling baru dengan cepat&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;mempermudah akses informasi dari berbagai sumber&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;mempermudah untuk memindah dan merubah bentuk untuk      kepentingan presentasi dsb.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bagi Pustakawan&lt;/p&gt; &lt;ul style="margin-top: 0pt;" type="square"&gt;&lt;li&gt; memperingan pekerjaan&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;meningkatkan layanan&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;tidak memerlukan gedung dan ruang yang besar&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;menumbuhkan rasa bangga&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: left;" align="left"&gt;FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN DALAM MEMBANGUN PERPUSTAKAAN DIGITAL&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan dalam membangun perpustakaan digital. Beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1. Analisa kebutuhan (Need Analysis)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dalam tahap awal&lt;span&gt; &lt;/span&gt;pertanyaan yang muncul adalah apakah perpustakaan digital memang diperlukan. Untuk menjawab pertanyaan ini tidak dapat dijawab hanya berdasarkan perkiraan semata tetapi harus diadakan studi untuk menentukan kebutuhan yang disebut dengan analisis kebutuhan (Need Analysis). Apabila analisa kebutuhan sudah dilakukan dan jawabannya adalah positif, maka tahap berikutnya adalah menentukan tujuan. Tujuan ini harus didasarkan pada visi dan misi perpustakaan serta lembaga induknya. Masing-masing perpustakaan mempunyai tujuan yang berbeda satu sama lain tergantung pada kondisi masing-masing perpustakaan.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;2. Studi Kelayakan (Feasibility Study)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Apabila penentuan kebutuhan dan tujuan sudah dilakukan, maka tahap berikutnya adalah melakukan&lt;span&gt; &lt;/span&gt; studi kelayakan (Soekartawi, 2003), yang penilaiannya meliputi komponen sebagai berikut :&lt;/p&gt; &lt;ul style="margin-top: 0pt;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Technically feasible (apakah secara teknis layak).      .&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Economically profitable (apakah secara ekonomi      menguntungkan).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Socially acceptable (secara sosial dapat diterima).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;2. 1. Technically feasible (apakah secara teknis layak)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kelayakan secara teknis ini menjadi faktor penentu dalam membangun perpustakaan digital, karena perpustakaan digital itu memerlukan infrastruktur dan tenaga yang memadai seperti adanya provider untuk internet, hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak), jaringan telepon, listrik serta tidak kalah pentingnya adalah tersedianya tenaga teknis yang dapat mengoperasikannya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;2.2.  Economically profitable (apakah secara ekonomi menguntungkan)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ukuran yang dipakai dalam perhitungan aspek ekonomi tidak harus&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dihitung dari berapa laba yang akan diperoleh, melainkan sejauh mana pengaruh perpustakaan digital yang akan kita bangun terhadap efektifitas dan efisiensi layanan perpustakaan.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;2.3.  Socially acceptable (apakah secara sosial dapat diterima)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Apakah secara sosial pembangunan perpustakaan digital tersebut dapat diterima oleh pengguna perpustakaan dan staf perpustakaan ? Pertanyaan ini tentunya harus dijawab, sebelum kita melaksanakan digitalisasi perpustakaan. Sekalipun secara teknis layak dan secara ekonomis menguntungkan, belum ada jaminan bahwa pelaksanaan pembangunan digital perpustakaan passti berhasil tanpa memperhitungkan aspek sosial. Oleh karena itu sebelum program perpustakaan digital dijalankan sebaiknya ada program sosialisasi terlebih dahulu. Analisa aspek social ini juga dapat menyangkut aspek hukum. Kita harus tetap menjunjung tinggi hukum terutama yang menyangkut Undang-Undang Hak Cipta. Misalnya kita tidak diperkenankan dengan bebas me”scan” buku-buku yang dimiliki oleh perpustakaan untuk selanjutnya kita masukkan dalam database tanpa seijin pemilik hak ciptanya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;3. Memilih software&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pemilihan software hanya diperlukan apabila kita ingin membangun database untuk kepentingan perpustakaan digital (sebagai penyedia informasi), namun apabila kita hanya ingin membangun perpustakaan digital sebagai konsumen (memanfaatkan perpustakaan digital yang sudah ada), maka pemilihan software tidak menjadi penting. Kreteria pemilihan software untuk database antara lain meliputi :&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;3.1. Access Points&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Software yang baik adalah software yang memiliki access points yang banyak paling tidak data yang kita miliki itu dapat ditelusur melalui judul, pengarang, dan subjek atau kombinasi dari ketiganya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;3.2.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;User Friendly&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;User friendly mempunyai arti bahwa software yang seharusnya dipilih adalah software yang mudah digunakan tanpa memerlukan waktu pelatihan yang lama,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;begitu komputer dibuka para pengguna dapat berinteraksi dengan mudah dan cepat walupun hanya latihan sebentar.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;3.3.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sustainability&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Membangun perpustakaan digital berarti membangun untuk jangka panjang. Supaya investasi yang ditanamkan tidak terbuang sia-sia, maka perlu dipertimbangkan dengan hati-hati tentang keberlanjutan software yang kita beli. Sebaiknya membeli software bukan dari perorangan melainkan dari lembaga yang professional.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;3.4.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Price&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Umumnya kita akan menghadapi delima dalam mempertimbangkan harga. Software yang baik biasanya harganya relatif mahal, sementara software yang murah/gratis biasanya&lt;span&gt; &lt;/span&gt;kurang dapat memuaskan kebutuhan kita.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;4. Pelaksanaan&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dalam tahap ini, khususnya untuk pembentukan database, harus mempunyai prioritas. Prioritas ini tergantung pada masing-masing perpustakaan. Penulis menyarankan untuk memulai pembentukan databse dari produk-produk local, seperti hasil penelitian , hasil pengabdian masyarakat, tesis, diesrtasi, skripsi dan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga di sekeliling kita.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;5. Evaluasi&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Seperti pada program dan kegiatan perpustakaan lainnya, evaluasi untuk pembangunan perpustakaan digital harus selalu dilakukan secara terus menerus dalam suatu periode tertentu untuk mengetahui apakah tujuan yang telah kita canangkan sudah tercapai dan apakah program tersebut dapat memuaskan pengguna perpustakaan. Tingkat kepuasan pengguna perpustakaan harus selalu kita monitor dan hasil dari monitoring dapat digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan apakah program perpustakaan digital perlu diteruskan, disempurnakan atau dibatalkan.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;PENUTUP&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Di Indonesia, keberadaan perpustakaan digital belum akan akan mengganti keberadaan perpustakaan konvensional. Keberadaannya sebagai pelengkat dan penambah nilai dari perpustakaan yang sudah ada.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Membangun perpustakaan digital bukan suatu pekerjaan yang mudah. Perencanaan dan studi kelayakan secara teknis, ekonomis, dan social harus dilakukan. Namun&lt;span&gt; &lt;/span&gt;demikian apabila kita berhasil membangun perpustakaan digital secara baik, niscaya citra perpustakaan akan semakin meningkat. Citra yang baik harus kita upayakan secara terus menerus, agar supaya perpustakaan dapat meningkatkan kepercayaan dari pihak-pihak yang berkepentingan terutama pihak pimpinan unibersitas/akademi. Kalau tingkat kepercayaan dari pihak yang berkepentingan terhadap perpustakaan sudah tinggi, maka apapun program yang diusulkan kepada pihak universitas/akademi akan mudah disetujui.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;REFERENSI&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0pt;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Ackerman, Mark S. Providing Social Interaction in      the Digital Library&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://csdl.tamu.edu/DL94/position/ackerman.html"&gt;http://csdl.tamu.edu/DL94/position/ackerman.html&lt;/a&gt; (3/26/03)&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0pt;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Linggawati, Henny dan Widiawan, Kriswanto. Komersialisasi dan Perlindungan Produk/Jasa E-Library ( disampaikan pada Seminar Nasional “E-Learning Perlu E-Library” di Universitas Kristen Petra Subaya pada tgl. 3 Februari 2003)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;McMillan, Gail. (Digital) Libraries Support (Distributed) Education. (presented at ACRL Nastional Conference, Detroit, April 9, 1999)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.ala.org/acrl/mcmill.html"&gt;http://www.ala.org/acrl/mcmill.html&lt;/a&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;(3/21/03)&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0pt;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Sawyer, Susan K. Elektronic books : their      definition, usage and role in libraries.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://libres.curtin.edu.au/libres12n2/ebooks.html"&gt;http://libres.curtin.edu.au/libres12n2/ebooks.html&lt;/a&gt; (2/14/03)&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0pt;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Soekartawi. E-Learning di Indonesia dan Prospeknya di Masa Mendatang (disampaikan pada Seminar Nasional “E-Learning Perlu E-Library” di Universitas Kristen Petra Subaya pada tgl. 3 Februari 2003.)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Stackpole, Laurie E. and Hooker, Ruth H. Electronic Journal as a Component of the Digital Library. Issues in Science and Technology Librarianship, Spring 1999.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.istl.org/99-spring/article1.html"&gt;http://www.istl.org/99-spring/article1.html&lt;/a&gt;. (2/11/03)&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0pt;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Sweetland, James H. Electronic Text: How Do We      Manage ?&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Library Collection      Development &amp;amp; Management, July 2002.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://tamino.emeraldinsight.com/vl=1396064/cl=21/nw=1/rpsv/librarylink/collection/july02.html"&gt;http://tamino.emeraldinsight.com/vl=1396064/cl=21/nw=1/rpsv/librarylink/collection/july02.html&lt;/a&gt;. (3/5/03)&lt;/p&gt; &lt;div&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt; &lt;hr size="1"&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;div id="ftn1"&gt; &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a name="_ftn1" href="http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&amp;amp;menu=news&amp;amp;option=detail&amp;amp;nid=37#_ftnref1"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Makalah ini disampaikan pada Seminar dan Lokakarya “Membangun Perpustakaan Digital” di UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret Surakarta, tgl. 5 April 2003&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="ftn2"&gt; &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a name="_ftn2" href="http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&amp;amp;menu=news&amp;amp;option=detail&amp;amp;nid=37#_ftnref2"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;**&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kepala UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret Surakarta&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;                          &lt;div class="postinfo"&gt;      &lt;p&gt;Ditulis dalam &lt;a href="http://id.wordpress.com/tag/makalah-perpustakaan/" title="Lihat seluruh tulisan dalam makalah perpustakaan" rel="category tag"&gt;makalah perpustakaan&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-3546534429465484763?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/3546534429465484763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/10/membangun-perpustakaan-digital-suatu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/3546534429465484763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/3546534429465484763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/10/membangun-perpustakaan-digital-suatu.html' title='Membangun Perpustakaan Digital : Suatu Tinjauan Aspek Manajemen'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-2161853375124717961</id><published>2009-10-13T13:19:00.001+07:00</published><updated>2009-10-13T13:28:00.569+07:00</updated><title type='text'>Website untuk Peta Wilayah di Indonesia</title><content type='html'>&lt;p&gt;Peta merupakan gambaran wilayah geografis, biasanya  bagian permukaan bumi. Peta bisa disajikan dalam  berbagai cara yang berbeda, mulai dari peta  konvensional yang tercetak hingga peta digital yang  tampil di layar komputer. Peta dapat menunjukkan banyak  &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;informasi&lt;/a&gt;  penting, misalnya &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;informasi&lt;/a&gt; daerah  rawan bencana, daerah pegunungan atau bahkan sampai  kedalaman dasar laut. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Peta dapat dibuat dengan  berbagai bentuk. Peta pertama mungkin dibuat manusia  dengan menggambar garis di pasir atau menyusun batu  kerikil dan ranting kecil di atas tanah. Peta modern  diterbitkan untuk penggunaan yang lebih lama.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Peta cetak adalah bentuk yang paling sederhana.  Peta cetak menggambarkan dunia sebagai bidang datar  dalam dua dimensi. Dalam peta cetak, relief gunung dan  lembah ditunjukkan dengan simbol khusus untuk  memperbaiki kekurangan “tingkat kedalaman”,  dimana hal tersebut dalam bentuk tiga dimensi. Jadi  peta relief adalah peta bidang datar dengan penambahan  tonjolan dan lekukan untuk menunjukkan perbedaan tinggi  rendahnya permukaan. Tonjolan dan lekukan ini biasanya  dibuat dari tanah liat atau plastik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Peta  berbasis &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt; (digital)  lebih serba guna. Peta yang terprogram akan lebih  dinamis karena bisa menunjukkan banyak view yang  berbeda dengan subjek yang sama. Peta ini juga  memungkinkan perubahan skala, animasi gabungan, gambar,  suara, dan bisa terhubung ke sumber &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;informasi&lt;/a&gt; tambahan  melalui Internet. Peta digital dapat diupdate ke peta  tematik baru dan bisa ditambahkan detail &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;informasi&lt;/a&gt; geografi  lainnya. Hal ini karena &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;informasi&lt;/a&gt; baru  dapat dimasukkan ke dalam database setiap saat.  Mempunyai peta digital sama seperti mempunyai selusin  peta tematik cetak yang meng-overlay daerah tertentu  yang terhubung secara elektronik ke sebuah perpustakaan  besar dalam tema utama atau yang berhubungan dengan  tema utama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keberadaan peta  secara umum  sangat diperlukan, seperti untuk melakukan perjalanan,  pencarian lokasi tertentu, atau untuk mendapatkan  berbagai lokasi penting lainnya. Perkembangan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;teknologi&lt;/a&gt; canggih  telah menghadirkan berbagai perangkat canggih yang  mampu mendeteksi lokasi atau peta di bumi, secara  online melalui satelit. &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;Teknologi&lt;/a&gt; ini kini  banyak digunakan oleh agen-agen perjalanan dan jasa  kurir. Sebut saja Geographic Information Systems (GIS)  yang merupakan sebuah sistem aplikasi yang digunakan  untuk menyimpan, retrieval, pemetaan dan analisis data  geografis, dengan memanfaatkan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;teknologi&lt;/a&gt; satelit  dan meletakkannya dalam database.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Berikut ini merupakan beberapa situs  yang menyediakan layanan peta di Indonesia  :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;CYBER MAP&lt;br /&gt;Alamat Situs: &lt;a href="http://www.cybermap.co.id/"&gt;http://www.cybermap.c  o.id/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Situs media &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;informasi&lt;/a&gt; peta  Indonesia, memberikan info lalu lintas, hotel, rumah  sakit, sekolah/universitas, Mall/ plaza, museum,  transportasi, fasilitas ATM, otomotif, perkantoran,  kedutaan, rumah makan, pemerintahan, gedung bioskop,  serta &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;informasi&lt;/a&gt;  lain di kota Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya,  Yogyakarta &amp;amp; sekitarnya. Situs ini juga menyajikan  peta situs online, &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;informasi&lt;/a&gt; daerah  rawan macet dan banjir. Ada juga layanan Map Advertise,  yakni sarana beriklan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;gratis&lt;/a&gt; dengan fitur  lengkap, termasuk di dalamnya peta lokasinya. Untuk  dapat melihat peta sesuai kebutuhan, Anda dapat melihat  peta dengan menggunakan kategori Alamat, Tempat-tempat  Terkenal, Tempat berdasar Kategori, dan kategori rute  transportasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;CITY MAPS INDONESIA&lt;br /&gt;Alamat  Situs: &lt;a href="http://www.citymapsindonesia.com/"&gt;http://www.cit  ymapsindonesia.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menyediakan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;informasi&lt;/a&gt; peta  lokasi-lokasi bisnis, tempat wisata, hotel, pelayanan  publik, lokasi berbagai organisasi, dan lain-lain di 33  kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung,  Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar Bali, Medan,  Makasar, dan lain-lain. Peta ini tersaji secara  interaktif. Anda dapat melakukan zoom hingga ratusan  kali untuk mendapatkan detil lokasi yang Anda  inginkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;PETA JAKARTA&lt;br /&gt;Alamat Situs: &lt;a href="http://www.dki.go.id/peta"&gt;http://www.dki.go.id/p  eta&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;Informasi&lt;/a&gt; peta  lokasi khusus daerah Jakarta dan sekitarnya.  Menyediakan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;informasi&lt;/a&gt; peta  Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta  Barat, dan Jakarta Pusat. dan Peta Wilayah Kodya  Jakarta Barat, Kodya Jakarta Selatan, Kodya Jakarta  Timur, Kodya Jakarta Utara, dan Kodya Jakarta Pusat.  Situs ini dikembangkan dan dikelola oleh Pemerintah  Propinsi DKI Jakarta.&lt;br /&gt;Jenis-jenis peta yang  dihadirkan yaitu Peta Tematik (Peta Kelurahan, Peta  Banjir, Peta Kerawanan, Peta Perbelanjaan, Geologi,  Tata Guna Tanah, Penduduk, Kawasan Banjir, Rawan  Kejahatan), Peta Dasar, Peta Foto, Peta Teknis, Peta  Offset (Peta Wilayah, Peta Propinsi DKI Ja¬karta),  Peta Kepulauan Seribu, dan Peta Citra  Satelit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;MAPSJAKARTA.COM&lt;br /&gt;Alamat Situs: &lt;a href="http://www.mapsjakarta.com/"&gt;http://www.mapsjakar  ta.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menyediakan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;informasi&lt;/a&gt; peta  tempat-tempat komersial (tempat favorit, pusat  perbelanjaan, restoran, konsulat, kantor polisi, rumah  sakit dan perhotelan di wilayah Jakarta.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;MAPSYOGYAKARTA.COM&lt;br /&gt;Alamat Situs: &lt;a href="http://www.mapsyogyakarta.com/"&gt;http://www.mapsyo  gyakarta.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menyediakan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;informasi&lt;/a&gt; peta dan  wilayah pariwisata kota Yogyakarta dan sekitarnya. Peta  yang tersedia antara lain untuk Distrik Historis,  Greater Yogyakarta, Solo bagian Barat, dan Solo bagian  Timur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;PETA PARIWISATA JAWA TIMUR&lt;br /&gt;Alamat  Situs: &lt;a href="http://www.eastjava.com/map/"&gt;http://www.eastjava  .com/map/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Peta daerah pariwisata di Jawa Timur  &amp;amp; sekitarnya: Surabaya, Malang, Tretes, Gunung  Bromo, Trowulan dan Banyuwangi. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;JARINGAN PETA  HIJAU INDONESIA&lt;br /&gt;Alamat Situs: &lt;a href="http://www.greenmap.or.id/"&gt;http://www.greenmap.o  r.id/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Website ini adalah simpul dari  jaringan-jaringan komu¬nitas pemeta hijau di  seluruh Indonesia. Selain diarahkan menjadi titik  hubung komunikasi dan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;informasi&lt;/a&gt; antar  komunitas peta hijau ataupun lembaga lain yang menjadi  rekanan, materi-materi dalam website ini diharapkan  dapat membantu inisiatif-inisiatif lokal untuk  membangun jaringan peta hijau baru di lingkungannya.  Situs ini juga dilengkapi dengan layanan email &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;gratis&lt;/a&gt; dan Mailing  List Peta Hijau.(dna)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Sumber : Situs  Populer Indonesia - &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Wahana  Komputer&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-2161853375124717961?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/2161853375124717961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/10/website-untuk-peta-wilayah-di-indonesia.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2161853375124717961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2161853375124717961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/10/website-untuk-peta-wilayah-di-indonesia.html' title='Website untuk Peta Wilayah di Indonesia'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-30840472796519151</id><published>2009-10-06T12:51:00.001+07:00</published><updated>2009-10-06T12:52:28.101+07:00</updated><title type='text'>Social computing dan perpustakaan digital</title><content type='html'>Ditulis oleh &lt;a href="http:///"&gt;putubuku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="entrytext"&gt;    &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;Istilah &lt;em&gt;social computing&lt;/em&gt; merujuk ke penggunaan komputer secara meluas oleh berbagai lapisan masyarakat untuk saling berhubungan, menciptakan jaringan sosial (&lt;em&gt;social network&lt;/em&gt;), mengandalkan perangkat yang mudah diperoleh dan mudah dioperasikan. Arti atau makna &lt;em&gt;social computing&lt;/em&gt; lebih luas dari  Web 2.0 atau Internet 2.0 sebab kedua istilah terakhir ini lebih merupakan versi terakhir dalam perubahan teknologi Internet, sementara &lt;em&gt;social computing&lt;/em&gt; dapat dipakai untuk &lt;em&gt;trend&lt;/em&gt; perubahan itu sendiri. Termasuk dalam &lt;em&gt;trend &lt;/em&gt;ini adalah segala yang terjadi saat ini, berupa &lt;em&gt;blogs&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;podcasts&lt;/em&gt;, wikis,  situs lelang barang (&lt;em&gt;auction web sites&lt;/em&gt;), &lt;em&gt;online games&lt;/em&gt;, VoIP dan &lt;em&gt;peer-to-peer services   – &lt;/em&gt;semuanya memanfaatkan fasilitas koneksi global Internet menghubungkan orang dan isi informasi (&lt;em&gt;content&lt;/em&gt;). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut  Pascu dan kawan-kawan (2008),  salah satu ciri khas aplikasi-aplikasi &lt;em&gt;social computing&lt;/em&gt; adalah semakin kuatnya keterlibatan pengguna akhir (&lt;em&gt;end-users&lt;/em&gt;) dalam proses produksi informasi, pengetahuan, dan inovasi.  Jika sebelumnya ada pemisahan yang jelas antara “produsen” dan “konsumen” informasi, maka kini pemisahan itu semakin mengabur.  Pemikir masyarakat informasi,  Alvin Toffler, menengarai gejala ini 20 tahun yang silam ketika ia menggunakan istilah  &lt;em&gt;prosumer&lt;/em&gt; dalam industri informasi. Dalam &lt;em&gt;social computing&lt;/em&gt;, pengguna atau konsumen adalah sekaligus pemasok isi (&lt;em&gt;content&lt;/em&gt;). Aplikasi-aplikasi &lt;em&gt;social computing&lt;/em&gt; seperti blogs, podcast, wikipedia, YouTube, dan sebagainya, memudahkan orang saling betukar dan saling memakai tulisan, audiovisual, dan alamat kontak. Keadaan ini langsung mengubah total hubungan antara “produsen” dan “konsumen” dalam konstalasi industri media.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal lain yang harus juga segera disimak adalah peran pengguna atau konsumen dalam mendukung distribusi isi dan jasa informasi. Pada sebuah &lt;em&gt;peer-to-peer networks&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;wifi sharing&lt;/em&gt;, pengguna atau konsumen sebenarnya berperan sebagai bagian dari “transportasi”  isi dan jasa tersebut; mereka ikut menjadi distributor dari sebuah isi informasi. Bahkan di eBay, si pengguna adalah tukan &lt;em&gt;ngepak&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;ngirim&lt;/em&gt; barang juga &lt;img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":-)" class="wp-smiley" /&gt; .    Tambahan lagi, seorang pengguna atau konsumen juga memainkan peran penting dalam menemukan, memilih, dan menyaring isi dan jasa informasi. Berbagai &lt;em&gt;search engine&lt;/em&gt; sudah lama memanfaatkan kenyataan ini dengan berupaya menggalang  penilaian oleh masyarakat tentang seberapa dibutuhkannya sebuah situs. Situs-situs wiki  juga bergantung pada masyarakat untuk mengevaluasi dan memilih kualitas isinya. Demikian pula teknologi &lt;em&gt;tagging &lt;/em&gt;sudah semakin sering dijadikan cara berbagi selera (&lt;em&gt;taste-sharing&lt;/em&gt;) antar anggota masyarakat. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Fenomena ini meluas ke segala pelosok dunia, menerobos batas-batas budaya. Tidaklah heran jika para akademisi dan pihak industri sekarang sedang bahu-membahu mengamati dan mencari-tahu lebih banyak, apa yang sesungguhnya terjadi di Internet ini. Dalam situs mereka (&lt;a href="http://www.asis.org/Conferences/SCS08/SCS08.html"&gt;http://www.asis.org/Conferences/SCS08/SCS08.html&lt;/a&gt;) American Society for Information Science and Technology (ASIS&amp;amp;T) memakai istilah &lt;em&gt;social software and computing&lt;/em&gt; sebagai penggerak teknologi Web 2.0.  Mereka juga menggunakan istilah &lt;em&gt;social networking services&lt;/em&gt; (jasa berbasis jaringan sosial) yang melahirkan ciri-ciri baru dalam hal &lt;em&gt;privacy&lt;/em&gt;, identitas dan manajemen hubungan antar manusia. Mereka percaya bahwa teknologi &lt;em&gt;browser&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;mobile devices&lt;/em&gt; akan melahirkan apa yang mereka sebut “kehadiran dan konektivitas tanpa batas” (&lt;em&gt;ubiquitous connectivity and presence&lt;/em&gt;)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;yang akan mengubah total konsep sosial-budaya dan bisnis di seluruh dunia. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Secara khusus, di dunia akademik sebenarnya juga sudah ada semacam konsentrasi penelitian yang disebut &lt;em&gt;social informatics, &lt;/em&gt;yaitu:&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;The interdisciplinary study of the design, uses and consequences of information technologies that takes into account their interaction with institutional and cultural contexts&lt;/em&gt;. [baca selengkapnya di : &lt;a href="http://www.dlib.org/dlib/january99/kling/01kling.html"&gt;http://www.dlib.org/dlib/january99/kling/01kling.html&lt;/a&gt;].&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;Salah satu situs pendukung studi khusus ini [&lt;a href="http://rkcsi.indiana.edu/index.php/about-social-informatics"&gt;http://rkcsi.indiana.edu/index.php/about-social-informatics&lt;/a&gt;] menjelaskan lebih lanjut bahwa &lt;em&gt;Social Informatics&lt;/em&gt; (SI) merupakan sekumpulan penelitian dan studi yang mempelajari aspek-aspek sosial dari komputerisasi termasuk peran teknologi informasi dalam perubahan sosial dan organisasi. Penelitian-penelitian SI juga berkonsentrasi pada  bagaimana pemanfaatan teknologi informasi dipengaruhi oleh nilai dan praktik-praktik sosial-budaya di sebuah masyarakat.  Di dalam kajian-kajian SI terdapat cabang-cabang khusus seperti dampak sosial dari penerapan komputer (&lt;em&gt;social impacts of computing&lt;/em&gt;), analisis sosial terhadap komputerisasi (&lt;em&gt;social analysis of computing&lt;/em&gt;), kajian-kajian  komunikasi berperantaraan komputer  (&lt;em&gt;computer-mediate communication&lt;/em&gt; alias CMC), kebijakan informasi, informatika organisasi (&lt;em&gt;organizational informatics&lt;/em&gt;), informatika interpretif (&lt;em&gt;interpretive informatics&lt;/em&gt;), dan sebagainya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di dunia perpustakaan dan informasi, &lt;em&gt;social computing &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;social informatics&lt;/em&gt; jelas sekali memengaruhi pemikiran dan praktik dalam Perpustakaan Digital (&lt;em&gt;digital libraries&lt;/em&gt;), khususnya dalam hal peran “orang ketiga”  di antara produsen dan konsumen informasi. Model-model Perpustakaan Digital, misalnya sebagaimana yang terlihat di Model OAIS, jelas sekali berupaya menegaskan peran-peran baru yang dapat dimainkan “orang ketiga” ini. Di dalam kondisi “tradisional” ketika format informasi didominasi oleh barang-barang tercetak, peran pustakawan dan profesi informasi jelas sekali berada di antara produsen dan konsumen. Saat ini, dalam kondisi &lt;em&gt;social computing &lt;/em&gt;yang sudah melebur batas antara produsen dan konsumen informasi, peran pustakawan dan profesi informasi itu perlu ditinjau kembali. Jika dahulu timbul kesan bahwa pustakawan dan profesional informasi condong ke konsumen, maka sekarang kesan itu harus disesuaikan dengan kenyataan bahwa si konsumen dapat juga sekaligus berperan sebagai produsen.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam keadaan seperti itu, mungkin saja “orang ketiga” tidak lagi diperlukan sebagai “perantara” melainkan lebih sebagai “penengah”. Artinya, pustakawan bukan lagi pihak yang berada di antara produsen dan pengguna informasi dalam posisi yang jelas, melainkan sebagai bagian dari hubungan keduanya: menjadi pihak yang terus menerus memperlancar hubungan antara keduanya, atau bahkan sesekali menjadi salah satunya. Seorang pustakawan akhirnya juga menjadi produsen dan konsumen informasi. Posisi ini, tentu saja, menjadi amat sangat menantang!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bacaan:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pascu, C., et al. (2008), “Social computing: implications for the EU innovation landscape” dalam Foresight : the Journal of Futures Studies, Strategic Thinking and Policy. Vol. 10 no. 1; hal. 37-52&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-30840472796519151?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/30840472796519151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/10/social-computing-dan-perpustakaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/30840472796519151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/30840472796519151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/10/social-computing-dan-perpustakaan.html' title='Social computing dan perpustakaan digital'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-3681887141858519742</id><published>2009-10-06T12:44:00.000+07:00</published><updated>2009-10-06T12:45:30.830+07:00</updated><title type='text'>"Membaca " sang Pembaca</title><content type='html'>Ditulis oleh &lt;a href="http:///"&gt;putubuku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="entry"&gt;      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;Tradisi kepustakawanan dan ilmu perpustakaan seringkali memfokuskan diri pada buku dan bacaan, katimbang membaca dan pembacanya. Sampai sekarang fokus ini masih ada: alih-alih memahami pengguna perpustakaan, banyak pustakawan berkonsentrasi pada nilai-baik yang ada di buku; alih-alih menyediakan buku yang dibutuhkan, banyak pustakawan menitikberatkan kegiatan mereka pada “buku yang baik” atau “buku yang positif”. Kegiatan seleksi dan pengembangan koleksi seringkali berdasarkan “nilai baik” dengan asumsi bahwa buku yang baik akan menghasilkan masyarakat yang baik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam tradisi literasi atau sastra (terutama di Amerika Serikat), pandangan seperti ini memang juga ada, didukung oleh berbagai model tentang &lt;em&gt;text-active&lt;/em&gt; yang menjadi bagian dari teori &lt;em&gt;new criticism -&lt;/em&gt;sebuah teori yang dibangun tahun 1940-an oleh John Crowe Ransom. Teori ini berasumsi bahwa teks (atau buku) dapat dilihat sebagai dirinya sendiri &lt;em&gt;(self contained&lt;/em&gt;)&lt;em&gt;,&lt;/em&gt; terlepas dari respon pembaca, maksud penulis, atau konteks historis-kulturalnya. Para penganut &lt;em&gt;new criticism&lt;/em&gt; melakukan &lt;em&gt;close reading &lt;/em&gt;dan percaya bahwa struktur dan makna sebuah teks adalah satu kesatuan. Konsentrasi sepenuhnya dicurahkan pada mengutak-atik (atau “mengulik” istilah sekarangnya) teks itu sendiri. Pada tahun 1954, William K. Wimsatt dan Monroe Beardsley menegaskan bahwa dengan berkonsentrasi pada apa yang sudah tertera di atas kertas, maka maksud si penulisnya tidaklah terlalu relevan lagi. Bagi &lt;em&gt;new criticism&lt;/em&gt; teks adalah segalanya. [Di blog ini &lt;em&gt;close reading &lt;/em&gt;sudah pernah ditulis; silakan &lt;a href="http://iperpin.wordpress.com/2008/09/07/baca-lah-taat-lah/" target="_self"&gt;klik di sini&lt;/a&gt;]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teori &lt;em&gt;new criticism &lt;/em&gt;pada gilirannya mendapat kritik lagi dari sebuah aliran baru, yaitu &lt;em&gt;reader-response criticism&lt;/em&gt;. Aliran baru ini malah mengedepankan kenyataan bahwa seorang pembaca memiliki peran besar dalam menetapkan makna sebuah bacaan. Dengan kata lain, apa yang terkandung dalam sebuah bacaan mungkin saja tidak terdapat di dalam bacaan itu sendiri, melainkan di dalam konstruksi (&lt;em&gt;construct&lt;/em&gt;) pembacanya. Pada tahun 1980-an, tiga buku penting muncul di kancah penelitian tentang bacaan dan membaca, yaitu:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Fish, S. (1980). &lt;em&gt;Is There a Text in This class? The Authority of Interpretive Communites&lt;/em&gt;, Cambridge : Harvard University Press.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Suleiman, S.R. dan Crosman, I. (ed.) (1980). &lt;em&gt;The Reader in the Text : Essays on Audience and Interpretation&lt;/em&gt;, Princeton : Princeton University Press.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tompkins, J.P. (ed.) (1980). &lt;em&gt;Reader-response Criticism : from Normalism to Post-structuralism&lt;/em&gt;, London : John Hopkins University Press.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Ketiga buku ini menegaskan pentingnya peran pembaca yang “membawa makna ke dalam tulisan”. Artinya, sebuah teks bukanlah satu-satunya sumber makna. Seorang pembaca menggunakan akal-budi dan pengalamannya ketika membaca sebuah teks. Apa yang ia maknai pada sebuah teks ikut ditentukan oleh pengalaman sebelumnya, persepsi, imajinasi, dan bahkan juga harapan-harapannya. Beberapa peneliti juga menekankan pada kemungkinan seorang pembaca “menemukan” maknanya sendiri, yang barangkali berbeda dari yang ditemukan orang lain, atau dari yang tertera di atas kertas. Toh, sejak lama kita sudah kenal frasa&lt;em&gt; to read between the lines&lt;/em&gt;. Pada intinya, teori &lt;em&gt;reader-response &lt;/em&gt;atau teori &lt;em&gt;reception &lt;/em&gt;(karena berkonsentrasi pada pembaca sebagai “penerima” teks) mengangap bahwa teks tertulis harus dilihat secara dinamis, dan belum “jadi”. Setelah ada pembacanya, barulah teks itu membentuk makna.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apa pengaruh teori ini pada bidang perpustakaan? Jelas adalah pada pengalihan perhatian: dari teks di atas kertas (atau di dalam buku) ke manusia yang membacanya. Dalam penelitian yang berorientasi buku, kita tak terlalu peduli pada bagaimana buku itu sesungguhnya dibaca. Sebaliknya dalam penelitian berorientasi pada pembaca, kita mengutamakan pengkajian terhadap perilaku, situasi, kondisi, dan makna-makna yang dibangun oleh manusia-pembaca. Kajian ini dapat dilakukan terhadap individu-individu, maupun terhadap sekelompok orang dalam sebuah masyarakat.  Dengan kata lain, kita bermaksud “membaca” sang pembaca.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendekatan kualitatif, khususnya etnografi, dapat digunakan untuk memahami bagaimana masyarakat mengenakan nilai atau makna kepada bacaan mereka. Buku yang amat menarik tentang penelitian etnografi ini adalah The Ethnography of Reading,  yang dieditori Jonathan Boyarin, terbitan University of California Press,  tahun 1993.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bacaan:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ross, C.S. (2005), “Reader response theory”, dalam &lt;em&gt;Theories of Information Behavior&lt;/em&gt;, Fisher, K.E, Erdelez, S. dan McKechnie, L. (ed.),  Medford : Information Today, hal. 303 – 307.&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-3681887141858519742?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/3681887141858519742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/10/membaca-sang-pembaca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/3681887141858519742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/3681887141858519742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/10/membaca-sang-pembaca.html' title='&quot;Membaca &quot; sang Pembaca'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-15455331706682324</id><published>2009-10-06T12:40:00.001+07:00</published><updated>2009-10-06T12:43:39.589+07:00</updated><title type='text'>PERILAKU INFORMASI DI TEMPAT KERJA</title><content type='html'>Ditulis oleh &lt;a href="http:///"&gt;putubuku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Katriina &lt;span style="font-size: small; font-family: Calibri;"&gt;Byström dan kawan-kawan mengusulkan sebuah teori tentang pencarian informasi di tempat kerja yang diberinya nama teori &lt;em&gt;Information Activities in Work Tasks&lt;/em&gt; (IAWT), atau kalau diindonesiakan: Kegiatan Informasi dalam Tugas Kerja. Teori ini dibuat berdasarkan penelitian yang menggabungkan perspektif Ilmu Perpustakaan &amp;amp; Informasi dan Kajian Organisasi (&lt;em&gt;Organizational Studies&lt;/em&gt;). Sebagaimana namanya, teori ini ingin menjelaskan fenomena di tempat kerja, khususnya ketika para pegawai mencari dan menggunakan informasi untuk keperluan menyelesaikan tugas (&lt;em&gt;task&lt;/em&gt;). Fokus teori ini adalah pada upaya mengaitkan antara keragaman jenis tugas, kebutuhan informasi, dan upaya penemuan-kembali (&lt;em&gt;information retrieval&lt;/em&gt;). Dengan demikian, teori ini berupaya lebih spesifik dibandingkan teori perilaku informasi umum yang   -misalnya-  diusung oleh Wilson.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: small; font-family: Calibri;"&gt;Dalam teori IAWT, sebuah&lt;em&gt; task&lt;/em&gt;  atau tugas bukanlah hanya merupakan sesuatu yang eksternal (sesuatu yang diluar kendali seorang pekerja), dan juga bukan melulu internal (sesuatu yang ada di pikiran seorang pekerja), melainkan juga sebuah “konstruksi sosial” dalam konteks kegiatan yang sesungguhnya &lt;em&gt;(real life&lt;/em&gt;). Dengan kata lain, sebuah tugas di tempat kerja (misalnya, tugas meliput berita di kantor berita, atau tugas menyerbu benteng musuh di kalangan tentara) merupakan sesuatu yang disadari dan dimaknai &lt;em&gt;(perceived&lt;/em&gt;) dalam kaitannya dengan keadaan atau situasi tempat kerja. Seorang wartawan akan menyadari dan memaknai tugasnya secara berbeda dari seorang anggota pasukan buru-sergap, sebab ”lapangan” mereka berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: small; font-family: Calibri;"&gt;Selanjutnya, teori IAWT mengaitkan antara &lt;strong&gt;jenis informasi&lt;/strong&gt; yang dicari dan ragam &lt;strong&gt;sumber informasi&lt;/strong&gt; yang digunakan dalam bekerja. Di sini informasi dianggap sebagai sebuah “perangkat yang abstrak (tidak nyata)” untuk membantu seseorang menyelesaikan tugasnya. Selain itu, terjadi pula pergeseran fokus dari “menyelesaikan masalah” (&lt;em&gt;problem solving&lt;/em&gt;) ke “menyelesaikan tugas” &lt;em&gt;(task solving&lt;/em&gt;)&lt;em&gt;,&lt;/em&gt; sehingga sebuah “&lt;strong&gt;informasi tentang tugas&lt;/strong&gt;” (&lt;em&gt;task information&lt;/em&gt;) selalu merujuk ke sebuah tugas tertentu yang jelas batas-batasnya (misalnya meliput berita, menyerbu benteng musuh, membuat laporan penelitian). Informasi tentang tugas ini biasanya mengandung fakta (apa yang terjadi, siapa saja yang terlibat, kapan, di mana) selain juga mengandung keterangan tentang &lt;em&gt;domain&lt;/em&gt; sebuah tugas, baik yang bersifat faktual (misalnya, peristiwa pelantikan Presiden Obama yang harus diliput, benteng di daerah pemukiman yang harus diserbu, lingkup penelitian yang harus dibuat) maupun yang bersifat interpretasi (apa makna Obama bagi hubungan AS – Indonesia, bagaimana mengurangi korban sipil dalam perang di dalam kota, sejauh mana penelitian bermafaat bagi masyarakat). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small; font-family: Calibri;"&gt;Teori IAWT kemudian juga membedakan antara saluran dan sumber informasi yang digunakan di tempat kerja. Menurut Byström, sebuah “saluran” menjalankan fungsi menuntun seorang pekerja menuju “sumber” yang mengandung informasi tentang sebuah tugas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: small; font-family: Calibri;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 10pt;"&gt;Byström dan kawan-kawan lebih jauh lagi mengaitkan jenis informasi, sumber informasi, dan tugas. Perhatian pertama diberikan pada kondisi tugas itu; seberapa rumitkah tugas itu bagi seseorang. Ini dinamakan &lt;em&gt;task complexity&lt;/em&gt;.  Kemudian tingkat kerumitan ini dikaitkan dengan berbagai kemungkinan, yaitu:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 10pt;"&gt;Jika seseorang merasa tak memerlukan informasi sewaktu bekerja, maka sebuah tugas dimaknai secara pasif berdasarkan dokumentasi yang ada. Tugas seperti ini biasanya adalah tugas-tugas rutin.&lt;/div&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 10pt;"&gt;Sumber-sumber informasi tentang pekerjaan seringkali adalah orang-orang yang terlibat dalam suatu tugas, selain dokumen-dokumen di kantor.&lt;/div&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 10pt;"&gt;Sebuah aktivitas (&lt;em&gt;event&lt;/em&gt;) maupun sebuah kunjungan kerja juga dapat menjadi sumber informasi.&lt;/div&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 10pt;"&gt;Informasi tentang &lt;em&gt;domain &lt;/em&gt;kerja biasanya diperoleh dari literatur, dari pertemuan dengan pakar, dan dari pertemuan atau rapat.&lt;/div&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 10pt;"&gt;Pakar dan pertemuan atau rapat seringkali merupakan sumber informasi yang paling sering digunakan untuk menyelesaikan tugas.&lt;/div&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 10pt;"&gt;Ketika untuk sebuah tugas tertentu seseorang merasa memerlukan banyak jenis informasi, maka terjadi 3 kemungkinan:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Ia menggunakan banyak sumber, tetapi mengurangi variasi jenis informasi. &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 10pt;"&gt;Ia akan lebih banyak menggunakan rekan kerja sebagai sumber.&lt;/div&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 10pt;"&gt;Ia akan lebih sering mencari dokumen eksternal. &lt;/div&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 10pt;"&gt;Sementara itu kalau seseorang berpendapat bahwa tugas yang harus dikerjakannya semakin kompleks alias rumit, maka terjadi 3 kemungkinan:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Ia akan cenderung ingin menggunakan jenis informasi yang beragam.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Ia akan semakin ragu menetapkan apa sebenarnya yang ia inginkan.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Para pakar di kantor akan menjadi pihak yang semakin dihandalkan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 10pt;"&gt;Sampai di sini kita melihat bahwa teori IAWT sangatlah “biasa” sebab secara umum menjelaskan hal-hal yang sudah nampak wajar. Misalnya, adalah wajar jika dalam bekerja kita lebih mengandalkan teman sebagai sumber informasi daripada dokumen, sebab membaca dokumen tentu lebih merepotkan dibandingkan mendengarkan penjelasan seorang teman. Juga adalah wajar, jika kompleksitas pekerjaan meningkat maka jenis informasi yang dibutuhkan pun menjadi semakin beragam. Namun teori ini juga amat berguna karena membantu mengingatkan kita bahwa sebuah “tempat kerja” sebenarnya adalah juga sebuah “lapangan informasi”. Selama ini, kita selalu menghubungkan informasi dengan pengambilan keputusan atau penyelesaian masalah, bukan dengan penyelesaian kerja. Teori IAWT membantu kita mengalihkan perhatian pada hal-hal praktis yang terjadi di sebuah tempat kerja.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 10pt;"&gt;Sumber bacaan&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 10pt;"&gt;Byström, K. (2002). “Information and information sources in tasks of varying complexity” dalam &lt;em&gt;Journal of the American Society for Information Science and Technology&lt;/em&gt;, vol. 53, hal. 581 – 591.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-15455331706682324?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/15455331706682324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/10/perilaku-informasi-di-tempat-kerja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/15455331706682324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/15455331706682324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/10/perilaku-informasi-di-tempat-kerja.html' title='PERILAKU INFORMASI DI TEMPAT KERJA'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-1989269363188559303</id><published>2009-09-15T15:37:00.003+07:00</published><updated>2009-09-15T15:41:48.392+07:00</updated><title type='text'>MET'S HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://img.123greetings.com/eventsnew/edec_eidulfitr_relbless/8515-018-08-1060.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 250px;" src="http://img.123greetings.com/eventsnew/edec_eidulfitr_relbless/8515-018-08-1060.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-1989269363188559303?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/1989269363188559303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/09/selamat-hari-raya-idul-fitri-1430-h.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/1989269363188559303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/1989269363188559303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/09/selamat-hari-raya-idul-fitri-1430-h.html' title='MET&apos;S HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-1279663434538857288</id><published>2009-09-15T14:39:00.000+07:00</published><updated>2009-09-15T14:41:06.660+07:00</updated><title type='text'>SISTEM INFORMASI PERPUSTAKAAN TERPADU</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DAN PERPUSTAKAAN&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang eksponensial, munculnya format-format baru kemasan informasi, online access serta arus informasi yang telah membawa konsekwensi luas bagi perpustakaan era ini serta menciptakan kebutuhan layanan yang kompetitif, layanan yang serba cepat, simple serta memberikan banyak alternatif. Layanan perpustakaan yang lambat, manual dan tidak mampu memberi banyak alternatif tentu akan mengecewakan user. &lt;span id="more-21"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Format format pustaka baru yang muncul sebagai konsekwensi dari perkembangan teknologi informasi yang terjadi adalah fakta yang harus cepat direspon dan disikapi positif oleh perpustakaan agar perpustakaan tetap eksis dan semakin memiliki daya magnet bagi masyarakat pengguna. Format pustaka baru tersebut adalah pustaka digital dan pustaka multimedia. Jenis pustaka ini sebenarnya bukan barang baru di dunia teknologi dan bukan barang asing di masyarakat. Hanya saja perpustakaan yang mengelola pustaka jenis multimedia masih jarang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada masa dulu pustaka image/gambar banyak tersedia dalam bentuk lembaran foto dan lukisan, pustaka rekaman audio dalam kemasan box audio cassette recorder, pustaka video dalam kemasan box video cassette recorder dengan ukuran relatif besar, memakan tempat dan kualitasnya isinya bisa berkurang seiring dengan perjalanan waktu. Saat ini semua jenis pustaka diatas lebih populer dalam kemasan softfile. Pustaka berupa soft-file memiliki karakter tidak terlihat secara fisik, mudah dibawa dalam kemasan yang mungil, mudah dikopi, tidak berkurang kualitasnya karena usia, dan memungkinkan diakses dalam jaringan yang luas melalui teknologi informasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pustaka digital dan multimedia dalam format fisik akan semakin langka dan semakin ditinggalkan masyarakat seiring dengan waktu. Sebaliknya pustaka digital dan pustaka multimedia format digital akan semakin populer, semakin banyak tersedia dan semakin familier dengan masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Baik pustaka digital maupun pustaka multimedia tidak mungkin dikelola oleh perpustakaan secara manual. Keduanya membutuhkan tersedianya infrastruktur teknologi informasi. Komputer, instalasi jaringan komputer, software sistem informasi perpustakaan, printer, scanner, barcode reader, wareless access point, dan lain lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keputusan untuk menghadirkan teknologi informasi di perpustakaan guna mendukung ‘layanan prima’ pada perpustakaan merupakan keputusan bijaksana dan cerdas. Perpustakaan perpustakaan di negara maju telah membuktikan kemajuan layanan perpustakaan dengan mengimplementasikan layanan berbasis Teknologi Informasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perpustakaan manapun yang tidak cepat mengikuti perkembangan TI tentu tidak akan mampu memberikan layanan kompetitif, akan semakin ditinggalkan user, akan mengecewakan dan akan berkesan ‘low performance’.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;FORMAT FORMAT KEMASAN PUSTAKA&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain pustaka format cetakan juga dikenal pustaka digital dan pustaka multimedia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pustaka Tercetak&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pustaka format cetakan bisa diartikan sebagai pustaka yang berupa kumpulan lembaran kertas yang dijilid yang didalamnya memuat informasi. Misalnya: buku teks, kamus, ensiklopedi, yearbook, almanak, majalah, jurnal, kliping, makalah, skripsi, tesis, novel, komik, atlas dll. Jenis pustaka tercetak sudah sangat populer di perpustakaan sejak lama dan sampai saat ini masih sangat banyak digunakan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pustaka Digital&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pustaka format digital bisa diartikan sebagai pustaka cetakan yang dikemas dalam format file. Jenis pustaka digital juga hampir sama dengan pustaka cetakan. Buku teks, kamus, ensiklopedi, yearbook, almanak, majalah, jurnal, kliping, makalah, skripsi, tesis, novel, komik, atlas dll. Informasi dalam pustaka digital terdiri dari rangkaian kode kode digital yang tersimpan dalam suatu media simpan (storage). Media simpan ini bisa berupa harddisk, scsi, flashdisk memori, disket, cd, dvd, dll. Standar format file pustaka digital yang paling populer saat ini adalah PDF.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan pustaka format digital maka koleksi pustaka dalam bentuk tercetak yang tersedia pada perpustakaan seluas 5000 meter persegi bisa diringkas menjadi sebesar satu buah notebook saja. Mudah dikopi, ditenteng kemana-mana, diakses melalui jaringan, serta sudah dilengkapi dengan mesin pencari yang bekerja cepat, sangat praktis dan memberi banyak alternatif melalui dukungan ‘relasional antar data’.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jenis pustaka ini sudah sangat populer dikalangan masyarakat terpelajar, juga sangat populer di dunia cyber (internet). Sudah banyak jurnal, majalah dan terbitan berkala lainnya yang diterbitkan dalam format PDF. Banyak juga toko buku online yang menjual pustaka digital format PDF.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pustaka Multimedia&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pustaka multimedia bisa diartikan sebagai pustaka yang muatan informasinya berupa gambar, suara, video, teks, animasi, program interaktif atau kombinasinya. Pustaka tercetak dan digital dibaca dengan indera mata saja, sedangkan pustaka multimedia dapat dibaca dengan indera mata dan telinga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Disamping ketersediaannya yang makin banyak, fungsi dan kemanfaatan pustaka multimedia semakin disadari dan dirasakan oleh masyarakat. Sayangnya wacana mengenai perpustakaan multimedia masih sepi di dunia perpustakaan khususnya di Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Obyek dari pustaka multimedia ini akan terus berkembang dan terus berkembang. Pada sekolah tingkat TK dan SD akan dijumpai karya karya siswa berupa karya lukis dan karya kerajinan tangan. Akan sangat bermanfaat jika karya karya tersebut diseleksi, discan atau difoto untuk di upload ke perpustakaan digital. Pengelola perpustakaan juga bisa aktif mengumpulkan image dari berbagai obyek, berbagai jenis binatang untuk kemudian di upload, sehingga pustaka image di perpustakaan juga bisa berfungsi sebagai kamus visual.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian juga pada perpustakaan sekolah SMP, SMA dan Perguruan tinggi. Bagi mereka rekaman suara dari acara pertemuan ilmiah, seminar, workshop, pelatihan akan sangat bermanfaat. Untuk belajar bagaimana berpidato mereka bisa mengakses rekaman video mengenai pidato. Untuk belajar berdiskusi, mereka bisa mengkases rekaman video atau audio mengenai diskusi. Untuk mengenal sejarah mereka bisa mengakses rekaman film dokumenter.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;PERPUSTAKAAN DIGITAL (DIGITAL LIBRARY)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seiring dengan trend perpustakaan digital, banyak lembaga, sekolah dan perguruan tinggi berlomba lomba untuk mendapatkan predikat memiliki dan mengelola perpustakaan digital. Dalam aplikasinya, banyak kesalahan persepsi dijumpai. Beberapa perpustakaan memberi judul Digital Library pada fasilitas akses publik WEB mereka. Ketika di akses ternyata isinya adalah katalog pustaka tercetak dan tidak dijumpai akses ke database pustaka digital, karena memang perpustakaan tidak mengelola pustaka digital yang dikelola secara sistem informasi berbasis TI.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut penulis sebuah perpustakaan tidak bisa dikatakan sebagai Digital Library hanya karena memiliki file-file pustaka digital yang ditimbun di cd maupun dalam hardisk. Juga belum bisa disebut perpustakaan digital dengan memiliki katalog buku secara online.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perpustakaan digital atau digital library adalah perpustakaan yang menghimpun dan mengelola pustaka digital, menyimpannya secara sistematis kedalam database komputer, baik meta data berikut sourcenya, melayankan pustaka kepada user melalui teknologi jaringan serta memungkinkan user untuk membaca fullteks atau men-download pustaka digital.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;APLIKASI TEKNOLOGI INFORMASI DI PERPUSTAKAAN&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Fungsi Otomasi&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada tahap ini perpustakaan memanfaatkan teknologi informasi intuk menggatikan pekerjaan-pekerjaan manual di perpustakaan. Misalnya mengetik surat dengan MS Word, membuat laporan dengan MS exel, mengetik dan mencetak katalog dengan komputer, katalog elektronik dengan CDS-ISIS, dll. Pada dasarnya pekerjaan pekerjaan tersebut bisa dilakukan secara manual. Maka istilah yang dipakai saat itu adalah otomasi atau otomatisasi. Artinya dari manual menjadi otomatis. Saat ini istilah ini sudah tidak tepat lagi di gunakan di perpustakaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Fungsi Penciptaan Fungsi-fungsi Layanan Baru&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perpustakaan sebagai organisasi rutin yang kemudian menggunakan peralatan digital tidak akan memberikan dampak yang revolusioner terhadap proses yang berjalan. Kecuali jika hadirnya teknologi informasi di perpustakaan telah mampu:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- Menciptakan fungsi-fungsi layanan baru&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- Menciptakan jenis-jenis produk baru&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- Memungkinkan respon yang cepat terhadap lingkungan perpustakaan yang cepat berubah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kesalahpahaman&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadirnya teknologi informasi di Perpustakaan tidak boleh disalahpahami sebagai trend teknologi. Sehingga kesannya menjadi ikut ikutan serta takut distempel ketinggalan jaman. Implementasi teknologi informasi di perpustakaan haruslah disertai bekal pengetahuan, kesiapan materi, bekal keterampilan yang memadai dan rencana yang matang. Jika tidak bisa mengakibatkan pemborosan sumberdaya dan energi yang sia-sia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;SISTEM INFORMASI PERPUSTAKAAN BERBASIS TI&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejak awal berdirinya perpustakaan sudah memiliki sistem informasi yang mengelola dan mendokumentasikan banyak proses administrasi di perpustakaan. Misalnya pada layanan peminjaman perpustakaan memanfaatkan kartu buku dan bukti pinjam buku sebagai salah satu perangkat sistem informasinya. Untuk membantu user, perpustakaan menyediakan kartu katalog sebagai salah satu perangkat sistem informasi. Sistem informasi model diatas adalah sistem informasi berbasis manual.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seiring perkembangan teknologi, perangkat perangkat berikut proses proses transaksi yang terjadi di perpustakaan satu persatu digantikan oleh perangkat teknologi informasi. Jika perpustakaan sudah menjadikan teknologi informasi sebagai perangkat utama dalam proses administrasi dan layanannya maka perpustakaan tersebut bisa disebut perpustakaan berbasis TI (teknologi informasi).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;TERPADU VS PARSIAL&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada prakteknya implementasi teknologi informasi di perpustakaan sering terjadi sacara gradual atau susul menyusul seiring perkembangan hardware dan juga software aplikasi perpustakaan. Keadaan ini sering menyebabkan implementasi di perpustakaan menjadi tambal sulam dan sangat parsial. Masing masing proses menggunakan tool yang berbeda. Misalnya perpustakaan menggunakan katalog komputer tetapi proses administrasi sirkulasinya masih manual. Menggunakan software X untuk pustaka textbook dan menggunakan software Y untuk pustaka digital. Menggunakan software V untuk database pustaka dan sirkulasi pustaka tetapi mencetak barcode bukunya menggunakan software W.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perpustakaan seperti diatas disebut sebagai perpustakaan yang menggunakan Sistem informasi perpustakaan parsial. Sistem informasi model parsial ini juga akan menyebab banyak redundancy atau pengulangan input dan proses data. Misalnya harus memasukkan data anggota di dua sistem, kemudian pada saat mengirim surat tagihan harus mengetikkan lagi data anggota, kemudian pada saat akan bebas pustaka harus mengetikkan lagi. Semestinya sekali data di inputkan akan bisa digunakan terus sampai yang bersangkutan mencabut kenggotaannya di perpustakaan. Misal lain: pencetakan kode barcode buku berdasarkan nomor inventaris yang mestinya bisa langsung cetak karena sebelumnya nomor inventaris telah di inputkan. Tetapi karena program pencetak barcodenya berbeda, maka harus mengetikkan data inventaris lagi pada sistem yang berbeda. Kasus diatas barulah sedikit dari sekian banyak kelemahan sistem yang parsial.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kebalikan sistem parsial adalah sistem informasi terpadu atau terintegrasi. Pada sistem informasi perpustakaan terpadu hampir semua proses pengolahan informasi di perpustakaan dikelola dalam satu sistem saja. Dari proses administrasi, database semua jenis pustaka, sirkulasi, pengolahan koleksi, surat menyurat, layanan akses bagi user, dll. Dalam sistem terintegrasi banyak sekali fungsi fungsi yang merelasionalkan berbagai tabel data sehingga menghasilkan berbagai fungsi baru, layanan baru dan report report baru yang akan sangat bermanfaat bagi user maupun manajemen untuk membuat penilaian dan membuat keputusan. Fungsi fungsi relasional data ini tidak mungkin dilakukan oleh sistem informasi yang parsial atau terpisah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN BERBASIS TI&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam hal pembangunan dan pengembangan bisa diklasifikasiskan dalam 3 keadaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Perpustakaan yang baru direncanakan untuk dibangun.&lt;br /&gt;2. Perpustakaan yang sedang menyusun rencana pengembangan&lt;br /&gt;3. Perpustakaan yang sedang dalam proses pengembangan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada perpustakaan yang baru direncanakan untuk dibangun dan perpustakaan yang sedang menyusun rancana pengembangan, bekal pemahaman penyelenggara perpustakaan mengenai perpustakaan berbasis TI dengan mudah bisa di siapkan dan di terapkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berbeda dengan perpustakaan yang sudah terlanjur mengambil langkah pengembangan yang bahkan sudah mengeluarkan rupiah yang tidak sedikit. Bayangkan jika ternyata penyelenggara baru menyadari bahwa konsep perpustakaan berbasis TI yang telah dikonsepkan ternyata tidak tepat. Juga pilihan terhadap software sistem informasi yang dipakai ternyata kurang tepat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perpustakaan seperti ini akan cenderung resisten terhadap perubahan ditengah jalan mengingat investasi yang sudah terlanjur dikeluarkan untuk pengembangan sistem cukup besar. Perlu disadarkan bahwa kesalahan merumuskan model dan memilih sistem informasi tidak saja berakibat pada pemborosan biaya dan energi yang sia-sia, tetapi juga memberikan dampak langsung pada kwalitas layanan, kepuasan pengguna, efektitas proses dan juga tidak terpenuhinya kebutuhan pengguna. Selanjutnya, pada saatnya nanti ketika harus bermigrasi ke sistem yang berbeda akan membutuhkan biaya dan energi yang mungkin lebih besar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada kondisi tertentu dibutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan dan mengambil resiko banting stir demi untuk kepentingan layanan prima kepada pengguna, menghindari resiko jelek pada masa yang akan datang, serta untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal penting yang harus dipertimbangkan dalam merumuskan konsep dan memilih sistem antara lain:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Disain perpustakaan berorientasi saat ini dan kedepan.&lt;br /&gt;2. Desain sintem informasi terintegrasi / terpadu&lt;br /&gt;3. Kemampuan mengelola pustaka tercetak, digital dan multimedia&lt;br /&gt;4. Kemudahan pengembangan sistem untuk masa yang akan datang&lt;br /&gt;5. Mengantisipasi ramalan trend teknologi pada masa yang akan datang&lt;br /&gt;6. Sesuai dengan jenis perpustakaan yang sedang atau akan dikembangkan&lt;br /&gt;7. Jaminan kerjasama technical support terhadap sistem dan infrastruktur TI.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: Priyo Dwi Abang Suranto&lt;br /&gt;Email:  &lt;a href="mailto:Priyo2as@yahoo.com" title="mailto:Priyo2as@yahoo.com"&gt;Priyo2as at yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-1279663434538857288?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/1279663434538857288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/09/sistem-informasi-perpustakaan-terpadu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/1279663434538857288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/1279663434538857288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/09/sistem-informasi-perpustakaan-terpadu.html' title='SISTEM INFORMASI PERPUSTAKAAN TERPADU'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-764872298661587655</id><published>2009-09-15T14:35:00.000+07:00</published><updated>2009-09-15T14:36:30.411+07:00</updated><title type='text'>PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DIGITAL</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada akhir-akhir ini, berbagai perkembangan yang terjadi memang cukup menakjubkan, khususnya dalam bidang teknologi terutama dalam hal informasi dan komunikasi. Teknologi informasi yang tadinya dikenal dengan teknologi komputer, beserta perangkat elektronika lainnya, menjelma menjadi satu dalam perpaduan kemampuan.&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semula dengan ditemukannya berbagai perangkat sederhana, mulai dari telepon, yang berbasis analog, maju dan berkembang terus hingga muncul berbagai perangkat elektronika lainnya. Hingga akhirnya teknologi ini terintegrasi satu dengan lainnya.&lt;/div&gt;    &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sisi lain, akibat perkembangan dari kemampuan teknologi, terjadi juga perubahan yang cukup dramatis di sisi perjalanan dan operasi bisnis, yang menghasilkan pelayanan-pelayanan baru, termasuk dalam hal pemanfaatan jaringan dunia tanpa batas.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Telepon, yang pada awal ditemukan pada tahun 1876, diniatkan sebagai media untuk mengirimkan suara, dan salah satu penerapan konsep analog, juga memberikan konstribusi yang tidak sedikit terhadap perkembangan teknologi. Sampai dengan sekitar tahun 1960-an, penerapan analog ini masih tetap bertahan, hingga setelah itu, mulai mengarah kepada teknologi digital.&lt;br /&gt;Kemudian, teknologi digital yang mulai merambah ke berbagai rancangan teknologi yang diterapkan dan digunakan oleh manusia. Facsimile, adalah salah satu batu loncatan dari pemanfaatan jaringan telekomunikasi, yang mampu memberikan konstribusi dan pemikiran, bahwa datapun mampu untuk dilewatkan melalui media telepon tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Begitu juga dengan perkembangan komputer. Komputer pertama yang diperkenalkan adalah ENIAC II, diinstalasi dan digunakan pada tahun 1946, setelah perang dunia kedua. Komputer ini merupakan sebuah rangkaian elektronika lampu tabung seberat 20 ton. Perkembangannya juga cukup menakjubkan, baik dalam ukuran dan kemampuan kerjanya.&lt;br /&gt;Kini, ukuran komputerpun, hanya dalam ukuran segenggam tangan. Dengan ukuran sedemikian, berbagai proses mampu diolahnya, tidak hanya untuk melakukan proses yang berhubungan dengan pengolahan perhitungan dan database, tetapi juga mampu dalam hal berkomunikasi dengan pengguna lainnya yang menggunakan perangkat yang tadinya masih merupakan pemisahan dari segi fungsi.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Protocol, merupakan salah satu yang memegang peranan kunci disini, sehingga berbagai perangkat dapat berinteraksi satu dengan lainnya. Dengan adanya protocol ini, satu mesin dengan mesin lainnya dapat untuk saling berkomunikasi. Protocol merupakan suatu metoda yang mengakibatkan suatu alat dengan alat lainnya dapat saling berkomununikasi sehingga terjadilah percakapan sehingga akhirnya berjabat tangan (handshaking), dan dapat diibaratkan kesepakatan bahasa antar dua alat, yang mengakibatkan satu sama lainnya mengerti apa yang diperintahkan dan apa yang sedang diolah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Suatu perangkat yang dihasilkan dari pabrik yang berbeda, sesuatu yang mungkin untuk ikut berperanan dalam menyemarakkan bidang teknologi informasi dan telekomunikasi ini, sebab dengan protocol yang sama, alat itupun bisa menggabungkan diri menjadi bagian dari berbagai perangkat yang ada. Begitu juga dengan bandwith, sebagai jalur data, compression, codes, dan bits, menjadi tulang punggung yang mendasar, terutama untuk perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dua bulan berselang setelah Neil Amstrong melangkah di bulan, terjadi suatu langkah yang besar di UCLA, sewaktu komputer pertama dikoneksikan ke ARPANET. ARPANET mengkoneksikan empat site, diantaranya UCLA, Stanford Research Institute (SRI), UC Santa Barbara, dan University of Utah. Pada tahun 1977, terdapat lebih seratus mainframe dan komputer mini yang terkoneksi ke ARPANET yang sebagian besar masih berada di Universitas.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan adanya fasilitas ini, memungkinkan dosen-dosen dan mahasiswa dapat saling berbagi informasi satu dengan lainnya tanpa perlu meninggalkan komputer mereka. Saat ini, terdapat lebih dari 4.000.000 host internet di seluruh dunia. Sejak tahun 1988, Internet tumbuh secara eksponensial, yang ukurannya kira-kira berlipat-ganda setiap tahunnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Istilah Internet pada mulanya diciptakan oleh para pengembangnya karena mereka memerlukan kata yang dapat menggambarkan jaringan dari jaringan-jaringan yang saling terkoneksi yang tengah mereka buat waktu itu. Internet merupakan kumpulan orang dan komputer di dunia yang seluruhnya terhubung oleh bermil-mil kabel dan saluran telepon, masing-masing pihak juga dapat berkomunikasi karena menggunakan bahasa yang umum dipakai.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jadi apakah yang dimaksud dengan Internet ? Pertama, Internet adalah kumpulan yang luas dari jaringan komputer besar dan kecil yang saling bersambungan menggunakan jaringan komunikasi yang ada di seluruh dunia. Kedua, Internet adalah seluruh manusia yang secara aktif berpartisipasi sehingga membuat Internet menjadi sumber daya informasi yang sangat berharga. Apakah yang mebuat hal tersebut bisa bekerja? Semua adalah karena permainan listrik dan gelombang yang akhirnya diolah sedemikian rupa. Semua berasal dari analog maupun digital.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;From : http://diskominfo.kuningankab.go.id&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-764872298661587655?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/764872298661587655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/09/perkembangan-teknologi-digital.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/764872298661587655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/764872298661587655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/09/perkembangan-teknologi-digital.html' title='PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DIGITAL'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-6171008627121258450</id><published>2009-09-07T15:47:00.001+07:00</published><updated>2009-09-07T15:47:31.220+07:00</updated><title type='text'>Today’s Librarian: Hip, Delusional, and Doomed</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;"The response of some librarians to the digital revolution is described by CNN.com as follows: “Some wear tattoos, piercings and dress like they belong on the streets of Brooklyn instead of behind bookshelves. They’re also trying on new titles. Instead of librarians, they’re ‘information specialists’ or ‘information scientists.’ “ Frankly, I don’t care if my librarian “wears” tattoos or piercings, though the poor choice of verb is an inadvertent indicator of the superficiality of the gesture, and I don’t care if they call themselves “librarians,” “information scientists” or “corporeal data facilitators.” What I care about is if my librarian is helping, in his or her small way, to maintain our culture and our civilization, or whether he or she is acquiescing, in a limp and laughable way, to its degradation." &lt;/blockquote&gt; &lt;div class="technorati_tags"&gt;&lt;img src="http://lisnews.org/modules/technorati/technobubble.gif" /&gt;&lt;strong&gt;Technorati Tags: &lt;/strong&gt;&lt;a href="http://technorati.com/tag/Librarians" rel="tag"&gt;Librarians&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;      &lt;div class="clear-block clear"&gt;     &lt;div class="meta"&gt;           &lt;div class="terms"&gt;&lt;ul class="links inline"&gt;&lt;li class="first last taxonomy_term_41"&gt;&lt;a href="http://lisnews.org/taxonomy/term/41" rel="tag" title="Librarians" class="taxonomy_term_41"&gt;Librarians&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;            &lt;div class="links"&gt;&lt;ul class="links inline"&gt;&lt;li class="first last forward_links"&gt;&lt;a href="http://lisnews.org/forward?path=node/34540" title="Forward this page to a friend" class="forward-page forward_links"&gt;Email this Suggestion&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-6171008627121258450?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/6171008627121258450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/09/todays-librarian-hip-delusional-and.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/6171008627121258450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/6171008627121258450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/09/todays-librarian-hip-delusional-and.html' title='Today’s Librarian: Hip, Delusional, and Doomed'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-6249280488788058317</id><published>2009-09-07T15:41:00.000+07:00</published><updated>2009-09-07T15:44:41.536+07:00</updated><title type='text'>Deklarasi Bali Untuk Berbagi Akses Perpustakaan Digital</title><content type='html'>&lt;p&gt;Perpustakaan digital di Indonesia bertekad membuka akses koleksi masing-masing sehingga bisa dimanfaatkan sumber daya informasinya secara bersama. Demikian salah satu butir deklarasi yang dihasilkan pada Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) I, yang berlangsung di Hotel Discovery Kartika Plaza, Kuta, Bali, Selasa (2/12) lalu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam 7 butir deklarasi tersebut, juga ditegaskan tekad untuk menjalankan dan mematuhi sepenuhnya UU RI No.43 tahun 2007 tentang perpustakaan, pemanfaatan berbagai investasi untuk pengembangan perpustakaan, dan  menjalin kerjasama inter dan antar institusi agar terjadi interaksi pertukaran informasi dari daerah yang kaya akan informsi ke daerah yang miskin akan informasi (information resource sharing).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain itu, perpustakaan digital akan mengembangkan isi digital (digital content) perpustakaan untuk bisa dimanfaatkan secara bersama, mengadakan pelatihan SDM perpustakaan yang berkelanjutan, serta mengadakan konferensi perpustakaan digital Indonesia setiap tahunnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketua Panitia KPDI I Zainal A. Hasibuan, Ph.D menyatakan, sesuai dengan tujuannya, KPDI diharapkan menjadi suatu konferensi nasional tahunan yang mewadahi para akademisi, peneliti, pemerintah, dan pustakawan Indonesia untuk bertukar pikiran dan pengalaman tentang pemanfaatan bersama sumber daya informasi dan membangun jaringan sehingga menutup jurang antara daerah yang kaya informasi dengan daerah yang miskin informasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pelaksanaan acara KPDI I juga berbarengan dengan penyelenggaraan acara International Conference on Asia-Pacific Digital Libraries ke-11, 2-5 Desember 2008. Tahun ini, Perpustakaan Nasional, Universitas Indonesia, dan Universitas Kristen Petra, bertindak sebagai tuan rumah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Peserta ICADL ke-11 dan KPDI I ini berjumlah 350 orang yang terdiri dari 113 orang peserta asing, 237 orang peserta lokal, dan berasal dari 30 negara. Peserta berasal dari berbagai universitas, sekolah, perpustakaan umum daerah, berbagai pusat informasi, LSM, perusahaan  swasta, dan instansi pemerintah lainnya”, tegas Zainal A Hasibuan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;ICADL adalah sebuah konferensi internasional yang diselenggarakan setiap tahun secara bergantian di berbagai kota di Asia Pasifik. Konferensi ini merupakan forum yang sangat bergengsi dan ajang pertemuan akbar bagi para pakar, praktisi, dan pembuat keputusan di bidang perpustakaan, dokumentasi, ilmu informasi, informatika, ilmu komputer, telematika, dan lainnya.&lt;/p&gt; ICADL ke-11 secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor III Universitas Indonesia Sunardji SE.,MM. Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Komputer terpilih Prof. T. Basaruddin, Ph.D memberikan sambutan pada acara makan malam yang dihadiri seluruh panitia dan para pembicara&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-6249280488788058317?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/6249280488788058317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/09/deklarasi-bali-untuk-berbagi-akses.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/6249280488788058317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/6249280488788058317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/09/deklarasi-bali-untuk-berbagi-akses.html' title='Deklarasi Bali Untuk Berbagi Akses Perpustakaan Digital'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-6974858794778964208</id><published>2009-09-01T16:00:00.000+07:00</published><updated>2009-09-01T16:05:31.694+07:00</updated><title type='text'>Sekilas Tentang e-Journal</title><content type='html'>&lt;h2&gt;e-Journal&lt;/h2&gt; &lt;p style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;e-journal atau jurnal elektronik adalah solusi yang dapat diterapkan dalam mengatasi masalah tersebut.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;e-Journal secara sederhana dapat diartikan sebagai penyampaian informasi dan komunikasi atau jurnal secara online. e-Journal menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai suatu jurnal konvensional (terbitan dan kajian secara mendalam) sehingga dapat menjawab tantangan globalisasi. e-journal tidak berarti menggantikan model jurnal konvensional, tetapi memperkuat jurnal tersebut melalui pengelolaan penulis, karya tulis dan tanggapan atas karya tersebut, bahkan sampai pada tingkat mendiskusikan secara tak terbatas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Karakteristik e-Journal adalah &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt;, memanfaatkan teknologi elektronik dimana antara penerbit, penulis dan pembaca dapat saling berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang bersifat protokoler. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, memanfaatkan keunggulan TIK (komputer dan jaringan komputer). &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, data karya tulis disimpan secara mandiri sehingga dapat diakses kapan saja dan dimana saja bila penerbit, penulis dan pembaca memerlukannya.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;Kelebihan e-Journal&lt;/h2&gt; &lt;h3&gt;Kompresi Data&lt;/h3&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ini adalah kelebihan terbesar dari bentuk digital. Dengan asumsi sebuah keping CD yang kapasitasnya 700 MB dapat memuat buku dengan ketebalan lebih dari 4 ribu halaman.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Jika dalam sebuah server jurnal &lt;em&gt;online&lt;/em&gt; mempunyai kapasitas HardDisk sebesar 40 GB maka server jurnal tersebut dapat memuat setara 228 ribu halaman buku dalam format pdf atau sama dengan 345 jilid kamus bahasa Inggris-Indonesia, tiap jilid setebal 660 halaman, total berat 345 kg, yang jika disusun berjajar membutuhkan ruang sepanjang 15m.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3&gt;Lebih ringan&lt;/h3&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Data yang telah dikompresi akan jauh lebih ringan dan akan lebih mudah membawa sekeping CD daripada membawa 6 kamus bahasa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Inggris-Indonesia yang mempunyai berat 6 kg.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3&gt;Mudah untuk untuk publikasi, diakses dan disalin&lt;/h3&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Dimasa lampau jika menginginkan karya tulis agar dapat dimuat dalam sebuah jurnal ilmiah membutuhkan waktu, tenaga dan fikiran yang besar.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Kita harus mengirimkan ke penerbit dalam bentuk cetakan dengan mengantarkan langsung atau mengirimkan lewat pos, kemudian kita masih harus menunggu beberapa minggu untuk mengetahui karya tulis kita dimuat atau tidak.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Setelah terbit pun jurnal ilmiah tersebut kebanyakan beredar pada kalangan terbatas saja, dan untuk menyalinnya kita perlu biaya tambahan baik harus beli jurnal tersebut atau menfotokopinya.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Dengan kelebihan e-Journal tidak perlu harus mencetaknya terlebih dahulu cukup diketik dan disimpan dalam bentuk file, akses internet yang hanya keluar uang Rp. 3.500 per jam (jika yang didapat lebih dari 1 karya tulis uang tersebut jauh lebih murah), tinggal buka e-Journal, &lt;em&gt;upload&lt;/em&gt; file karya imiah yang dinginkan dan tunggu konfirmasi paling lambat 1 x 24 jam sudah dapat mengetahui karya yang dikirim&lt;span&gt; &lt;/span&gt;diterbitkan atau tidak. Selanjutnya jika karya tulis yang dikirim dimuat sudah pasti jutaan orang diseluruh dunia mempunyai kesempatan membaca karya ilmiah tersebut tanpa terbatasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kelemahan&lt;/span&gt; e-Journal&lt;/h2&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Semakin banyaknya informasi tersedia secara online, memberikan efek positif bagi dunia pendidikan dan penelitian. Namun hal ini tidak terlepas dari berbagai kendala yang perlu diwaspadai oleh pengguna internet.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3&gt;Keamanan Data&lt;/h3&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Masalah utama pemakai internet adalah kemanan data. Serangan virus, &lt;em&gt;spamming&lt;/em&gt; &lt;em&gt;mail&lt;/em&gt; merupakan ancaman pertama begitu kita &lt;em&gt;online&lt;/em&gt; di internet. Virus dapat menghapus data di &lt;em&gt;harddisk&lt;/em&gt;, merusak file dan mencuri informasi pribadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3&gt;Hak cipta&lt;/h3&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Karya ilmiah yang dibuat &lt;em&gt;online&lt;/em&gt; seringkali dijiplak oleh pihak lain tanpa seijin pemiliknya. Kalimat-kalimat pada suatu artikel dikutip tanpa menyebutkan referensi asalnya. Ada juga pihak tak bertanggung jawab yang memakai material di internet, tapi menghapus nama pengarangnya, atau sumber asli artikel tersebut. Seolah-olah artikel itu adalah karyanya sendiri. Hal-hal ini dapat dikategorikan kejahatan intelektual, dan merugikan penulis asli tulisan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3&gt;Kendala teknis untuk artikel yang hanya tersedia versi cetak&lt;/h3&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Tidak semua jurnal tersedia dalam bentuk elektronik. Terutama untuk artikel yang diterbitkan sebelum tahun 1990, seringkali hanya tersedia versi cetak. Misalnya jurnal ilmiah IEEE Trans. &lt;em&gt;On Pattern Analysis and Machine Intelligence&lt;/em&gt; (PAMI), kalau dilihat di situs http://www.computer.org/tpami hanya menyediakan versi elektronik mulai tahun 1988. Artikel-artikel yang sudah tua juga masih tersedia dalam wujud kertas. Namun dewasa ini, sudah ditemukan teknologi &lt;em&gt;scanner&lt;/em&gt; yang mampu men-scan satu halaman dokumen dalam waktu kurang dari 1 detik, dan langsung dikonversikan ke format PDF seperti “&lt;em&gt;ScanSnap&lt;/em&gt;” produk Fujitsu, yang sudah termasuk di dalamnya software Adobe Acrobat untuk mengkonversikan hasil scan ke dalam format PDF (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Nugroho,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; 2004).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Selain masalah-masalah tersebut diatas masih banyak hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam meng-&lt;em&gt;online&lt;/em&gt;-kan informasi. Pada pembahasan berikut akan diuraikan bagaimana membangun sebuah E-Journal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Heading1Char"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 110%;"&gt;bagaimana membangun &lt;span&gt; &lt;/span&gt;e-journal|3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Untuk membangun e-Journal sebenarnya tidaklah membutuhkan biaya yang mahal.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Berikut beberapa hal yang perlu dipenuhi untuk membangun &lt;em&gt;E-Journal&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;Sumber daya manusia&lt;/h2&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; letter-spacing: 0.35pt;"&gt;Dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; letter-spacing: 0.35pt;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; letter-spacing: 0.35pt;"&gt;al ini sumber daya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; letter-spacing: 0.1pt;"&gt;manusia dapat dibagi menjadi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; letter-spacing: 0.1pt;"&gt; 1) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Pengguna, yaitu orang-orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; letter-spacing: 0.1pt;"&gt;yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; letter-spacing: 0.1pt;"&gt;menggunakan TIK atau produk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;informasi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; letter-spacing: 0.4pt;"&gt; &lt;span&gt; &lt;/span&gt;2) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pengembang, &lt;span style="letter-spacing: 0.35pt;"&gt;yaitu &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.15pt;"&gt;orang-orang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; letter-spacing: 0.05pt;"&gt;yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; letter-spacing: -0.05pt;"&gt;mengembangkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; letter-spacing: 0.25pt;"&gt;dan/atau meng&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; letter-spacing: 0.25pt;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; letter-spacing: 0.25pt;"&gt;operasikan TIK tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ketersediaan sumber daya manusia ini sangat penting karena mendukung keberlangsungan e-Journal yang akan dibangun.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Jika kita tidak memilki minimal 1 orang yang ahli dalam pengelolaan sistem TIK, maka keberlangsungan e-Journal &lt;span&gt; &lt;/span&gt;tersebut tidak dapat terjamin.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Tugas dari SDM tersebut adalah menjaga tranformasi data yang terjadi antara pengguna dengan sistem, memberi otentifikasi pengguna, membackup data, menjaga data dari serangan virus dan menjaga keberlangsungan sistem yang berjalan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;Perangkat keras&lt;/h2&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kebutuhan perangkat keras sebenarnya tergantung dari keseriusan lembaga atau institusi dalam membangun e-Journal tersebut.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Jika memang memiliki keseriusan maka diperlukan biaya yang cukup mahal.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Sebagai gambaran untuk membangun e-Journal &lt;span&gt; &lt;/span&gt;diperlukan minimal 1 buah komputer server dengan perkiraan harga Rp. 20 jutaan,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;koneksi internet 24 jam dengan perkiraan termurah adalah Rp. 3 jutaan perbulan, dan adanya jaringan komputer lokal (LAN) agar pengguna dapat lebih mudah mengakses.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Sebenarnya dengan perkiraan biaya tersebut bagi lembaga atau institusi besar seperti perguruan tinggi atau universitas adalah harga yang murah jika dibandingkan dengan manfaat yang akan diterima.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Idealnya memang setiap Perguruan Tinggi memiliki Server sendiri dan komputer &lt;em&gt;workstation&lt;/em&gt; yang terintegrasi dengan jaringan lokal (LAN).&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Server digunakan sebagai komputer pusat penampungan dan pengelola data, sedang komputer &lt;em&gt;workstation&lt;/em&gt; digunakan sebagai komputer akses data.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Perangkat lunak&lt;/h2&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Perangkat lunak yang dibutuhkan untuk membangun e-Journal dapat diperoleh secara gratis di internet.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Saat ini telah tersedia ratusan &lt;em&gt;software&lt;/em&gt; gratis yang berfungsi sebagai Sistem Manajemen Konten (&lt;em&gt;Content Management System&lt;/em&gt;).&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Karena tersedia cukup banyak maka tinggal memilih dan men-&lt;em&gt;download&lt;/em&gt; salah satu &lt;em&gt;software&lt;/em&gt; tersebut yang sesuai dengan karakteristik lembaga yang membutuhkan.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Salah satu site yang menerapkan Content Management System (CMS) dan penulis ikut mengembangkan adalah contohnya &lt;a href="http://www.tpunesa.net/"&gt;www.tpunesa.net&lt;/a&gt;. Site ini menggunakan &lt;em&gt;software&lt;/em&gt; moodle yang terfokus pada Sistem Management Belajar atau yang biasa disebut LMS (&lt;em&gt;Learning Management System&lt;/em&gt;) atau juga &lt;a href="http://www.m2-s.net/"&gt;www.m2-s.net&lt;/a&gt; yang menggunakan CMS Mamboo &lt;em&gt;opensource&lt;/em&gt;.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Telah terbukti &lt;em&gt;software&lt;/em&gt; gratis tersebut mampu memenuhi kebutuhan dalam mempublikasikan dan mengelola informasi sesuai yang diinginkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Berikut contoh-contoh software gratis (&lt;em&gt;opensource&lt;/em&gt;) yang selain gratis dapat dirubah sesuai dengan sistem kita secara bebas;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Moodle &lt;em&gt;opensource&lt;/em&gt; pengelola &lt;em&gt;e-learning&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Claroline &lt;em&gt;opensource&lt;/em&gt; pengelola &lt;em&gt;e-learning&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Mamboo &lt;em&gt;opensource content management system&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Joomla &lt;em&gt;opensource&lt;/em&gt; &lt;em&gt;content management system&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;WordPress &lt;em&gt;opensource&lt;/em&gt; blog (jurnal harian)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Xoops &lt;em&gt;opensource&lt;/em&gt; &lt;em&gt;content management system&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;PHPNuke &lt;em&gt;opensource&lt;/em&gt; &lt;em&gt;content management system&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;Perangkat Pendukung&lt;/h2&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Perangkat pendukung disini adalah perangkat yang dibutuhkan agar e-Journal yang dibangun dapat diakses secara luas yaitu, &lt;em&gt;Domain Name&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Hosting&lt;/em&gt;.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Artinya e-Journal tersebut memerlukan nama domain agar dapat diakses secara luas.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Nama domain tersebut dapat diperoleh dari penyedia jasa domain (&lt;em&gt;provider&lt;/em&gt;) yang saat ini sudah banyak tersedia hanya dengan sekitar kurang lebih Rp. 200 ribu pertahun.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Disamping &lt;em&gt;domain name &lt;/em&gt;juga diperlukan &lt;em&gt;hosting&lt;/em&gt; atau tempat untuk meletakkan sistem e-Journal tersebut.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Penyedia jasa hosting saat ini juga telah berkembang pesat sehingga sangat mudah mencarinya dan memilih mana yang lebih menguntungkan.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Perkiraan biaya hosting yang harus ditanggung adalah sekitar kurang lebih&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Rp. 700 ribuan untuk kapasitas 100 MB selama 1 tahun. Jika institusi atau lembaga telah memiliki server mandiri maka hosting tersebut dapat diabaikan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Untuk mengatasi masalah keterbatasan dana yang dianggarkan dalam membangun e-Journal, berikut adalah tips-nya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 46.8pt 6pt 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sediakan 1 orang tenaga ahli dalam sistem dan &lt;em&gt;hadware&lt;/em&gt; khususnya sistem web.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Perkiraan biaya gaji tenaga tersebut mungkin sekitar Rp.1.500.000 perbulan atau sebesar Rp.18.000.000 pertahun.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Atau dapat menggunakan tenaga pengelola sistem lepas.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Tenaga tersebut bekerja dari luar fisik institusi tersebut dengan biaya gaji yang dikeluarkan adalah bisa sampai separuhnya.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Namun terdapat resiko atas kerahasiaan data-data yang kita miliki sebab biasanya tenaga seperti itu tidak hanya mengelola 1 sistem saja, tapi bisa dari beberapa lembaga/institusi atau bahkan perusahaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 46.8pt 6pt 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Gunakan hanya domain dan hosting diluar tanpa harus membeli server sendiri dengan begitu biaya yang harus dikeluarkan sekitar kurang lebih Rp. 3.500.000 pertahun untuk kapasitas 1 GB yang setara dengan 5500 halaman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 46.8pt 6pt 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;c.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Gunakan akses putus hanya pada saat mengirim atau mengambil data.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Cara seperti ini dapat menggunakan fasilitas jaringan telkomnet instan atau akses berlangganan.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Ini dapat mengatur besar biaya yang harus kita keluarkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 49.65pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="Heading1Char"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;renungan|4&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Untuk membangun &lt;em&gt;e-Journal&lt;/em&gt; sangat mudah dan murah jika dibandingkan dengan manfaat dan kemudahan apa yang nantinya diperoleh. Dengan membangun e-Journal, ilmu dapat dengan mudah dan cepat berkembang luas kepada masyarakat sehingga dapat mewujudkan masyarakat berbasis pengetahuan &lt;em&gt;(knowledge-based society) &lt;/em&gt;dan&lt;em&gt; &lt;/em&gt;meningkatkan mutu SDM Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;From:http://thinktep.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-6974858794778964208?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/6974858794778964208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/09/sekilas-tentang-e-journal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/6974858794778964208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/6974858794778964208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/09/sekilas-tentang-e-journal.html' title='Sekilas Tentang e-Journal'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-2570564858755533178</id><published>2009-08-24T09:54:00.000+07:00</published><updated>2009-08-24T10:03:52.781+07:00</updated><title type='text'>TANTANGAN DAN PERMASALAHAN KEPUSTAKAWANAN INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;       &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;15 Pokok Perhatian yang Perlu Segera Mendapat Perhatian Bersama&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Buku adalah soko guru peradaban berbasis informasi dan pengetahuan.&lt;br /&gt;Perpustakaan   memungkinkan peradaban itu tetap berlangsung, baik dengan&lt;br /&gt;mempertahankan peran buku, maupun dengan memanfaatkan teknologi informasi terbaru. Pengelola institusi ini disebut pustakawan, dan keseluruhan kegiatan pengelolaan itu disebut kepustakawanan. Secara sempit kepustakawanan sering hanya dihubungkan dengan kegiatan teknis yang dilakukan pustakawan. Ini adalah pandangan yang salah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kepustakawanan memang berintikan sebuah profesi, yaitu pustakawan. Profesi ini memegang teguh nilai-nilai tentang kualitas, kehormatan, dan&lt;br /&gt;kebersamaan. Pustakawan bekerja berdasarkan etos kemanusiaan sebagai lawan dari kegiatan pertukangan semata. Pustakawan adalah fasilitator kelancaran arus informasi dan pelindung hak asasi manusia dalam akses ke informasi.&lt;br /&gt;Pustakawan memperlancar proses transformasi dari informasi dan pengetahuan menjadi kecerdasan sosial atau social intelligence. Tanpa kepustakawanan, sebuah bangsa kehilangan potensi untuk secara bersama-sama menjadi cerdas, berpengetahuan, dan bermartabat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai sebuah bangsa, Indonesia tak ingin terpuruk dan tercekik  krisis&lt;br /&gt;yang seakan tak ada hentinya. Indonesia memerlukan Kepustakawanan agar dapat bersama-sama menjadi cerdas, berpengetahuan, dan bermartabat. Untuk membangun Kepustakawanan Indonesia diperlukan kesungguhan menghadapi 15 pokok perhatian yang terkelompok menjadi empat isyu besar, yaitu:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;.         Profesionalisme pustakawan.&lt;br /&gt;.         Akuntabilitas dan kredibilitas.&lt;br /&gt;.         Pendanaan dan standardisasi.&lt;br /&gt;.         Landasan ilmu dan pemanfaatan teknologi informasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;PROFESIONALISME&lt;br /&gt;Undang-Undang Perpustakaan menyatakan bahwa institusi perpustakaan dipimpin oleh seorang ahli yang berlatarbelakang pendidikan ilmu perpustakaan. Ketentuan ini harus ditegakkan dengan memastikan bahwa Kepala Perpustakaan di semua jenis perpustakaan memang dijabat oleh orang yang tepat dan cocok.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tantangan dan persoalannya:&lt;br /&gt;1.       Di jajaran seluruh jajaran pemerintahan terjadi pola penempatan&lt;br /&gt;Kepala Perpustakaan secara serampangan tanpa memedulikan asas ketepatan dan kecocokan. Pola ini meluas di seluruh Indonesia dan seringkali dilakukan secara sengaja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2.       Di kalangan swasta terjadi kesimpangsiuran dan kesalahpahaman&lt;br /&gt;tentang fungsi Kepala Perpustakaan. Banyak Kepala Perpustakaan yang tidak&lt;br /&gt;dapat menjalankan tugas dan wewenangnya secara profesional dan tidak&lt;br /&gt;diapresiasi secara wajar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3.        Di sekolah-sekolah belum terdapat kejelasan tentang fungsi dan&lt;br /&gt;tugas ‘guru-pustakawan’ atau ‘pustakawan- guru’. Perpustakaan di&lt;br /&gt;sekolah-sekolah sering dijalankan tanpa manajemen yang memadai antara lain karena dipimpin oleh orang yang tidak mampu, tidak tepat, dan tidak cocok sebagai Kepala Perpustakaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketiga persoalan nyata di lapangan tersebut ditengarai sebagai wujud dari&lt;br /&gt;persoalan yang lebih mendasar yaitu kekurangtahuan dan ketidakpedulian&lt;br /&gt;tentang profesi pustakawan.  Kedua hal negatif ini harus dihilangkan.  Tanpa&lt;br /&gt;apresiasi yang benar dan memadai tentang pustakawan maka&lt;br /&gt;perpustakaan- perpustakaan di Indonesia akan berjalan secara serampangan, sporadis, dan tumpang-tindih; mengurangi potensi institusi ini yang secara bersama-sama dapat bertindak sebagai pondasi bagi bangsa yang maju dan berkepribadian di bidang pengetahuan dan informasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;AKUNTABILITAS DAN KREDIBILITAS&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengingat hakikat dasar perpustakaan sebagai institusi yang berupaya membuka akses pengetahuan dan informasi seluas-luasnya bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat di Indonesia, maka adalah wajar bahwa perpustakaan- perpustakaan yang terbuka untuk umum harus semakin banyak tersedia di Indonesia. Sesuai yang diamanatkan Undang-Undang, untuk mewujudkan keberadaan perpustakaan- perpustakaan seperti itu diperlukan dukungan penuh dari Pemerintah, selain juga partisipasi dari masyarakat yang seluas mungkin.&lt;br /&gt;Tantangan dan persoalannya:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4.       Selama berpuluh-puluh tahun, tidak ada koordinasi dan visi-misi&lt;br /&gt;yang jelas dalam pelaksanaan perpustakaan di Indonesia. Potensi&lt;br /&gt;kepustakawanan Indonesia musnah oleh diskoordinasi, proyek-proyek pemerintah yang sporadis, perencanaan yang amburadul, dan ketiadaan kepemimpinan (leaderships) . Keadaan ini bertambah parah ketika tidak ada kejelasan tentang fungsi-fungsi institusi informasi seperti arsip, perpustakaan dan dokumentasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;5.       Hal serupa  terjadi pada upaya masyarakat umum untuk membantu&lt;br /&gt;pengembangan kepustakawanan. Banyak niat-baik anggota masyarakat untuk ikut membangun kepustakawanan terhambat, baik oleh ketidaktahuan maupun oleh kesalahpahaman. Lebih menguatirkan lagi, banyak niat-baik ini akhirnya tak mencapai tujuannya karena disalahgunakan untuk kepentingan popularitas sesaat, atau untuk menghabiskan dana pemerintah yang tidak diawasi oleh sebab-sebab yang sudah diurai di butir 4 di atas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;6.       Diskoordinasi yang sudah amat parah dan ketiadaan fokus menyebabkan&lt;br /&gt;kepustakawanan di Indonesia kehilangan kredibilitas. Perpustakaan sering&lt;br /&gt;hanya dianggap gedung atau ruangan seadanya, dan dikelola secara amatiran tanpa kesinambungan. Akibatnya, perpustakaan- perpustakaan Indonesia tak dekat dengan masyarakatnya dan diabaikan pula.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;7.       Sudah terlalu banyak ‘gerakan’ yang dilakukan untuk mempromosikan&lt;br /&gt;kepustakawanan, namun semua gerakan ini tidak tepat sasaran oleh sebab-sebab yang sudah diuraikan di atas atau dikooptasi untuk kepentingan pribadi. Ini menambah buruk citra dan menurunkan kredibilitas kepustakawanan Indonesia di mata masyarakatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;PENDANAAN DAN STANDARDISASI&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya, berkat tekad yang bulat untuk memajukan pendidikan, bangsa Indonesia telah berkehendak menyediakan dana untuk keperluan pendidikan.&lt;br /&gt;Sudah sewajarnya kehendak ini juga tersalurkan dan terwujudkan dalam bentuk pengembangan perpustakaan, khususnya di sekolah dan perguruan tinggi, namun juga di masyarakat luas dalam bentuk perpustakaan untuk umum yang menunjang pendidikan seumur hidup. Tantangan dan persoalannya:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;8.       Oleh sebab-sebab yang sudah diuraikan di butir 4 sampai 7, telah&lt;br /&gt;terjadi dua hal yang amat merugikan bangsa Indonesia. Pertama, perpustakaan tak mendapat dana yang memadai oleh anggapan keliru bahwa institusi ini bukan termasuk pilar pendidikan. Kedua, dana yang ada pun tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya sebab memang tidak dikelola dengan profesional dan akuntabel.&lt;br /&gt;Kedua hal ini harus dihentikan, khususnya ketika bangsa ini sudah bertekad&lt;br /&gt;menyediakan 20% anggaran pembangunan untuk pendidikan. Perlu ditegaskan secara lebih tersurat alokasi yang cukup dari anggaran pembangunan pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;9.       Sebagai kegiatan yang bersifat nasional dan meluas, kepustakawanan&lt;br /&gt;sesungguhnya memerlukan standar  yang jelas dan terukur.  Indonesia&lt;br /&gt;ketinggalan amat jauh dibandingkan negara-negara lain. Banyak sekali  -kalau&lt;br /&gt;tidak dapat dikatakan hampir semua-  kegiatan perpustakaan, baik yang&lt;br /&gt;dilakukan pemerintah, swasta, maupun masyarakat umum dan perorangan,&lt;br /&gt;diselenggarakan tanpa standar. Kalaupun ada standar, pada umumnya standar itu dibuat untuk keperluan birokrasi dan administrasi yang kurang&lt;br /&gt;memperhatikan hakikat perpustakaan sebagai institusi sosial-budaya&lt;br /&gt;masyarakatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;10.    Pengawasan mutu dan pembelajaan dana di bidang perpustakaan sangat&lt;br /&gt;kurang, kalau tak dapat dikatakan tiada sama sekali. Celah penyalahgunaan&lt;br /&gt;dana amatlah besar, baik oleh kesengajaan maupun oleh mismanagement. Secara lebih spesifik, tak ada mekanisme dan prosedur untuk mengaitkan dana perpustakaan dan mutu yang dapat dirasakan oleh masyarakatnya. Dibandingkan negara-negara lain, kepustakawanan Indonesia amat tertinggal dalam hal penjaminan mutu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;LANDASAN ILMU DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Indonesia boleh bangga sebab pendidikan bagi profesi pustakawan sudah hadir sejak 1954, pada masa awal kemerdekaan. Kenyataan historis ini menunjukkan penghargaan bangsa pada pentingnya profesi pustakawan untuk kemajuan pengetahuan. Sekarang, tak kurang dari 13 perguruan tinggi menyelenggarakan pendidikan di bidang perpustakaan baik di tingkat diploma, sarjana, maupun magister. Namun aset yang amat besar ini terancam tak terwujud menjadi modal&lt;br /&gt;karena persoalan-persoalan berikut:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;11.   Para penyelenggara pendidikan kehilangan orientasi ilmu dan terpaku&lt;br /&gt;pada pengajaran hal-hal teknis. Ini ikut menyumbang pada kesalahpahaman di masyarakat tentang profesi pustakawan dan menjadi salah satu penyebab utama mengapa citra pustakawan di Indonesia sangat dilecehkan sebagai ‘tukang’ semata. Dibandingkan negara-negara lain, pendidikan Indonesia sangat kurang menghargai filsafat, ilmu, dan metodologi perpustakaan yang sudah teruji.&lt;br /&gt;Para penyelenggara dan pengajar jurusan ilmu perpustakaan terlalu&lt;br /&gt;berorientasi teknis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;12.   Salah satu sebab dari orientasi yang terlalu teknis itu adalah&lt;br /&gt;ketiadaan pengakuan terhadap keabsahan Ilmu Perpustakaan yang saat ini di&lt;br /&gt;dunia bahkan sudah berkembang menjadi Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Di kalangan akademisi maupun penyelenggara perguruan tinggi dan penyelenggara pemerintahan di bidang ini, pemahaman dan apresiasi tentang Ilmu Perpustakaan dan Informasi amat kurang. Selalu ada hambatan untuk mengembangkan ilmu ini, antara lain karena semua pihak menganggapnya ‘bukan ilmu’.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;13.   Penguasaan Ilmu Perpustakaan dan Informasi  -sebagai lawan dari&lt;br /&gt;penguasaan keahlian teknis semata-  diyakini dapat menjamin implementasi&lt;br /&gt;teknologi yang baik, benar, dan tepat guna guna membangun masyarakat&lt;br /&gt;informasi dan masyarakat berbasis pengetahuan. Pelecehan terhadap Ilmu&lt;br /&gt;Perpustakaan dan Informasi, baik oleh akademisi, penyelenggara pendidikan, maupun pemerintah, menyebabkan ketertinggalan kita dalam memanfaatkan teknologi informasi di bidang perpustakaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;14. Penguasaan Ilmu Perpustakaan dan Informasi diyakini dapat pula menjadi penyeimbang bagi dominasi penggunaan teknologi informasi sebagai alat industri dan bisnis belaka. Melalui pemahaman tentang filsafat, ilmu, dan metodologi yang benar, maka profesi pustakawan dapat menjadi fasilitator bagi pemanfaatan teknologi informasi untuk kepentingan Indonesia yang cerdas, berpengetahuan, dan bermartabat. Pelecehan terhadap Ilmu Perpustakaan dan Informasi menyebabkan pustakawan kurang berperan dalam hal ini dan akhirnya semata-mata menjadi konsumen dari alat-alat teknologi. Pada gilirannya, pustakawan juga tak dapat membantu masyarakat memanfaatkan teknologi informasi bagi kepentingan mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;15. Untuk mewujudkan potensi pendidikan yang menghasilkan profesionalisme di bidang perpustakaan amatlah penting menyelaraskan kurikulum semua penyelenggara pendidikan di bidang ini. Bersamaan dengan itu, penyelenggara pendidikan juga harus memperhatikan kondisi dan kebutuhan sesungguhnya dengan masyarakat Indonesia, termasuk dalam menyediakan kekhususan ilmu untuk profesi-profesi spesifik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Diambil dari tulisan Ibu Harkrisyati kamil di  the_ics :  TANTANGAN DAN PERMASALAHAN KEPUSTAKAWANAN INDONESIA)&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;                &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-2570564858755533178?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/2570564858755533178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/tantangan-dan-permasalahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2570564858755533178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2570564858755533178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/tantangan-dan-permasalahan.html' title='TANTANGAN DAN PERMASALAHAN KEPUSTAKAWANAN INDONESIA'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-7690297813032278815</id><published>2009-08-24T09:51:00.000+07:00</published><updated>2009-08-24T09:52:40.194+07:00</updated><title type='text'>Perpustakaan Daerah hanya Jadi Gudang Buku</title><content type='html'>&lt;b&gt;YOGYAKARTA--MI:&lt;/b&gt; Perpustakaan Daerah belum mampu memenuhi fungsinya sebagai tempat masyarakat memperoleh ilmu dengan membaca tetapi masih sebatas berfungsi sebagai "gudang" buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya melihat, banyak perpustakaan daerah yang masih sepi karena koleksi buku yang dimiliki oleh perpustakaan tersebut belum menyentuh keinginan masyarakat," kata Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Pusat Setia Dharma Majid, usai pembukaan Jogja Book Fair 2009, di Yogyakarta, Selasa (4/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, perpustakaan daerah tidak dapat egois dan perlu melihat kondisi masyarakat sekitar dalam penyediaan buku bacaan, yaitu dengan proporsi 30 persen buku muatan lokal sedang sisanya adalah buku wawasan nasional dan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perguruan tinggi, lanjut Setia, juga perlu dilibatkan untuk melakukan penelitian mengenai buku muatan lokal apa yang cocok ditempatkan di perpustakaan daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masyarakat di tiap daerah tentunya memiliki perbedaan sehingga tidak dapat disamaratakan. Masyarakat yang didominasi oleh petani akan membutuhkan buku yang berbeda dengan masyarakat yang didominasi oleh kelompok lain," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah daerah, lanjut Setia, juga tidak boleh lepas tangan dalam pengembangan perpustakaan daerah. "Pemerintah daerah perlu menyediakan dana khusus untuk meningkatkan tulisan-tulisan mengenai potensi daerah yang kemudian dibagikan ke perpustakaan di daerah yang bersangkutan," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti yang membuka secara resmi acara tersebut menyatakan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa dengan masyarakat yang memiliki kebiasaan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buku dan membaca adalah cara terbaik untuk mencerdaskan bangsa, karena dengan membaca, masyarakat dapat memperoleh ide dan kreasi baru," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, menyangkut koleksi buku di perpustakaan daerah milik Kota Yogyakarta, Haryadi menyatakan bahwa koleksinya cukup dan mampu diputar ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi buku itu tidak hanya menumpuk di perpustakaan saja yang menjadikan perpustakaan seperti gudang buku, tetapi berputar di masyarakat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haryadi juga meminta agar masyarakat dapat memanfaatkan jam keluarga membaca dan juga jam belajar di masyarakat dan mengisinya dengan membaca, tidak hanya oleh pelajar, mahasiswa, guru dan dosen tetapi juga semua lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada Jogja Book Fair 2009 yang digelar di Hall C Jogja Expo Center tersebut, salah satu pesertanya adalah dari Balai Bahasa Yogyakarta yang menampilkan puluhan naskah kuno. (Ant/OL-03)   Sent from my BlackBerry® powered&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-7690297813032278815?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/7690297813032278815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/perpustakaan-daerah-hanya-jadi-gudang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7690297813032278815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7690297813032278815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/perpustakaan-daerah-hanya-jadi-gudang.html' title='Perpustakaan Daerah hanya Jadi Gudang Buku'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-3134108590393388702</id><published>2009-08-21T08:11:00.000+07:00</published><updated>2009-08-21T08:12:21.621+07:00</updated><title type='text'>Website Jurnal Ilmiah Pertama Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="color:#666666;"&gt;&lt;b&gt;TEMPO &lt;i&gt;Interaktif&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;, &lt;span style="color:#666666;"&gt;&lt;b&gt;Subang&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; - Mulai hari ini Indonesia memiliki website Jurnal Ilmiah Indonesia dengan nama Indonesia Scientific Journal Database atau Website Jurnal Ilmiah Indonesia. Situs internet itu dikelola oleh Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Koleksi jurnal ilmiah yang terkumpul dalam situs itu sudah mencapai 5000 artikel berasal dari 400 jurnal terakreditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluncuran website tersebut dilakukan di kampus Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna –LIPI di Subang, Jawa Barat, Kamis (20/08/09). Kepala Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah–LIPI, Putut Irawan Pudjiono mengatakan, untuk sementara website tersebut baru bisa diakses oleh kalangan tertentu. “Tapi, mulai Oktober sudah bisa diakses secara nasional dan gratis” kata Putut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Website ISJD diluncurkan buat menjawab kebutuhan publik yang selama ini merasa kesulitan untuk bisa mengakses jurnal ilmiah. Pada saat ini, jurnal ilmiah yang ada di Indonesia hanya dalam bentuk cetak dan jumlahnya pun sangat terbatas. Tersedianya jurnal ilmiah secara online ini diharapkan membantu masyarakat mendapatkan jurnal ilmiah dengan gampang dan isi berkualitas. “Semua artikel dari ratusan jurnal terakreditasi itu bisa diakses,” kata Puput. “Pada akhir tahun ini, jumlahnya akan mencapai 7000 artikel.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dibandingkan dengan negara lain dalam soal pengelolaan jurnal ilmiah secara internasional, Indonesia masih berada di urutan yang mengecewakan. “Kita berada di peringkat 200 lebih di dunia,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran website ISJD diharapkan mampu menggenjot posisi pengelolaan jurnal Indonesia naik ke peringkat yang lebih baik. Putut berani bertaruh, dari segi isi jurnal ilmiah hasil karya para intelektual Indonesia setara bahkan lebih bagus dibanding dengan produk jurnal ilmiah negara tetangga, seperti Malaysia misalnya. “Dari sisi kualitas kita lebih unggul, tapi kita memang kalah dalam promosi,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar pengelolaan website ISJD lebih profesional dan maju, LIPI telah menggandeng seluruh perguruan tinggi di nusantara bergabung dalam situs tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NANANG SUTISNA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-3134108590393388702?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/3134108590393388702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/website-jurnal-ilmiah-pertama-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/3134108590393388702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/3134108590393388702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/website-jurnal-ilmiah-pertama-indonesia.html' title='Website Jurnal Ilmiah Pertama Indonesia'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-7017475123898894700</id><published>2009-08-21T08:08:00.000+07:00</published><updated>2009-08-21T08:09:33.035+07:00</updated><title type='text'>Sekolah di Amerika Gunakan Virtual Komputer NComputing</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;em&gt;Sekolah-Sekolah Wilayah di Seluruh Penjuru  Negara Bagian di Amerika Ramai-Ramai Menggunakan  NComputing untuk Memperluas Akses &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;Komputer&lt;/a&gt; Bagi Siswa  sekaligus Memangkas Pengeluaran Biaya Jangka  Panjang&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;REDWOOD CITY, CALIFORNIA. –  Paket stimulus yang dicanangkan Presiden Obama telah  menganggarkan milliaran dollar untuk mendanai  pengembangan pendidikan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;teknologi&lt;/a&gt; di  sekolah-sekolah. Namun, ada catatan yang mesti  diperhatikan, karena sekolah tidak memiliki anggaran  untuk biaya pemeliharaan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt; jangka  panjang. Mengantisipasi ketiadaan dana untuk  pemeliharaan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt; di masa  mendatang tersebut, sekolah-sekolah wilayah di negara  bagian Amerika yang jeli, merealisasikan perluasan  akses &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt;  bagi siswa mereka dengan menggunakan NComputing. Dengan  virtual &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt;  NComputing yang harganya hanya sekitar US$70 atau  sekitar Rp 945.250 di Indonesia, maka setiap PC dapat  digunakan bersama oleh sebelas siswa. Alhasil, sekolah  memangkas biaya pembelian dan biaya pemeliharaan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt; serta  biaya listrik hingga 90% lebih murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua sekolah-sekolah wilayah di Negara Bagian  Amerika saat ini sedang berpikir bagaimana caranya  memanfaatkan dana stimulus yang diperoleh dari Undang  Undang ‘American Recovery and Reinvestment Act  2009.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sekolah di Louisiana,  Tangipahoa Parish misalnya, menggunakan dana stimulus  untuk meng-upgrade dan mengembangkan program pendidikan  &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt; dengan  menggunakan NComputing. Penanggungjawab &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;IT&lt;/a&gt; di sekolah  tersebut menetapkan bahwa NComputing merupakan solusi  terbaik untuk memberi akses penggunaan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt; yang  seluas-luasnya bagi siswa. Dengan menggunakan  NComputing, maka sekolah tidak perlu menambah staf &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;IT&lt;/a&gt; ataupun merubah  infrastruktur yang bisa menimbulkan masalah biaya besar  di masa mendatang. NComputing virtual desktop dapat  terus menerus digunakan oleh lintas generasi siswa  tanpa memerlukan pemeliharaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Membeli PC terlampau mahal harganya, di  samping itu kita juga akan kewalahan menyediakan  supportnya,” kata Mike Diaz, asisten direktur &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;teknologi&lt;/a&gt;  Tangipahoa. “Kami hanya memiliki empat staf  teknis untuk menangani 19.500 siswa dan tidak ada dana  stimulus untuk penambahan tenaga teknis. Ncomputing  menjawab semua permasalahan kami. Kami sangat kagum  dengan kinerja serta penghematan energi yang terjadi  dengan menggunakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NComputing. Sekarang  kami bisa membeli &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt; untuk tiga  siswa dengan harga setara untuk pembelian satu &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt; biasa.  Dengan penambahan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt; di tiap  kelas, berarti memberikan waktu yang lebih banyak bagi  tiap siswa untuk menggunakan dan meningkatkan  keterampilan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt; mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi Ncomputing didasarkan pada fakta  sederhana, yaitu: PC sekarang memiliki kapasitas yang  sangat besar sementara sebagian besar aplikasinya hanya  menggunakan sedikit saja dari kapasitas yang ada.  Dengan Ncomputing, sebuah &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt; dapat  digandakan (divirtualisasi) dengan memanfaatkan  kapasitas yang tidak terpakai sehingga dapat digunakan  bagi banyak pengguna. Setiap pengguna dapat menikmati  akses &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt;  hanya dengan menghubungkan NComputing pada &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt; yang akan  digunakan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti solusi  desktop virtualisasi lainnya, Ncomputing sangat efisien  dan paten sehingga mampu menjalankan program  multimedia  yang rumit sekalipun serta mampu  menghasilkan tampilan video dengan layar penuh. Setiap  alat NComputing hanya memerlukan satu watt listrik  saja, yang mana otomatis akan mengurangi suhu panas  dalam ruangan. Hal ini merupakan pemangkasan biaya dan  listrik yang sangat berarti dibandingkan jika  menggunakan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt; biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekolah yang telah mengunakan NComputing  untuk praktek &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt; di dalam  kelas, laboratorium, perpustakaan maupun di kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“NComputing adalah solusi terbaik bagi  sekolah sekolah, karena dapat mengurangi biaya  infrastruktur dan biaya pemeliharaan &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt; secara  drastis. Dengan kata lain, NComputing dapat mengurangi  biaya pengeluaran yang besar untuk jangka  panjang,” kata  Stephen Dukker, Chairman dan  CEO NComputing. Lebih dari 1.500 wilayah negara bagian  di Amerika termasuk 7 sekolah yang masuk 10 besar,  telah menghemat ratusan juta dolar dengan memilih  NComputing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang telah dilakukan oleh  sekolah di Amerika dapat menjadi referensi bagi sekolah  dan lembaga pendidikan di Indonesia dalam memperluas  akses &lt;a href="http://www.beritanet.com/"&gt;komputer&lt;/a&gt;  bagi siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan NComputing berarti  melakukan penghematan hingga 50% pada harga pembelian  komputer, 70% biaya pemeliharaan, dan 90% penghematan  biaya listrik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NComputing saat  ini merupakan solusi desktop virtual yang sangat  populer di sekolah-sekolah  Amerika. Lebih dari 4  juta pelajar  telah menggunakan NComputing dalam  proses belajar di sekolah. NComputing berharap jumlah  siswa yang menggunakan akan meningkat 2 kali lipat  tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From : http://www.beritanet.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-7017475123898894700?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/7017475123898894700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/sekolah-di-amerika-gunakan-virtual.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7017475123898894700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7017475123898894700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/sekolah-di-amerika-gunakan-virtual.html' title='Sekolah di Amerika Gunakan Virtual Komputer NComputing'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-3673975772403777653</id><published>2009-08-14T10:52:00.000+07:00</published><updated>2009-08-14T10:54:17.079+07:00</updated><title type='text'>Dosen UGM Temukan Alat Deteksi Plagiat Karya Ilmiah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;YOGYAKARTA--MI:&lt;/span&gt; Berawal dari keprihatinan karena maraknya penyalahgunaan data internet dan basis data di perpustakaan terhadap tindak penjiplakan atau plagiat dalam penyusunan skripsi, tesis, desertasi ataupun karya ilmiah lainnya, mendorong seorang dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Dr Didi Achjari M.Com berhasil merancang aplikasi perangkat lunak (software) untuk memudahkan dalam mendeteksi kemungkinan adanya plagiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dengan anggota tim dosen UGM lainnya, satu orang dosen FEB UGM Dimas Mucklas SE Skom, dan dua orang dosen FMIPA, Arman Rohiman SKom dan Ajeng Nurhidayati SKom berhasil membuat rancangan aplikasi yang diberi nama TESSY (Test of Text Similarity). Proses perancangan aplikasi bahkan sudah dirintis sejak tahun 2006 yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi TESSY yang inovatif ini pun kemudian diikutkan dalam Acer Intel E-Learning Competition tingkat nasional yang diadakan pada bulan September 2008 lalu. Setelah ikut dalam seleksi dan presentasi, aplikasi buatan dosen UGM ini berhasil menjadi pemenang untuk karya inovasi e-learning kategori dosen kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didi kepada wartawan mengatakan,  aplikasi ini sudah digunakan di lingkungan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM. Setiap mahasiswa yang akan meloloskan skripsinya akan diwajibkan menyerahkan softcopy skripsinya untuk di uji menggunakan aplikasi tersebut di bagian perpustakaan. Apabila dari hasil deteksi dari TESSY tidak ditemukan unsur plagiat maka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;skripsinya dinyatakan lulus dan berhak ikut dalam wisuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ã¢â‚¬Å“Sebaliknya apabila ditemukan ada kemiripan literatur, mahasiswa yang bersangkutan tersebut akan dipanggil untuk dimintai konfirmasi dan meminta pembuatan ulang skripsinya,Ã¢â‚¬Â kata Dr Didi Achjari kepada wartawan dalam bincang-bincang di ruang Fortakgama, Rabu (22/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ini, kata Didi, dari aplikasi ini dirinya sudah menemukan dua mahasiswa yang diketahui melakukan plagiasi dalam pembuatan skripsinya. Kedua mahasiswa tersebut mengakui perbuatannya dan mengoreksi kembali penyususnan skripsinya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, , aplikasi buatannya ini dirasakan cukup efektif dalam mengawasi mahasiswa menyusun skripsi atau tesisnya. Apalagi di FEB UGM sendiri, aplikasi TESSY sudah menggunakan basis data dengan menggunakan referensi yang ada di perpustakaan FEB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut dijelaskan,  fitur TESSY ini memungkinkan untuk membandingkan dua karya tulis dan juga bisa membandingkan satu karya tulis dengan banyak karya tulis yang tersimpan di basis data perpustakaan digital. Adapun syarat utama agar bisa bekerjanya aplikasi ini menurut Didi adalah ketersediaan soft copy (file) dari karya tulis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ã¢â‚¬Å“Aplikasi ini pun juga bisa diatur sesuai asumsi kemiripannya karena bisa jadi tiap lembaga punya standar kemiripan yang berbeda untuk bisa masuk kategori penjiplakan, misal karena ada sebagaian kesamaan referensi atau daftar pustaka. Fitur lain dari TESSY adalah kemampuannya untuk mencetak laporan formal untuk keperluan syarat mengikuti wisuda atau proses penyelidikan lebih lanjut,Ã¢â‚¬Â imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan,  ada dua metode pengujian dalam aplikasi TESSY, yaitu uji kemiripan teks dan uji kemiripan frase. Metode kemiripan teks digunakan untuk menghitung prosentase kemiripan dokumen yang diuji dengan dokumen yang sudah ada. Metode kedua, uji kemirifan frase. Pengujian kemiripan frase ini sangat penting, karena suatu penelitian maupun karya ilmiah pasti mengacu berbagai literatur terdahulu bahkan penjiplakan bisa bermula dari penggunaan frase yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ã¢â‚¬Å“Apabila dalam fitur tersebut ditemukan hasil deteksi diperoleh perbandingan antara jumlah teks yang sama dengan jumlah perubahan yang terjadi maka akan muncul nilai prosentase yang tinggi tingkat kemiripan. Sementara itu dalam deteksi adanya persamaan frase, fitur tersebut bekerja berdasarkan frase dan jumlahnya,Ã¢â‚¬Â  tegasnya.&lt;br /&gt;From :www.mediaindonesia.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-3673975772403777653?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/3673975772403777653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/dosen-ugm-temukan-alat-deteksi-plagiat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/3673975772403777653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/3673975772403777653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/dosen-ugm-temukan-alat-deteksi-plagiat.html' title='Dosen UGM Temukan Alat Deteksi Plagiat Karya Ilmiah'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-452044087213841816</id><published>2009-08-13T08:49:00.000+07:00</published><updated>2009-08-13T08:50:45.105+07:00</updated><title type='text'>Open Source bisa Hemat Miliaran Rupiah</title><content type='html'>&lt;b&gt;JAKARTA-MI:&lt;/b&gt; Sejumlah perusahaan mampu menghemat hingga miliaran rupiah dengan menggunakan perangkat lunak (software) open source (OS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan OS, kita bisa menghemat 500 dollar AS untuk tiap terminal Personal Computer (PC) yang menjalankan fungsi office," kata pemilik perusahaan penerbitan dan percetakan Dian Rakyat Group Mario Alisjahbana pada Seminar Nasional Pengguna Open Source Software dan IGOS Center, di&lt;br /&gt;Jakarta, Rabu (22/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk tiap PC workstation untuk fungsi grafis bisa dihemat US$1.500-3.000," ujar putra Sutan Takdir Alisjahbana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bayangkan jika sebuah perusahaan mempunyai 300 komputer, berapa bisa dihemat? Apa lagi biaya itu harus dikeluarkan hampir tiap tahun karena selalu ada &lt;i&gt;upgrade&lt;/i&gt;, seperti misalnya dari Windows Vista ke Windows7," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perusahaan penerbitan dan percetakan, ujarnya, software yang dibutuhkan adalah sistem operasi, manajemen dan akuntansi, pengolahan teks, pengolahan foto dan gambar serta software desain dan pracetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga membantah pernyataan bahwa software OS masih terbatas dan mutunya lebih rendah dari software berlisensi (proprietari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihaknya, lanjut dia, menggunakan software open source pengolah foto Gimp yang sekelas dengan Adobe Photoshop demikian pula dengan software pengolah gambar, desain, serta pengatur tata letak yang juga berbasis OS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Kepala Divisi Information Technology Samudra Indonesia Group Denny Ganjar, mengatakan, dengan menggunakan software open source pihaknya bisa menghemat biaya pembelian software sampai Rp6 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menghemat sampai Rp6 miliar dengan kemampuan yang sama saja dengan kalau kita menggunakan software proprietari yang total biayanya sampai Rp18 miliar," katanya dengan bangga telah sukses bermigrasi ke OS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Asisten Deputi Urusan Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Kementerian Ristek Kemal Prihatman mengatakan, Surat Edaran telah dikeluarkan Men-PAN pada Maret 2009 tentang penggunaan software OS untuk menggantikan software ilegal, dan harus sudah diimplementasi seluruhnya pada 2011.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;"Sejak keluar SE itu mulai banyak instansi pemerintah yang aktif mencari tahu tentang software OS. Sudah ada sekitar 60-an pemkot/pemkab yang datang kepada kami mencari tahu dan meminta penjelasan bagaimana bermigrasi ke OS, belum termasuk yang mendatangi Depkominfo," katanya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Ia mencontohkan Pemkot Surabaya yang mengajukan diri untuk bermigrasi. "Mereka akan mulai dengan sosialisasi, pelatihan, membuat lingkungan mendukung, baru kemudian bermigrasi. Prosesnya bertahap," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.mediaindonesia.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-452044087213841816?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/452044087213841816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/open-source-bisa-hemat-miliaran-rupiah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/452044087213841816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/452044087213841816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/open-source-bisa-hemat-miliaran-rupiah.html' title='Open Source bisa Hemat Miliaran Rupiah'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-2612452847148620712</id><published>2009-08-13T08:48:00.000+07:00</published><updated>2009-08-13T08:49:33.655+07:00</updated><title type='text'>Kewajiban Pemerintah dalam Pengembangan Perpustakaan</title><content type='html'>Oleh : Yustisia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dasar hukum:&lt;br /&gt;Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEBUTUHAN literasi warga negara dijamin pemerintah. Hal itu diatur oleh UU Nomor 43 Tahun 2007. Disebutkan, pemerintah wajib mengembangkan sistem nasional perpustakaan, menjamin kelangsungan penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar masyarakat, juga menjamin ketersediaan layanan perpustakaan secara merata di Tanah Air.&lt;br /&gt;Pemerintah juga wajib untuk menjamin ketersediaan keragaman koleksi perpustakaan melalui terjemahan, alih aksara, alih suara ke tulisan, dan alih media.&lt;br /&gt;Tugas pemerintah juga meliputi promosi gemar membaca dan memanfaatkan perpustakaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-2612452847148620712?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/2612452847148620712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/kewajiban-pemerintah-dalam-pengembangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2612452847148620712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2612452847148620712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/kewajiban-pemerintah-dalam-pengembangan.html' title='Kewajiban Pemerintah dalam Pengembangan Perpustakaan'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-2925191477320317071</id><published>2009-08-11T12:43:00.000+07:00</published><updated>2009-08-11T12:46:00.813+07:00</updated><title type='text'>Akses Data Digital Kini Semakin Mudah</title><content type='html'>&lt;b&gt;JAKARTA--MI:&lt;/b&gt; Masyarakat Indonesia dinilai semakin sering mengakses data digital mereka, seperti musik, film, dan berbagai data digital lainnya baik untuk urusan kantor maupun hiburan semata. Namun tak jarang, kebutuhan mengakses data digital muncul ketika konten digital tersebut tersimpan di lokasi yang berjauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kini berkat Cisco Media Hub, Anda tetap dapat mengakses berbagai data digital yang tersimpan di komputer rumah di Jakarta meskipun Anda sedang berada di Bandung," ujar Boon Ping Tang, direktur penjualan Cisco untuk regional Asia di Jakarta saat peluncuran Cisco Media Hub pada Kamis (7/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media Hub adalah sebuah perangkat yang dikembangkan oleh Cisco untuk memudahkan pengaturan dan pengaksesan berbagai data digital seperti video, foto, dan musik digital dimanapan dan dari manapun. Media Hub secara otomatis mencari perangkat media digital yang terhubung dengannya melalui jaringan dan menampilkan semua data digitalnya yang ada di dalamnya kepada pengguna di suatu tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan mudahnya, ketika Anda berada di Bandung atau dimanapun di dunia ini dan ingin mengakses data musik digital Anda di komputer rumah, kini Media Hub memungkinkan hal tersebut. Media Hub menyediakan seluruh data digital yang terdapat di komputer rumah yang terhubung dengannya untuk diakses dari manapun di dunia ini "Yang terpenting Anda dapat menemukan jaringan internet di lokasi tersebut," papar Boon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media Hub menampilkan antar muka (interface) yang mudah dan memungkinkan penggunanya untuk mengakses, mengunggah, maupun mengunduh berbagai data digital melalui perantaraan web browser www.ciscomediahub.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media Hub hadir dalam dua model yakni NMH300 yang ditawarkan sekitar 1,9 juta rupiah, dan NMH405 sekitar 3,9 jutaan rupiah. Perbedaan dasarnya adalah Media Hub NMH405 memiliki kapasitas penyimpanan sebesar 500GB dan layar LCD yang menampilkan informasi ketersediaan sisa tempat penyimpanan, jumlah pemakaian selama ini, status jaringan, serta 6-in-1 card reader untuk memudahkan transfer media dan hiburan ke Media Hub tanpa perlu menggunakan komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akses data digital ke Media Hub tidak hanya dapat dilakukan melalui komputer saja, namun juga ke berbagai perangkat seperti televisi dan beberapa konsol permainan yang memiliki kemampuan konektivitas melalui jaringan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Bahkan beberapa tipe handphone yang mendukung fasilitas &lt;i&gt;Universal Plug and Play&lt;/i&gt; (UPnP) kini sudah bisa mengakses berbagai data digital seperti musik dan film melalui Media Hub," tambah Boon.&lt;br /&gt;www.mediaindonesia.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-2925191477320317071?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/2925191477320317071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/akses-data-digital-kini-semakin-mudah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2925191477320317071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2925191477320317071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/akses-data-digital-kini-semakin-mudah.html' title='Akses Data Digital Kini Semakin Mudah'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-8336266939858762186</id><published>2009-08-11T12:41:00.000+07:00</published><updated>2009-08-11T12:43:29.271+07:00</updated><title type='text'>Pengguna Internet China Lampaui Populasi AS</title><content type='html'>&lt;div class="otext2"&gt; &lt;a href="http://www.mediaindonesia.com/read/2009/07/07/87197/48/7/Pengguna-Internet-China-Lampaui-Populasi-AS#komentar"&gt;&lt;img class="imid" src="http://www.mediaindonesia.com/read/2009/07/07/87197/48/7/public/imgs/ic_comment.gif" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;!--&lt;p style="height:112px;"&gt;   &lt;a href="http://www.xl.co.id" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.mediaindonesia.com/public/imgs/xl_logo.gif" border="0" alt="XL - Jangkauan Luas" align="right" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;--&gt;               &lt;span class="yahooBuzzBadge yahooBuzzBadge-text-votes" id="yahooBuzzBadge-65834922521249969300093"&gt;&lt;a title="Vote for your favorite stories on Yahoo! Buzz" href="http://buzz.yahoo.com/buzz?targetUrl=http%3A%2F%2Fwww.mediaindonesia.com%2Fread%2F2009%2F07%2F07%2F87197%2F48%2F7%2FPengguna-Internet-China-Lampaui-Populasi-AS"&gt;&lt;span style="cursor: pointer; position: relative; padding-left: 20px; line-height: 16px;" id="yahooBuzzBadge-65834922521249969300093-form-votes"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--&lt;a href="#"&gt;&lt;img class="imid" src="http://www.mediaindonesia.com/public/imgs/ic_c_y.gif" alt="" /&gt;YAHOO! BUZZ&lt;/a&gt;--&gt;&lt;b&gt;SHANGHAI--MI:&lt;/b&gt; Jumlah pengguna internet di China kini lebih besar daripada populasi Amerika Serikat. Ini setelah data akhir Juni menunjukkan peningkatan hingga 338 juta pengguna.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                                                &lt;div class="opti"&gt;&lt;br /&gt;                                                  &lt;/div&gt; Menurut laporan kantor berita Xinhua, pengguna internet di China merupakan yang terbesar di dunia. Angka tersebut ada peningkatan sebesar 40 juta pada enam bulan pertama 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah &lt;i&gt;broadband&lt;/i&gt; untuk koneksi internet meningkat 10 juta menjadi 93,5 juta di semester pertama tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 95 persen kota telah terhubung ke &lt;i&gt;broadband&lt;/i&gt; pada awal Juni dan 92,5 persen desa telah memiliki sambungan telepon yang dapat digunakan untuk akses internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cakupan pedesaan diharapkan akan terus meningkat karena tiga operator telekomunikasi China yakni China Telecom, China Mobile, dan China Unicom menginvestasikan 280 miliar yuan (US$40 miliar) pada jaringan 3G nasional tahun depan, menurut kutipan Wakil Presiden China Mobile Lu Xiangdong minggu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan pengguna internet untuk mengekspresikan opini mereka menjadi ironi karena China sangat ketat dalam mengawasi media.&lt;br /&gt;www. mediaindonesia.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-8336266939858762186?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/8336266939858762186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/pengguna-internet-china-lampaui.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/8336266939858762186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/8336266939858762186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/pengguna-internet-china-lampaui.html' title='Pengguna Internet China Lampaui Populasi AS'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-7228451327313848350</id><published>2009-08-07T13:43:00.001+07:00</published><updated>2009-08-07T13:45:02.303+07:00</updated><title type='text'>Pertemuan Pustakawan dengan Komisi X DPR RI</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" align="left" valign="top" width="70%"&gt;      &lt;span class="small"&gt;        Written by Afif     &lt;/span&gt;             &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;       &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" class="createdate" valign="top"&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;    &lt;td colspan="2" valign="top"&gt; Pada awal bulan September 2007, di Universitas Mulawarman telah diadakan pertemuan penting dengan Sekjen Wantanas dan Anggota MPR RI. Selain itu di Ruang Rapat Kantor Gubernur telah diadakan pertemuan antara para Pustakawan di Kaltim dengan Komisi X DPR RI yang membidangi Perpustakaan Dalam pertemuan tersebut Perpustakaan diwakili oleh Direktur Eksekutif dan Kepala Perpustakaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Fokus utama dalam pertemuan dengan Sekjen Wantanas yang dipimpin oleh Letjen. M. Yasin beserta 3 Deputinya yang kesemuanya juga Jendral yaitu penandatanganan perpanjangan MOU antara Sekjen Wantanas dengan Fihak Universitas Mulawarman. Saat acara dimulai ada sejumlah mahasiswa di lantai bawah Rektorat yang demo, menyampaikan aspirasi agar dana pendidikan sebesar 20% direalisasikan. Perwakilan Mahasiswa diijinkan masuk kedalam acara dan langsung menyerahkan surat pernyataan atau keinginan dan diterima oleh Sekjen Wantanas untuk disampaikan kepada Pemerintah. Dalam sambutannya Bapak Rektor Universitas Mulawarman menyinggung masalah disetopnya DAU untuk Kaltim yamg akan mengganggu juga beberapa program di Universitas Mulawarman, misalnya Beasiswa untuk program S!, S2 dan S3.&lt;br /&gt;Yang menarik dari pertemuan tersebut adalah ketika Sekjen Wantanas menjelaskan terdapat 3 problema besar yang saat ini dihadapi bangsa yaitu Disintegrasi, Federalisasi dan Ketidak Puasan. Disampaikan oleh Sekjen Wantanas bahwa saat ini dengan mudah saja masyarakat atau siapa saja berkata apabila terdapat ketidak puasan misalnya ya udah saja kita merdeka. Tidak ingat betapa pencetus negara ini dengan susah payah dan perjuangan yang lama berhasil mempersatukan bangsa. Selanjutnya dijelaskan kenapa Negara Superpower yang dulunya Uni Sovyet saja akhirnya bisa berantakan dan tercerai berai seperti sekarang, akan tetapi ternyata bangsa Indonesia yang terdiri dari beribu Pulau dan Bahasa masih merekat dalam satu negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam diskusi yang hangat diperdebatkan terutama masalah ketidak puasan misalnya dengan akan dihapusnya DAU untuk Kaltim yang akan mengganggu program yang selama ini berjalan. Secara sederhana dijelaskan bawa mungkin saja DAU dihapus atau dihntikan karena Dana yang ada saja tidak dimanfaatkan dengan optimal, mungkin saja kalau ada perencanaan yang lebih bagus dan keperluan yang lebih reel maka DAU akan diberikan lagi. Yang menarik adalah masalah pendidikan yang dicontohkan oleh Pak Sekjen. Betapa jangankan di pedalaman banyak yang tidak sekolah atau tidak dapat melanjutkan ke SMP, sedangkan di perbatasan dengan ibukota saja masih terdapat banyak yang tidak melanjutkan ke SMP. Salah satu contoh adalah di salah satu Desa di Bogor terletak 45 KM dari kediaman Bapak Presiden RI, banyak anak-anaknya yang tidak melanjutkan ke SMP. Sekretaris Desa yang menjelaskan dalam suatu pertemuan menyatakan bahwa dari seangkatannya hanya tiga orang yang melanjutkan ke SMP dan salah satunya adalah dia yang menjadi SEKDES. Jdi jangan heran kalu di pedalaman atau diperbatasan banyak yang masih belum terkena wajib belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pada tanggal 11 September 2007 diadakan pertemuan juga di Universitas Mulawarman yaitu Sosialisasi Putusan MPR RI mengenai UUD Negara RI tahun 1945 dan Ketetapan serta Keputusan MPR RI. Sosialisasi dilaksanakan oleh dua orang anggota MPR yaitu Bapak Drs. Agun Gunandjar Sudarsa,M.Si. dan Ibu Dra.Hj. Chofifah Indar Parawansa. Pertemuan dibuka oleh Rektor Universitas Mulawarman dan berlangsung lama yaitu dari jam 10.00 s/d 14.30. Inti dari pertemuan itu sesuai dengan temanya yaitu sosialisasi Putusan MPR RI mengenai UUD Negara RI tahun 1945 dan ketetapan serta Keputusan MPR RI. Oleh dua orang anggota MPR tersebut dijelaskan secara tuntas perubahan-perubahan yang terjadi dalam UUD 1945 hingga sekarang. Sangat menarik. Salah satu contoh dijelaskan masalah Dewan Perwakilan Daerah yang menurut UUD seharusnya berkedudukan di daerahnya masing-masing dan bukan di Jakarta seperti sekarang ini. Yang menarik lagi adalah masalah Tata Batas Wilayah RI yang disampaikan oleh Ibu Chofifah ternyata menurut beliau sampai sekatang tatabatas wilayah RI belum disampaikan ke PBB. Pemetaan wilayah tersebut menggunakan alat canggih yang sampai saat ini kita belum punya padahal negara tetagga punya. Ironis memang. Diskusi berkembang juga sampai kepada angka 20% untuk anggaran Pendidikan dan masalah-masalah yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pertemuan seluruh Pustakawan dan Pengelola Perpustakaan di Kaltim dengan Komisi X DPR RI dalam rangka uji publik RUU Peprpustakaan dibuka oleh Sekprov Kaltim Bapak Drs. Syaiful Teteng, M.Hum. Dalam sambutannya dan sambutan oleh Ketua rombongan dari Komisi X terbersit bahwa anggapan sampai saat ini yang bekerja di Perpustakaan merupakan pilihan kedua atau disebutkan seolah-olah seseorang yang ditugaskan di Perpustakaan itu dibuang atau jabatan yang kurang dipandang. Dalam diskusi yang berkembang memang saya tidak berbicara bahwa dalam menuju Badan Hukum Perguruan Tinggi, misalnya di Perguruan Tinggi yang sudah BHPT peranan Perpustakaan sangat penting dapat dilihat dari personil yang menjadi Kepala perpustakaannya yaitu tenaga Pengajar misalnya di IPB kepala Perpustakaannya adalah seorang Doktor. Unmul sebagai satu-satunya PTN terbesar di Kaltim menuju kearah sana misalnya tidak banyak di Indonesia ini sebuah perpustakaan yang dpimpin oleh seorang Professor .Dr. dan di Unmul adalah salah satunya karena saat ini Direktur Eksekutifnya adalah seorang Prof.Dr., jadi bukanlah jabatan yang terbuang. Yang mnarikdari RUU tersebut sebagai Hasil Rumusan Timus tanggal 3 September 2007 sebelum disyahkan oleh Panja adalah pasal 23 dan 24 menyangkut masalah pendanaan di Perpustakaan Sekolah/Madrasah dan perguruan Tinngi yang menyatakan baik Sekolah/Madrasah dan perguruan Tinggi mengalokasikan Dana paling sedikit 5% dari anggaran sekolah/madrasah atau Perguruan Tinggi untuk pengembangan koleksi perpustakaan. Akan tetapai dari RUU Tentang Perpustakaan yang diusulkan Pemerintah pada tanggal 21 Juni 2007 angka pada pasal 23 dan 24 tersebut tidak ada yang ada hanya pada pasal 38 yang menyatakan pendanaan ditanggung oleh penyelenggara perpustakaan dan dapat dialokasikan melalui APBN dan APBD. Apapun hasilnya yang terpenting adalah menghadapi era informasi yang semakin canggih maka peran perpustakaan ke depan semakin penting menuju era BHPT dan Universitas Riset. (Afif.R.) &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" class="modifydate" align="left"&gt;      www. e-lib.unmul.ac.id&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-7228451327313848350?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/7228451327313848350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/pertemuan-pustakawan-dengan-komisi-x.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7228451327313848350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7228451327313848350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/pertemuan-pustakawan-dengan-komisi-x.html' title='Pertemuan Pustakawan dengan Komisi X DPR RI'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-2328539692705456963</id><published>2009-08-07T13:36:00.000+07:00</published><updated>2009-08-07T13:37:54.979+07:00</updated><title type='text'>UNESCO  BUKA PERPUSTAKAAN DIGITAL</title><content type='html'>&lt;p&gt;PARIS (KONTEKAJA) - Organisasi kebudayaan PBB, UNESCO, meluncurkan perpustakaan digital dunia hari ini dengan mengumpulkan bahan dari perpustakaan dan arsip di seluruh dunia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara bahan yang tersedia adalah novel abad ke sebelas Jepang, peta pertama yang menyinggung Amerika, serta lukisan antelop dari Afrika Selatan berusia delapan ribu tahun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perpustakaan digital ketiga di dunia itu bebas untuk digunakan siapa saja dan tersedia dalam tujuh bahasa resmi PBB, seperti dilaporkan wartawan BBC Emma Jane Kirby dari markas besar Unesco di Paris.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan mengumpulkan bahan perpustakaan dan arsip dari berbagai belahan dunia, Perpustakaan Gigital Dunia akan memberi akses gratis kepada siapa saja mengenai informasi dan gambar dari Persia kuno hingga Amerika Latin modern.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Fasilitas itu akan tersedia dalam banyak bahasa: Inggris, Arab, Cina, Prancis, Portugis, Rusia, serta Spanyol.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masyarakat internasional bisa berbagi khazanah pusataka, sehingga toleransi budaya bisa meningkat, dan jurang kaya miskin dalam dunia digital bisa terjembatani.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beberapa barang yang sudah terdigitalisasikan adalah novel Jepang dari abad 11, peta pertama yang menyebut kata Amerika di didalamnya dan digambar seoorang pendeta Jerman dari abad ke 16, dan lukisan berusia 8 ribu tahun dari Afrika Selatan yang menggambarkan antelope yang berdarah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekitar sepuluh pers dari 1.200 exhibit berasal dari Afrika.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Proyek PBB akan menjadi usaha ketiga sejauh ini untuk membangun perpustakaan digital berskala raksasa.&lt;/p&gt; Sebelum ini, Uni Eropa memunculkan program serupa tetapi situsnya mengalami crash hanya beberapa jam setelah diluncurkan. - bbc&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-2328539692705456963?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/2328539692705456963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/unesco-buka-perpustakaan-digital.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2328539692705456963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2328539692705456963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/unesco-buka-perpustakaan-digital.html' title='UNESCO  BUKA PERPUSTAKAAN DIGITAL'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-374548327694251256</id><published>2009-08-04T11:01:00.002+07:00</published><updated>2009-08-04T11:04:25.981+07:00</updated><title type='text'>Saatnya virtual library bagi perpustakaan sekolah....</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:100%;"&gt; Virtual Library(Pustaka Maya) adalah salah satu program pemerintah mengembangkan perpustakaan digital yang bersinergi antara Departemen Pendidikan Nasional dan Perpustakaan Nasional yang difasilitasi oleh Biro Perencanaan Kerja Sama Luar Negeri. Program ini dinilai sangat penting bagi pengembangan pendidikan di Indonesia. Tujuannya Agar Anak-anak indonesia bisa lebih tertarik membaca dengan metoda secara virtual dan digital     .&lt;/span&gt; &lt;p  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun perkembangan virtual library ini masih sangat lambat dikarenakan masih sedikitnya adminisrator yang bisa me-manage jalannya virtual library tersebut. Coba kita bayangkan jika dalam 1 kabupaten ato kota terdapat 1 Virtual library maka akan sangat besar dampaknya, selain dapat menghemat energi untuk pergi ke pustaka, juga dapat menghemat biaya untuk membeli buku bacaan ato referensi. dan juga virtual library akan sangat membantu pengembangan potensi edukasi anak-anak indonesia, karena virtual library juga dapat memuat jurnal-jurnal yang dibuat sendiri oleh masyarakat pendidikan secara umumnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika Manfaat yang didapat dari virtual library tersebut sangat besar untuk 1 perpustakaan dalam 1 kabupaten ato kota, maka akan didapatkan manfaat yang berlipat ganda jika virtual library tersebut di miliki masing-masing sekolah di indonesia, dan dapat dibayangkan berapa banyak potensi yang dapat dikembangkan dan berapa banyak karya-karya luar biasa yang dapat ditampung dan di publikasikan. Tentunya setelah itu Indonesia akan memiliki generasi-generasi yang cerdas dan potensial di era yang akan datang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-374548327694251256?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/374548327694251256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/saatnya-virtual-library-bagi_04.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/374548327694251256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/374548327694251256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/saatnya-virtual-library-bagi_04.html' title='Saatnya virtual library bagi perpustakaan sekolah....'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-8267966123482315895</id><published>2009-08-03T09:45:00.000+07:00</published><updated>2009-08-03T09:46:09.071+07:00</updated><title type='text'>Teknologi Informasi untuk Perpustakaan Sekolah</title><content type='html'>&lt;span id="ctl00_ContentPlaceHolder1_lblNews"&gt;&lt;p&gt;Kenyataan bahwa pada era informasi abad ini, teknologi informasi dan komunikasi atau ICT (&lt;em&gt;Information and Communication Teclznology&lt;/em&gt;) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan global oleh kita karena itu setiap institusi termasuk perpustakaan berlomba untuk mengintegrasikan “ICT” guna membangun dan memberdayakan civitas akademikanya berbasis pengetahuan agar dapat bersaing dalam era global. Dalam menyikapi perkembangan ICT pada era informasi tahun ini, perpustakaan berbasis teknologi informasi (&lt;em&gt;komputerisas&lt;/em&gt;i) sangat di butuhkan.. Keberadaan perpustakaan berbasis komputerisasidapat meningkatkan kualitas dan kecepatan proses layanan pada pengguna perpustakaan sehingga dapat memperlancar proses belajar-mengajar di lingkungan Sekolah. Selain itu sistem ini dapat membantu manajemenperpustakaan serta dapat meningkatkan Efektifitas dan efisiensi penatalaksanaan perpustakaan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pustakawan berpotensi menjadi seorang manajer informasi. Peranan baru itu mensyaratkan penguasaan berbagai macam keterampilan, pengetahuan dan kemampuan. Dengan begitu, mereka dapat mengakses dan menyebarkan informasi berbantuan komputer dan teknologi telekomunikasi dari perpustakaannya. Salah satu pendekatan yang sangat mungkin dilakukan dalam hal ini ialah dengan memanfaatkan teknologi internet. Pustakawan secara proaktif dapat memperkenalkan perpustakaannya ke lingkungan sekolah, bisnis, institusi, akademis dan masyarakat seluas-luasnya melalui situs web.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekarang bukan jamannya lagi mencari-cari buku dari katalog kusam di perpustakaan. Peran Teknologi Informasi (TI) telah banyak digunakan untuk memudahkan para pengguna perpustakaan menemukan buku favoritnya. Dengan hanya mengetik judul buku atau nama pengarang pada layar komputer, informasi mengenai posisi serta keberadaan buku yang kita cari pun akan segera tersaji di layar komputer.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perkembangan perpustakaan berbasis teknologi informasi bagi pengelola perpustakaan dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi otomasi perpustakaan, sehingga proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien. Fungsi otomasi perpustakaan menitikberatkan pada bagaimana mengontrol sistem administrasi layanan secara otomatisl terkomputerisasi. Sedangkan bagi pengguna dapat membantu mencari sumber informasi yang diinginkan dengan menggunakan &lt;em&gt;catalog on-line &lt;/em&gt;yang dapat diakses melalui internet, sehingga pencarian informasidapat dilakukan kapan dan dimanapun ia berada.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Idealnya, setiap perpustakaan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi untuk mendukung pengelolaan koleksi perpustakaan. Diperlukan beberapa perangkat untuk pengelolaan perpustakaan berbasis Teknologi Informasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Komputer&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Komputer diperlukan untuk menerima dan mengolah data menjadi informasi secara cepat dan tepat. Perangkat komputer ini akan digunakan untuk menyimpan data koleksi buku data anggota perpustakaan, dan OPAC (&lt;em&gt;Online Public Accses Catalogue&lt;/em&gt;). Dengan OPAC, para pelanggan perpustakaan bisa mencari informasi koleksi buku yang mereka butuhkan tanpa harus mencari secara langsung. Komputer itu juga bisa dikoneksikan ke internet.Kemudian setelah mempunyai koleksi digital, maka kita memerlukan pula komputer yang mempunyai performa yang cukup tinggi sebagai sarana untuk menyimpan serta melayani pengguna dalam mengakses koleksi. Sebuah komputer dengan processor pentium 4 dengan hard disk sebesar 40 giga, memory 256 Mega bytes adalah spesifikasi komputer minimal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. Internet&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di antara manfaat internet untuk pengelolaan perpustakaan adalah sebagai peranti untuk mengakses informasi multimedia dari internet, serta sebagai sarana telekomunikasi dan distribusi informasi. Koneksi internet juga bisa dimanfaatkan untuk membuat&lt;em&gt; homepage&lt;/em&gt; perpustakaan, yang bisa digunakan untuk menyebarluaskan katalog dan informasi.Kecepatan jaringan yang diperlukan jaringan intranet (layanan lokal) maupun internet (layanan global) adalah Jaringan 100 Mbps mutlak diperlukan untuk jaringan intranet, dan koneksi internet minimal 128 Kbps untuk layanan internet.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;3.&lt;em&gt; Software&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempermudah penyajian informasi, diperlukan&lt;em&gt; software&lt;/em&gt; khusus untuk mendukung pelayanan perpustakaan. Ada beberapa jenis &lt;em&gt;software&lt;/em&gt; yang umum digunakan di perpustakaan berbasis IT baik yang berbasis &lt;em&gt;offline&lt;/em&gt; maupun &lt;em&gt;online (open source)&lt;/em&gt;, di antaranya &lt;em&gt;Athenaeum Light&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Freelib dan &lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;Senayan Open Source Library Management System.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;AthenaeumLight&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Kata Athenaeum diambil dari bahasa Yunani, yang artinya perpustakaan atau &lt;em&gt;reading room&lt;/em&gt;. Nama ini digunakan oleh Sumware Consulting NZ untuk nama produk perangkat lunak ‘gratisan’ yang mereka buat. Atheaneum Light 8.5.vi merupakan versi modifikasi dari Athenaeum Light 6.0. yang telah melalui proses konversi menggunakan Filemaker 8.5 dengan kemampuan lebih baik, robust serta mampu mengelola data hingga 8 Tera byte. Athenaeum Light 8.5 ini hanya dapat bekerja pada OS Windows XP dan 2000 &lt;em&gt;service pack&lt;/em&gt; 4, dengan &lt;em&gt;processor&lt;/em&gt; minimal Pentium 3 atau lebih tinggi.&lt;br /&gt;Dengan &lt;em&gt;software&lt;/em&gt; ini para pustakawan akan sangat terbantu dalam pengelolaan perpustakaan, dari proses katalog, input daftar anggota, OPAC, peminjaman, pengembalian, informasi, serta klasifikasi koleksi buku. Pengelola perpustakaan pun tak perlu lagi repot membuat barcode, karena secara otomatis, barcode akan muncul saat pengklasifikasian buku.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;Freelib&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Freelib merupakan singkatan dari &lt;em&gt;Freedom Library&lt;/em&gt;&lt;em&gt;software &lt;/em&gt;yang diambil dari nama Perpustakaan Freedom, yang pertama kali menerapkan aplikasi ini. Sampai saat ini, Freelib sudah menginjak versi 3.0.2 untuk aplikasi katalog, manajemen versi 1.0.2 sedangkan untuk Linux versi 0.0.4. Spesifikasi hardware yang direkomendasikan minimal pentium 3, 600 Mhz dengan memori 64 Mb. Untuk versi Linux, spesifikasi hardware yang dianjurkan lebih tinggi, minimal pentium 4 dengan memori minimal 128Mb&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;Senayan Open Source Library Management System&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;Senayan Open Source Library Management System&lt;/em&gt; merupakan &lt;em&gt;software&lt;/em&gt; perpustakaan buatan Pusat dan Informasi dan Humas Depdiknas dapat di peroleh secara gratis, Kriteria komputer yang disarankan Pentium III &lt;em&gt;class processor&lt;/em&gt; 256 MB, &lt;em&gt;RAM Standard VGA with 16-Bit color support&lt;/em&gt;, Optional tampilan yang ada di software iniadalah menu peminjaman, pengembalian, penelusuran, anggota, laporan, halaman depan buku. Pada sistem sirkulasi peminjaman buku mengggunakan &lt;em&gt;barcodes reader&lt;/em&gt; untuk &lt;em&gt;scan barcode&lt;/em&gt; dengan ini memudahkan pustakawan. Dapat berjalan pada windows XP, Vista dan Linux.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Selain Athenaeum Light, Freelib, dan &lt;em&gt;Senayan Open Source Library Management System&lt;/em&gt; masih ada banyak software lain seperti CDS/ISIS, Open Biblio, IBRA, LIBRA, SIMPEL, Chyprus, dan lain lain. Rata rata program itu merupakan open source dan dibuat secara khusus untuk perpustakaan.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Penerapan perpustakaan berbasis teknologi informasi dapat meningkatkan kualitas dan kecepatan proses layanan pada pengguna perpustakaan, sehingga dapat memperlancar proses belajar mengajar di lingkungan sekolah. Selain itu sistem ini dapat membantu manajemen perpustakaan serta dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengoperasional perpustakaan.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Kemudahan yang ditawarkan teknologi itu harus dimbangi dengan meningkatnya sumber daya manusia (SDM) para pustakawan. Mereka harus memahami dan dapat mengaplikasikan segala kemajuan teknologi itu untuk kepentingan perpustakaan. Karena akan sia-sia saja program-program itu diciptakan, jika tidak dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;Tarto, A.Md adalah Pustakawan LKiS Yogyakarta&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-8267966123482315895?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/8267966123482315895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/teknologi-informasi-untuk-perpustakaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/8267966123482315895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/8267966123482315895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/08/teknologi-informasi-untuk-perpustakaan.html' title='Teknologi Informasi untuk Perpustakaan Sekolah'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-2945566463538817969</id><published>2009-07-31T09:39:00.000+07:00</published><updated>2009-07-31T09:40:44.730+07:00</updated><title type='text'>Strategi Penerapan Teknologi Informasi (Digital Library) di Perpustakaan dan Pusat Informasi</title><content type='html'>Oleh:&lt;br /&gt;Abdul Rahman Saleh&lt;br /&gt;rahman@ipb.ac.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Informasi merupakan sumberdaya yang strategis sepanjang hidup kita. Sebagai negara yang sedang membangun maka informasi merupakan bagian yang sangat penting dalam pembangunan Indonesia. Informasi juga sangat diperlukan didalam pendidikan dan penelitian guna pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di perguruan tinggi perpustakaan merupakan suatu lembaga yang mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan informasi dari sejak menghimpun, mengolah sampai mendessiminasikan informasi kepada para penggunanya baik sivitas akademika maupun bukan sivitas akademikanya..&lt;br /&gt;Saat ini kita sering mendengar istilah library without wall (perpustakaan tanpa dinding), virtual library (perpustakaan maya), digital library (perpustakaan digital), virtual catalog (katalog maya) baik dalam pembicaraan sehari-hari maupun dalam literatur. Istilah-istilah itu sebelumnya hanya merupakan istilah asing dan mungkin tidak mempunyai efek apa-apa bagi pustakawan Indonesia.&lt;br /&gt;Namun istilah tersebut saat ini sudah mulai akrab dengan sebagian pustakawan kita. Hal ini disebabkan karena beberapa tahun belakangan ini teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK) atau yang dikenal dengan ICT (Information and Communication Technology) dan lebih spesifik lagi jaringan internet makin merambah ke seluruh aspek kegiatan, termasuk bidang perpustakaan.&lt;br /&gt;Pada paruh kedua abat 20 yang lalu terjadi perkembangan yang sangat pesat di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan IPTEK ini ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology/ICT), terutama sekali pada dasa warsa 90an. Perkembangan ini sangat berpengaruh terhadap aspek kehidupan manusia tak terkecuali di perpustakaan. Kemajuan ini membawa perubahan-perubahan pada layanan perpustakaan sehingga kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi, harus diterima di perpustakaan. Teknologi ini memang menjanjikan kecepatan, yang merupakan salah satu faktor yang saat ini sangat dituntut dalam pengelolaan informasi. Program otomasi perpustakaan mulai menjadi trend perkembangan perpustakaan di Indonesia. Hasil survey sementara IPB menunjukkan bahwa 92,6 % perpustakaan telah dilengkapi dengan komputer, walaupun sebagian besar masih memiliki antara satu sampai lima unit PC (48 %) dan hanya 12 % saja yang memiliki komputer lebih dari 20 unit. Dari 92,6 % yang sudah dilengkapi dengan komputer tersebut sekitar 70 % sudah menggunakan perangkat lunak untuk layanan perpustakaan (library house keeping) seperti katalogisasi, klasifikasi, OPAC, kontrol sirkulasi dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi Teknologi Informasi&lt;br /&gt;Penjelasan dari Information and communication technology di Web dalam bahasa Bahasa Inggris:&lt;br /&gt;• is the catch-all phrase used to describe a range of technologies for gathering, storing, retrieving, processing, analysing and transmitting information. Advances in ICT have progressively reduced the costs of managing information, enabling individuals and organisations to undertake information-related tasks much more efficiently, and to introduce innovations in products, processes and organisational structures. (www.smartstate.qld.gov.au/strategy/strategy05_15/glossary.shtm. 9 maret 2006)&lt;br /&gt;• The function of developing, acquiring, testing, implementing and maintaining electronic systems. These systems include databases, applications and procedures to support the business needs of the organisation in the capture, storage, retrieval, transfer, communication, process and dissemination of information. Includes the evaluation, acquisition, tendering, leasing, licensing and disposal of software and hardware. ...( metadata.curtin.edu.au/manual/classification.html. 9 maret 2006)&lt;br /&gt;• Electronic collection, editing, storage, distribution and presentation of information.&lt;br /&gt;• Information technology (IT) or information and communication technology (ICT) is the technology required for information processing. In particular the use of electronic computers and computer software to convert, store, protect, process, transmit, and retrieve information from anywhere, anytime.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Information Technology (IT) or Information and Communication(s) Technology (ICT) is a broad subject concerned with technology and other aspects of managing and processing information, especially in large organizations.&lt;br /&gt;In particular, IT deals with the use of electronic computers and computer software to convert, store, protect, process, transmit, and retrieve information. For that reason, computer professionals are often called IT specialists, and the division of a company or university that deals with software technology is often called the IT department. Other names for the latter are Information Services (IS) or Management Information Services (MIS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan Penerapan Teknologi Informasi di Perpustakaan&lt;br /&gt;Kehadiran teknologi Informasi dan Komunikasi tidak bisa lagi ditawar-tawar. Siap atau tidak siap kita harus menerima kehadirannya. Ada beberapa hal yang menjadi sebab kita melakukan otomasi di perpustakaan yaitu:&lt;br /&gt;• Tuntutan terhadap penggunaan koleksi secara bersama (resource sharing)&lt;br /&gt;Seperti kita ketahui tidak ada satu perpustakaanpun di dunia ini yang bisa memenuhi koleksinya sendiri, maka setiap perpustakaan akan saling membutuhkan koleksi perpustakaan lain dalam rangka memberikan layanan yang memuaskan kepada pemakainya. Oleh karena itu penggunaan bersama koleksi perpustakaan sangat membatu dalam memberikan pelayanan terutama bagi perpustakaan-perpustakaan kecil yang koleksinya sangat lemah. Program penggunaan koleksi secara bersama ini dapat berjalan dengan baik apabila setiap perpustakaan dapat memberikan informasi apa yang dimiliki oleh perpusakaannya masing-masing. Peran union catalog sangat besar dalam menyukseskan program penggunaan koleksi secara bersama ini. Union catalog yang baik adalah union catalog yang secara rutin isinya selalu diperbaharui. Disinilah teknologi komputer sangat berperan dalam mempercepat pembaharuan isi (updating) dari union catalog ini.&lt;br /&gt;• Kebutuhan untuk mengefektifkan sumberdaya manusia&lt;br /&gt;Sudah cukup lama pemerintah menerapkan kebijaksanaan "zero growth" untuk pegawai negeri. Hasil dari kebijakan pemerintah ini adalah semakin berkurangnya tenaga kerja di perpustakaan. Untuk mempertahankan mutu pelayanan perpustakaan dimana SDM semakin berkurang maka kita dapat mengandalkan teknologi komputer. Untuk melayani peminjaman bahan pustaka yang tadinya diperlukan lima sampai enam orang, dapat digantikan dengan satu unit komputer yang dioperasikan oleh satu orang saja. Tenaga kerja yang lain dapat dialokasikan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain. Dengan efisiensi tenaga seperti ini maka perpustakaan dapat memikirkan dan mengalokasikan tenaga untuk menyelenggarakan layanan-layanan lain yang dapat diberikan kepada pemakai.&lt;br /&gt;• Tuntutan terhadap efisiensi waktu&lt;br /&gt;Dulu pemakai mungkin sudah puas dengan layanan penelusuran artikel bila artikel-artikel dapat ditemukan sekalipun layanan tersebut memakan waktu sampai berminggu-minggu. Sekarang pemakai mungkin menuntut layanan tersebut hampir instan. Saat ini pertanyaan diajukan, saat itu pula jawaban diharapkan bisa diterima. Layanan yang demikian ini bisa dipenuhi hanya dengan bantuan teknologi komputer. Pemakai dapat mengirimkan permintaannya melalui elektronik mail (e-mail) yang pada saat itu pula dapat diterima oleh perpustakaan. Kemudian petugas perpustakaan melakukan akses ke pangkalan data/informasi yang ada di komputer baik di perpustakaannya atau di perpustakaan lain. Jawaban yang diperolehnya (hanya dalam beberapa saat) kemudian dikirim kembali kepada si penanya dengan menggunakan e-mail yang dalam waktu relatif singkat dapat diterima oleh si penanya.&lt;br /&gt;· Kebutuhan akan ketepatan layanan informasi&lt;br /&gt;Selain kecepatan dalam memperoleh informasi, pemakai juga membutuhkan ketepatan informasi yang didapatkannya dari perpustakaan. Pertanyaan-pertanyaan tentang informasi secara spesifik harus bisa dijawab secara spesifik pula. Dengan bantuan teknologi komputer pertanyaan-pertanyaan ini bisa dijawab dengan cepat dan tepat.&lt;br /&gt;• Keragaman informasi yang dikelola&lt;br /&gt;Informasi yang ada di perpustakaan saat ini tidak hanya terbatas kepada buku dan jurnal ilmiah saja. Informasi-informasi lain seperti audio visual, multimedia, bahan mikro, media optik dan sebagainya saat ini juga dikoleksi oleh perpustakaan. Banyak koleksi perpustakaan yang harus di baca dengan menggunakan teknologi komputer. Selain itu untuk mengelola informasi yang sangat beragam tersebut diperlukan bantuan alat terutama teknologi komputer.&lt;br /&gt;Ada dua bentuk pemakaian Teknologi Informasi di perpustakaan. Pertama, perpustakaan dapat hanya memakai sumber yang sudah ada, dengan menelusuri pangkalan data yang disediakan oleh penyedia data (vendor seperti BIOSIS, DIALOG dsb), mengirim surat elektronik melalui internet, memasang data di ”bulletin boards” atau ”listservs” dan sebagainya. Kedua, perpustakaan bisa menyediakan data yang disimpan baik di Web ataupun didistribusikan melalui CD-ROM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi Teknologi Informasi di Perpustakaan&lt;br /&gt;• Pengadaan Koleksi&lt;br /&gt;Biasanya pustakawan memakai katalog penerbit untuk menentukan buku dan jurnal yang sesuai dengan kebutuhan pemakai perpustakaan mereka. Di Indonesia, khususnya di perpustakaan kecil, kadang-kadang tidak mudah menemukan informasi mengenai publikasi dari sini. Disinilah internet bisa menolong kita seperti memanfaatkan katalog dari perpustakaan yang lain untuk memilih judul yang relevan dalam subyek tertentu. Katalog-katalog ini memberikan semua informasi bibliografis yang diperlukan untuk memesan, termasuk ISBN, dan kadang-kadang harga. Salah satu katalog yang paling lengkap di dalam Internet adalah katalog Library of Congress.&lt;br /&gt;Penerbit saat ini sudah banyak yang membuat katalognya dengan versi elektronik yang didistribusikan menggunakan CD-ROM, dan bahkan katalog tersebut dapat diperoleh dari Internet. Blackwells Science adalah salah satu contoh. Pustakawan bisa mencari buku dan jurnal dengan menelusuri melalui subyek, pengarang atau judul, dan dari sini mereka bisa langsung memesan buku yang ditemukan. Penerbit akan mengirim buku-buku itu melalui pos. Untuk transaksi tipe ini, dibutuhkan kartu kredit.&lt;br /&gt;Berbagai toko buku juga memanfaatkan Internet untuk menjual produk mereka. Toko buku Amazon adalah yang terbesar dan paling sukses saat ini. Mizan, penjual buku di Indonesia, juga melaksanakan bisnis buku melalui Internet.&lt;br /&gt;Katalog penerbit, baik dalam bentuk online ataupun kertas, tidaklah selalu cukup untuk membantu kita untuk memutuskan buku mana yang diperlukan. Kita perlu membaca book review – laporan buku yang menilai dan menganalisis. Internet bisa membantu untuk hal ini. Ada beribu-ribu jurnal elektronik yang bisa diperoleh dalam berbagai topik. Untuk review buku pada topik yang spesifik, lihatlah pada jurnal untuk para pakar. Misalnya, New Scientist di dalamnya ada beberapa review mengenai buku-buku baru untuk ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain untuk menemukan informasi yang mengevaluasi buku tertentu adalah melalui Usenet. Usenet adalah sistem bulletin board yang terbesar di dunia, terdiri dari pertukaran pesan-pesan dalam jumlah yang besar mengenai beribu-ribu subyek. Ini adalah forum untuk ”komunikasi elektronik” menurut seorang penulis dan tampaknya bisa menjengkelkan pustakawan yang sibuk mencari informasi. Usenet bisa dibagi ke dalam beberapa pengelompokan subyek. Sekali pustakawan telah mengidentifikasi kelompok yang relevan untuk menemukan review buku, maka tugasnya akan lebih mudah. Pustakawan dapat membaca pesan-pesan yang terakhir mengenai buku-buku apa yang dibicarakan, atau mereka juga bisa memasang pesan sendiri, menanyakan sebuah buku atau beberapa buku menurut topik tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pengolahan Koleksi&lt;br /&gt;Katalogisasi dan klasifikasi merupakan pekerjaan yang memerlukan ekspertis tinggi. Di negara maju kataloger dan klasifier mempunyai gaji yang sangat tinggi. Di Indonesia pustakawan yang bertugas di bagian katalogisasi dan klasifikasi memerlukan pendidikan khusus seperti diploma ataupun sarjana perpustakaan. Apabila sejumlah perpustakaan besar melakukan katalogisasi dan klasifikasi menggunakan teknologi komputer, maka perpustakaan yang lebih kecil sesungguhnya bisa memanfaatkannya, sehingga perpustakaan yang lebih kecil tadi tidak perlu menggaji seorang kataloger dan klasifier. Teknik ini dikenal dengan copy cataloging. Di negara maju copy cataloging ini banyak dilakukan seperti copy cataloging ke OCLC di Amerika Serikat, atau ke BLCMP di Inggris. Dengan copy cataloging selain kita menghemat tenaga (ahli), kita juga dapat melakukan standarisasi katalog sehingga keragaman katalog untuk suatu judul buku yang sama dapat dihindari. Dengan mengacu pada katalog online pustakawan bisa menemukan rekaman katalog dan memakainya untuk katalog mereka sendiri. Secara ideal, rekaman-rekaman yang ditemukan akan di-download langsung ke komputer lokal. Tetapi jika perpustakaan itu belum memiliki sistem katalog komputer atau jika sistem yang dipakai tidak cukup canggih untuk ”interface” dengan Internet, pustakawan masih bisa memakai rekaman dari katalog itu, dengan cara mengetikkan nomor-nomor klas dan tajuk subyek yang didapatnya dari internet. Dengan cara ini, pustakawan bisa mempersingkat waktu pengkatalogan buku asing.&lt;br /&gt;Barangkali perlu dipikirkan bila perpustakaan di Indonesia menjalin katalog mereka dengan Internet sehingga rekaman katalog untuk buku-buku Indonesia akan tersedia. ini mungkin akan menjadi proyek yang baik untuk dikoordinir oleh Perpustakaan Nasional RI. Seluruh bibliografi nasional yang dibuat oleh Perpustakaan Nasional kemungkinan bisa dibuat tersedia melalui Internet, seperti kasus Perpustakaan Nasional di Kanada, Inggris, Amerika Serikat, dan negara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Katalog Online&lt;br /&gt;Katalog online adalah sistem katalog perpustakaan yang menggunakan komputer. Pangkalan datanya biasanya dirancang dan dibuat sendiri oleh perpustakaan baik menggunakan perangkat lunak buatan sendiri, maupun menggunakan perangkat lunak komersial. Sesuai dengan namanya katalog online ini berfungsi seperti layaknya sebuah katalog yaitu sebagai sarana penelusuran koleksi milik suatu perpustakaan. Katalog ini memberikan informasi bibliografis serta lokasi suatu buku di perpustakaan. Katalog online merupakan suatu terobosan yang luar biasa di bidang kepustakawanan karena dapat memberikan titik cari (access point) dari segala aspek pendekatan pada data katalog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OPAC Web dan OPAC LAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada katalog konvensional kita tidak akan dapat mencari suatu entri katalog dari penerbit, tahun terbit, atau bahkan dari kata yang ada pada judul (selain kata pada urutan pertama). Semua pendekatan dapat dilakukan pada katalog online, bahkan kita bisa mencari melalui dua kata yang ada pada judul dengan jarak kata tertentu (adjecent).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Sirkulasi&lt;br /&gt;Salah satu layanan pokok dari perpustakaan adalah layanan sirkulasi. Pada layanan ini sekurang-kurangnya dilakukan pencatatan seperti peminjaman koleksi, pengembalian pinjaman, perpanjangan pinjaman, denda, dan statistik layanan. Dengan cara konvensional untuk melayani satu transaksi peminjaman koleksi diperlukan sekurang-kurangnya tiga sampai lima menit. Ini belum termasuk penghitungan statistik layanan. Dengan bantuan komputer, waktu yang diperlukan untuk melakukan layanan peminjaman ini sangat singkat yaitu kurang dari 15 detik. Dengan demikian sebuah perpustakaan dapat melakukan penghematan anggaran (dengan mempekerjakan pegawai yang lebih sedikit) sekaligus memberikan kepuasan layanan kepada pengguna perpustakaan.&lt;br /&gt;Internet tidak menawarkan keuntungan secara langsung kepada pustakawan dalam hal sirkulasi. Tapi memberi keuntungan kepada si pemakai. Kalau sebuah katalog perpustakaan sudah dapat diakses melalui Internet, pemakai dapat mengecek dari rumah apakah suatu buku ada. Kalau buku tersebut sedang dipinjam, mereka dapat memesan dengan mencantumkan nama mereka untuk kemudian disisihkan untuk mereka pinjam. Pemakai dapat juga memeriksa dari rumah atau kantor, buku mana saja yang mereka pinjam pada saat itu, dari file keanggotaan mereka sendiri. Perpanjangan dapat juga dilakukan dari rumah. Pemberitahuan mengenai pinjaman yang sudah lewat batas dapat dikirim kepada pemakai melalui e-mail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Layanan Informasi Mutakhir dan Layanan informasi terseleksi&lt;br /&gt;Perpustakaan dapat memberikan layanan informasi secara aktif berupa layanan informasi mutakhir (current awereness services/ CAS) maupun layanan informasi terseleksi (selective dissemination of information/ SDI). Pelayanan informasi mutakhir adalah pelayanan perpustakaan dimana perpustakaan menyediakan informasi terbaru sering tanpa batas-batas subyek tertentu selain hanya kemutakhiran itu sendiri. Sedangkan pelayanan informasi terseleksi merupakan pelayanan perpustakaan dimana perpustakaan menyediakan informasi yang sesuai dengan minat dan bidang ilmu pengguna yang menjadi pelanggannya. Didalam melakukan layanan CAS dan SDI ini diperlukan waktu yang sangat banyak dan kesabaran yang tinggi terutama SDI karena petugas harus melakukan pemilihan pustaka sesuai dengan profil minat pengguna setiap ada informasi datang. Dengan bantuan komputer maka layanan CAS dan SDI dapat dipermudah dan dipersingkat. Petugas hanya melakukan input ke pangkalan data setiap ada informasi baru datang. Tugas untuk pemilihan informasi yang sesuai dengan profil minat pengguna (yang sudah diinput sebelumnya) diserahkan kepada komputer. Dalam hitungan detik atau maksimal menit, maka komputer sudah menghasilkan output yang siap dikirim ke pelanggan kedua layanan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu cara untuk membentuk sistem elektronik untuk informasi kilat adalah untuk mendirikan apa yang disebut mailing list. Fungsi atau tujuan mailing list ini mungkin untuk tempat berdiskusi bagi sekelompok orang-orang tertentu, namun demikian mailing list ini dapat juga digunakan untuk penyebaran informasi. Seorang pustakawan mungkin ingin mengirim daftar isi dari beberapa jurnal tertentu kepada beberapa ilmuwan setiap bulan. Pustakawan itu akan membuat daftar dari alamat e-mail dari ilmuwan-ilmuwan dan perpustakaan akan menciptakan semacam mailing list. Mailing list juga dapat digunakan untuk penyebaran informasi yang selektif. Pustakawan dapat mencari situs Internet yang relevan secara rutin dan jika ada sesuatu yang menarik dari grup mailing list, mereka dapat mengirimnya melalui e-mail. Dengan mailing list, pustakawan hanya perlu mengirim artikel sekali saja, dan akan menjangkau semua orang yang ada di daftarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penelusuran informasi lengkap dan Multimedia&lt;br /&gt;Dengan teknologi komputer yang semakin maju seperti sekarang ini sangat dimungkinkan bagi perpustakaan untuk menyediakan layanan informasi lengkap (fulltext), bahkan dalam bentuk multimedia. Dengan teknik hypertext kita bisa menampilkan layanan fulltext yang bisa dihubungkan dengan bebas ke baik teks lain maupun gambar dan animasi. Saat ini dengan mudah kita jumpai ensiklopedi yang dikemas dalam CD-ROM. Artikel yang ada dalam CD-ROM tersebut selain menampilkan teks lengkap juga dapat menampilkan animasi (seperti gerakan melompat seekor harimau) serta suara (auman seekor singa). Media seperti ini belum pernah kita bayangkan sebelumnya, namun dengan teknologi komputer saat ini media seperti ini sangat mudah diperoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penelusuran Bibliografi dan abstraks&lt;br /&gt;Seperti pada katalog online pengguna bisa mendapatkan layanan berupa data bibliografi buku maupun artikel jurnal ilmiah. Bahkan tidak hanya bibliografinya saja, melainkan dengan ringkasan (abstraks) dari dokumen aslinya. Dengan layanan seperti ini pengguna dapat memilih dokumen yang akan dibaca maupun dokumen yang tidak perlu dibaca sehingga pengguna dapat menghemat waktu didalam menelaah informasi yang dibutuhkannya. Dengan bantuan komputer seperti ini akan menjadi sangat efektif dan dapat dilakukan dengan cepat dan dengan fleksibilitas yang sangat tinggi karena pangkalan data berbasis komputer ini memberikan kemungkinan pendekatan dari berbagai aspek sebagai titik temu (multiple approach). Penggunaan operator Boolean dapat memberikan kombinasi penelusuran penelusuran yang sangat luas, sehingga pengguna dapat mengatur hasil penelusurannya sesuai dengan yang diinginkan.&lt;br /&gt;Peminjaman Antar Perpustakaan &amp;amp; Pengiriman Dokumen (Document Delivery)&lt;br /&gt;Peminjaman antar perpustakaan adalah tidak lazim di Indonesia, karena ketidakpastian dari kantor pos dan kurangnya koleksi buku-buku. Di negara-negara maju servis semacam ini banyak sekali digunakan. Terutama saat ini, dimana dana untuk perpustakaan dikurangi, perpustakaan seringkali memutuskan untuk tidak membeli sebuah buku kalau mereka mengetahui ada perpustakaan lain/dekat memiliki buku tersebut. Ini berarti perpustakaan lebih memilih kelengkapan daripada koleksi yang duplikat. Dengan melihat katalog perpustakaan lain di Internet, para pustakawan dapat memastikan dulu apakah perpustakaan itu mempunyai buku yang dicari. Kalau perpustakaan tidak memiliki buku tersebut, pustakawan dapat memesannya langsung dari Webpage perpustakaan itu.&lt;br /&gt;Di Indonesia peminjaman antar perpustakaan kadang-kadang menyangkut layanan pertukaran fotokopi artikel jurnal yang sering disebut dengan silang layan. Seandainya, ada perpustakaan yang bertindak sebagai pusat jaringan (sebut saja Perpustakaan Nasional RI) membuat sebuah database online terdiri dari semua jurnal yang dimiliki perpustakaan-perpustakaan daerah dan menunjukkan perpustakaan mana mempunyai judul apa, ini merupakan alat yang berharga untuk berbagi informasi. Fotokopi dapat dipesan melalui e-mail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Rujukan (Reference)&lt;br /&gt;Sebenarnya banyak sekali yang dapat dibahas mengenai pemakaian Internet untuk rujukan. Namun karena keterbatasan waktu maka hanya beberapa hal saja yang dapat disampaikan pada kesempatan ini.&lt;br /&gt;Pelayanan rujukan adalah jawaban dari pertanyaan yang diberikan dari pemakai perpustakaan. Pertanyaan yang berhubungan dengan skripsi atau laporan (”Saya perlu suatu daftar artikel mengenai ’wanita dalam drama Shakespeare”; ”Saya perlu artikel mengenai keselamatan tenaga nuklir”) adalah sangat rumit. Sebagian pertanyaan lainnya memerlukan jawaban berupa satu kalimat tapi belum tentu lebih mudah untuk menjawabnya. Bahkan mungkin saja ada pertanyaan yang tidak keruan. Adalah tugas seorang pustakawan untuk menjawab setiap pertanyaan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Satu sumber yang sangat bermanfaat bagi para pustakawan yang mencari informasi adalah Usenet. Banyak dari pustakawan tidak dapat menemukan jawaban di koleksi buku mereka tetapi dapat mengajukan perpustakaan kepada grup Usenet dan biasanya strategi ini mendapatkan banyak jawaban dari seluruh dunia.&lt;br /&gt;Cara lain untuk menemukan jawaban dari pertanyaan referensi adalah mencarinya di World Wide Web. Ini sering menjadi pekerjaan yang menakutkan karena informasi yang tersedia banyak dan kualitas dari indexing tidak seimbang. Tapi, sesudah pustakawan mengetahui sumber-sumber yang sering dipakai di perpustakaannya, pustakawan itu pasti akan ketemu banyak informasi yang relevan. Satu cara adalah untuk melokasi dua atau lebih dari index Internet yang terlengkap atau terbesar. Beberapa institusi besar telah memasang halaman Web yang saling berhubungan dengan halaman-halaman lainnya. Dengan bentuk ini sangat berguna untuk membantu pencari data lainnya&lt;br /&gt;Telah ada beberapa situs yang dimiliki organisasi-organisasi Indonesia atau dekat Indonesia. Biro Pusat Statistik telah membuat sebuah situs yang menyediakan jalan masuk ke statistik yang paling baru di beberapa topik. Banyak departemen pemerintah, bank-bank dan organisasi-organisasi lain membuat homepage dan menghubungkan ke informasi database yang berguna. Satu index untuk situs Indonesia adalah Jendela Indonesia.&lt;br /&gt;Bentuk lain dari sumber-sumber full-text yang dapat ditemukan di Internet adalah kamus (misalnya, seleksi dari kamus bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya dari Oxford di situs dinamai Dictionaries and Refernce Works. Beberapa kamus untuk para spesialis juga ada, seperti FOLDOC (Free Online Dictionary of Computing). Contoh lainnya adalah Bartlett’sumber Familiar Quotations, Encyclopedia Britanica, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Artikel Jurnal&lt;br /&gt;Artikel jurnal merupakan informasi primer yang sangat penting terutama bagi peneliti dan dosen. Oleh karena itu keberasaannya di perpustakaan khusus atau perguruan tinggi sangat diharapkan. Namun, jika sebuah perpustakaan tidak berlangganan jurnal tertentu, mereka masih dapat memperolehnya dari Internet. Salah satu index ke artikel jurnal yang terkenal disebut Uncover. Setiap orang dapat menelusuri index itu tanpa bayaran tetapi harus membayar untuk fotokopi dari jurnal tersebut.&lt;br /&gt;Artikel-artikel itu dapat dipesan langsung melalui online dan dapat dikirim kepada yang membutuhkan melalui fax, e-mail atau surat biasa. Kadang-kadang kartu kredit harus digunakan untuk transaksi semacam ini, kecuali perpustakaan membuka account khusus untuk penyedia data.&lt;br /&gt;Dengan bayar biaya pendaftaran, seorang spesialis subyek tertentu dapat mendaftar untuk menerima daftar isi jurnal dari topik itu (automatic current awareness). Untuk pengguna perpustakaan tanpa akses ke Internet di rumah mereka, perpustakaan dapat mendaftarkan dan memberi daftar isi jurnal kepada anggota yang berhak sebagai pelayanan tambahan.&lt;br /&gt;Dialog, yang cukup diketahui oleh para pustakawan, memberikan akses ke berbagai database dari artikel jurnal, laporan, dll, dan dapat dijumpai di Internet jika kita berlangganan. Pemakai bahkan harus membayar sebelum dapat mencapai indexnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Dukungan ”Melek Komputer”&lt;br /&gt;Satu aspek yang mendukung para pemakai perpustakaan untuk menjadi melek komputer adalah belajar bagaimana memakai komputer, termasuk bagaimana menggunakan Internet. Ada beberapa tutorial online untuk keperluan ini, dan pustakawan dapat membimbing pemakai daripada menghabiskan waktu berjam-jam mengajari setiap pemakai baru. Salah satu tutorial disebut TONIC : the online netskills interactive course.&lt;br /&gt;Cara lainnya untuk mendukung pengetahuan komputer dan pada waktu yang bersamaan membantu perpustakaan itu sendiri adalah memberi bimbingan kepada pemakai untuk akses ke situs yang menyediakan software komputer gratis. Ada ribuan paket software tersedia di Internet. ”Shareware” dapat dipakai untuk waktu yang terbatas secara percobaan sementara dan ”freeware” dapat dilihat dan dipakai secara gratis. Sebuah contoh situs dimana pustakawan dapat menemukan software adalah IFLA Internet &amp;amp; Library Software Archive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan Digital&lt;br /&gt;Pada dasarnya, perpustakaan digital sama saja dengan perpustakaan biasa, hanya saja memakai prosedur kerja berbasis komputer dan sumberdaya digital (Widyawan, 2005). Perpustakaan Digital atau digital library menawarkan kemudahan bagi para pengguna untuk mengakses sumber-sumber elektronik dengan alat yang menyenangkan pada waktu dan kesempatan yang terbatas. Pengguna bisa menggunakan sumber-sumber informasi tersebut tanpa harus terikat kepada jam operasional perpustakaan (seperti jam kerja atau jam buka perpustakaan).&lt;br /&gt;Istilah yang digunakan untuk perpustakaan digital (digital library) sering dipertukarkan dengan perpustakaan elektronik (e-library), dan perpustakaan maya (virtual library). Menurut Kusumah (2001) Digital Library belum didefinisikan secara jelas untuk dapat dijadikan standar atau acuan dalam dunia pendidikan. Namun demikian ia mengutip definisi yang dirangkum oleh Saffady sebagai berikut:&lt;br /&gt;”Digital Library adalah perpustakaan yang mengelola semua atau sebagian yang substansi dari koleksi-koleksinya dalam bentuk komputerisasi sebagai bentuk alternatif, suplemen atau pelengkap terhadap cetakan konvensional dalam bentuk mikro material yang saat ini didominasi koleksi perpustakaan.”&lt;br /&gt;Beberapa definisi terhadap istilah-istilah tersebut di atas ditemukan di internet seperti berikut: Electronic Library adalah sebuah sistem perpustakaan yang menggunakan elektronik dalam menyampaikan informasi dan sumber yang dimilikinya. Media elektronik tersebut bisa komputer, telepon, internet dan sebagainya. Jadi Perpustakaan Elektronik dapat didefinisikan sebagai sekumpulan kegiatan yang menggabungkan koleksi-koleksi, layanan dan orang yang mendukung penuh siklus penciptaan, disseminasi, pemanfaatan dan penyimpanan informasi serta pengetahuan dalam segala format yang telah dievaluasi, diatur, diarsip dan disimpan. Perpustakaan Digital atau digital library adalah organisasi yang menyediakan sumber-sumber dan staf ahli untuk menyeleksi, menyusun, menyediakan akses, menerjemahkan, menyebarkan, memelihara kesatuan dan mempertahankan kesinambungan koleksi-koleksi dalam format digital sehingga selalu tersedia dan murah untuk digunakan oleh komunitas tertentu atau ditentukan. Sedangkan Virtual Library adalah penggabungan dari sistem informasi perpustakaan melalui web ataupun secara elektronik dengan koleksi-koleksi dalam format digital. Selain itu dapat juga berarti sebagai perpustakaan yang bisa menampung ataupun menyediakan fasilitas-fasilitas yang biasa disediakan oleh perpustakaan konvensional .&lt;br /&gt;Menurut Widyawan (2005) perpustakaan digital itu tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan sumber-sumber informasi lain dan pelayanan informasinya terbuka bagi pengguna di seluruh dunia. Koleksi perpustakaan digital tidak terbatas pada dokumen elektronik pengganti bentuk tercetak saja, ruang lingkup koleksinya malah sampai pada artefak digital yang tidak bisa tergantikan oleh bentuk tercetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1.&lt;br /&gt;     Campbell, Jane. Internet dalam Perpustakaan : bagaimana perpustakaan dapat tetap berada di depan (in the forefront) dalam zaman informasi. Makalah disampaikan pada tanggal 9 Oktober 1997 di Institut Pertanian Bogor.&lt;br /&gt;  2.&lt;br /&gt;     Rahardjo, A. I. Teknologi Informasi: Ancaman Ataukah Peluang Bagi Profesi Pustakawan Indonesia. Makalah pada kongres IPI ke VII, Jakarta 1995.&lt;br /&gt;  3.&lt;br /&gt;     Rahim, A.R. Peranan Perpustakaan dan Pustakawan dalam menunjang Pembangunan Nasional. Makalah pada kongres IPI ke VII, Jakarta 1995&lt;br /&gt;  4.&lt;br /&gt;     Saleh, Abdul Rahman. Otomasi Perpustakaan dan Penggunaan SIPISIS. Makalah lepas.&lt;br /&gt;  5.&lt;br /&gt;     _________________, dan B. Mustafa. Penggunaan Komputer untuk Pelayanan Informasi di Perpustakaan. Dalam. Kepustakawanan Indonesia: Potensi dan Tantangan. Editor Antonius Bangun dkk. Jakarta: Kesaint Blanc, 1992.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-2945566463538817969?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/2945566463538817969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/strategi-penerapan-teknologi-informasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2945566463538817969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2945566463538817969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/strategi-penerapan-teknologi-informasi.html' title='Strategi Penerapan Teknologi Informasi (Digital Library) di Perpustakaan dan Pusat Informasi'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-2156929283217073396</id><published>2009-07-30T08:29:00.002+07:00</published><updated>2009-07-30T08:53:33.100+07:00</updated><title type='text'>Perpustakaan Modern Harus Menjadi Meeting Point Antar Manusia</title><content type='html'>Diskusi ‘Manajemen Perpustakaan Modern’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertempat di Ruang Sidang Utama Gedung Rektorat UII, pada Selasa, 21 April 2009 lalu, Direktorat Perpustakaan menggelar diskusi bertajuk ‘Manajemen Perpustakaan Modern’. Diskusi yang diikuti oleh stakeholders perpustakaan mulai dari tingkat fakultas, rektorat, hingga yayasan badan wakaf ini, menghadirkan dua pembicara, yaitu Luki Wijayanti (Universitas Indonesia) dan Endang Ermawati, M.Lib. (Universitas Bina Nusantara). Dalam kesempatan ini, Wakil Rektor I, Prof. Ir. Sarwidi, MSCE., Ph.D., IP-U., hadir dan menyampaikan sambutan pembukaan diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ImageWakil Rektor I antara menjelaskan perkembangan perpustakaan UII yang tumbuh dan berkembang dari berbagai unit yang ada namun belum memiliki tempat yang memadai di kampus terpadu. Akibatnya ketika akan mendapat bantuan buku, terdapat beberapa masalah terkait kesiapan sarana. Untuk itulah sejak Puncak Perayaan Milad UII ke 65, telah dimulai pembangunan perpustakaan pusat yang diawali peletakan batu pertama di selatan Masjid Ulil Albab. Sebelumnya tahap pradesain bangunan beserta berbagai unsur di dalamnya telah dibahas melalui panitia yang diharapkan mampu mewujudkan perpustakaan yang representatif untuk UII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dalam paparannya, Luki Wijayanti menjelaskan bahwa dalam membangun sebuah system perpustakaan terpadu seperti yang dialaminya langsung di UI membutuhkan kerja keras yang melibatkan banyak pihak. Luki menjelaskan misalnya bagaimana melakukan integrasi perpustakaan dari 14 fakultas yang ada dengan membangun paradigma bahwa semua adalah mitra. Dari sini kemudian, dikembangkan keterbukaan mengenai penggunaan beberapa koleksi online yang dilanggan oleh fakultas tertentu, agar fakultas yang lain tidak perlu melanggan koleksi tersebut karena hanya menguntungkan vendor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah tidak kalah penting adalah penguatan sumber daya manusia (SDM) perpustakaan. Agar terjadi sinergi yang optimal, UI memilih mengembangkan SDM perpustakaan secara terpusat sehingga SDM yang dihasilkan memiliki orientasi pengembangan perpustakaan pusat dan siap jika ditugaskan di fakultas. Dalam mengelola manajemen perpustakaan modern saat ini, Luki memetakan sejumlah poin penting yang harus menjadi perhatian perguruan tinggi. Pertama adalah kebijakan perguruan tinggi itu sendiri dalam mengelola manajemen pendidikan tingginya. Luki mencontohkan bagaimana perubahan framework dari research university, world class university, maupun liberal arts amat berpengaruh dalam kebijakan universitasnya untuk perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin lain adalah fasilitas pendukung bagi perpustakaan yang antara lain meliputi gedung, jaringan komunikasi dan transportasi. Kesemuanya menurut Luki harus diperhitungkan secara matang agar fungsi perpustakaan sesuai visi universitas dapat terwujud. Luki mencontohkan bagaimana kebijakan membangun perpustakaan pusat, akan diikuti dengan kebijakan transportasi kampus, sehingga akses ke perpustakaan dapat dinikmati semua mahasiswa maupun dosen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan pusat informasi maupun perpustakaan lain juga harus diperhatikan, terutama dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi yang memperluas sumber informasi tidak hanya dari perpustakaan, tetapi internet, blog, maupun jejaring sosial (facebook, plurk, dan lain-lain). Manajemen perpustakaan harus mampu secara efektif memanfaatkan sumber daya yang ada untuk memanfaatkan perkembangan semacam ini. Termasuk di dalamnya adalah dukungan sistem informasi yang menjadi pilihan pengelolaan perpustakaan. Dengan makin minimalnya penggunaan kertas, digitalisasi menjadi tuntutan dalam dunia akademik yang tidak bisa dihindari perpustakaan perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan metode pembelajaran yang beragam dalam perguruan tinggi bagi Luki juga menjadi tantangan manajemen perpustakaan karena setiap perubahan metode akan berimplikasi pada perubahan kebutuhan pustaka penunjang. Selain itu, tren pendidikan tinggi yang makin demokratis, yang memberi ruang kreativitas semakin luas bagi mahasiswa membawa implikasi baru, berupa kebutuhan akan diskusi, debat, dan akulturasi ilmiah antar ilmu pengetahuan. Untuk mengakomodasi kebutuhan ini, saat ini manajemen perpustakaan harus mampu mendesain suasana perpustakaan yang kondusif untuk menjadi ajang pertemuan antar mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perpustakaan modern saat ini merupakan media paling demokratis yang menjadi ajang meeting point berbagai manusia dan menjadi ajang perkawinan ilmu,” demikian Kepala Perpustakaan Pusat UI ini menyimpulkan. Itulah sebabnya, dalam grand desain perpustakaan UI yang sedang dalam proses, terdapat banyak ruang diskusi yang menjadi ajang refleksi keilmuan, sekaligus juga diakomodasi kebutuhan estetika melalui ruang publik untuk media hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bagi Endang Ermawati, perpustakaan modern saat ini pada dasarnya memiliki fungsi digitalisasi dan pelestarian seiring dengan keterbatasan kemampuan kertas menyimpan informasi dari sebuah buku dan perkembangan teknologi yang menopang pengembangan perpustakaan. Library  and Knowlegde Center Manager Ubinus ini juga menjelaskan bahwa seiring posisi perpustakaan yang makin dibutuhkan, perpustakaan juga berpeluang menjadi business unit yang menghasilkan keuntungan bagi perguruan tinggi. Caranya tentu saja dengan memaksimalkan peran yang bisa diberikan dalam memenuhi kebutuhan sivitas akademik dan mengintegrasikannya dengan mitra potensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Perpustakaan UII, Dr. M. Idrus, M.Pd. yang memimpin jalannya diskusi antara menjelaskan bahwa selama ini upaya peningkatan kualitas manajemen perpustakaan juga terus dilakukan oleh Direktorat Perpustakaan UII dengan harapan akan meraih ISO. Berbagai upaya telah dilakukan diantaranya dimulai dengan digitalisasi koleksi maupun pengembangan sistem informasi yang terintegrasi dalam sistem akademik. Upaya pengembangan koleksi yang selama ini terus dilakukan juga diharapkan akan makin lengkap seiring penyiapan perpustakaan berkualitas.&lt;br /&gt;www.uii.ac.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-2156929283217073396?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/2156929283217073396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/erpustakaan-modern-harus-menjadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2156929283217073396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2156929283217073396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/erpustakaan-modern-harus-menjadi.html' title='Perpustakaan Modern Harus Menjadi Meeting Point Antar Manusia'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-8973023727822930164</id><published>2009-07-30T08:25:00.000+07:00</published><updated>2009-07-30T08:26:11.249+07:00</updated><title type='text'>UU Pemerintah tentang Sistem Informasi Perpustakaan</title><content type='html'>&lt;p&gt; Perpustakaan sebagai pusat dokumentasi ilmu pengetahuan, memiliki peran penting dalam peningkatan kecerdasan masyarakat, dan pemerintah sekarang sudah cukup peduli dalam mencermati perkembangan perpustakaan yang lebih modern di masa depan, dengan membuat undang – undang yang mengatur tentang standart pengembangan perpustakaan yang modern. &lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Melalui UU 43 Tahun 2007 Tentang PERPUSTAKAAN, pemerintah mengharapkan para pengelola perpustakaan baik yang terdapat di lembaga pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi maupun di lembaga pemerintah seperti Perpusda dll, untuk melakukan pengembangan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang up to date. &lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Dengan penerapan Teknologi Informasi yang tepat, pengelolaan perpustakaan akan lebih cepat dan efisien, juga standart layanan kepada masyarakat pengguna juga akan terus meningkat, bagi pengguna sendiri akan sangat terbantu karena banyak kemudahan yang ditawarkan. &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;    Berikut cuplikan UU 43 Tahun 2007 Tentang PERPUSTAKAAN, yang berkaitan dengan penerapan Teknologi Informasi :    &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;    Bab 5 Layanan Perpustakaan    &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;    Pasal 14 Ayat 3    &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;    --&gt;Setiap perpustakaan mengembangkan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.    &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;    Ayat 6    &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;    --&gt; Layanan perpustakaan terpadu diwujudkan melalui kerja sama antarperpustakaan.    &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;         &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;    Ayat 7     &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;    --&gt; Layanan perpustakaan secara terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dilaksanakan melalui jejaring telematika.    &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;         &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;    Bagian Ketiga    &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;    Pengelolaan dan Pengembangan Perpustakaan    &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;    Pasal 19 ayat 2    &lt;/p&gt;   &lt;p&gt; --&gt; Pengembangan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan karakteristik, fungsi dan tujuan, serta dilakukan sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan masyarakat dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;         &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;     Bagian empat    &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;    pasal 24 ayat 3    &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;    --&gt; Perpustakaan perguruan tinggi mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.    &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;        &lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Gamatechno selaku pengembang Teknologi Informasi, juga memiliki kepedulian tentang hal ini, dengan salah satu produknya yaitu gtPustaka (Sistem Informasi Perpustakaan), Gamatechno mampu memberi solusi kepada perpustakaan untuk mengelola perpustakaan dengan jauh lebih baik tetapi dengan pembiayaan yang sangat murah, karena gtPustaka versi retail sudah memiliki fitur yang komplit dan mudah digunakan serta sudah mensuport barcode dan smartcard. &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;        &lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Mendukung setiap perpustakaan menjadi lebih modern, digital dan kredibel adalah harapan kami, dengan gtPustaka maka solusi akan manajemen administratif serta pengelolaan data perpustakaan yang lebih baik akan dapat terwujud. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-8973023727822930164?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/8973023727822930164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/uu-pemerintah-tentang-sistem-informasi_30.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/8973023727822930164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/8973023727822930164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/uu-pemerintah-tentang-sistem-informasi_30.html' title='UU Pemerintah tentang Sistem Informasi Perpustakaan'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-2093630653572961123</id><published>2009-07-29T14:19:00.002+07:00</published><updated>2009-07-29T14:26:23.154+07:00</updated><title type='text'>Perpustakaan Harus Jadi Pusat Ilmu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/Sm_4dXZ7wbI/AAAAAAAAAFc/sHVMbn6tGh8/s1600-h/kompas.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 248px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/Sm_4dXZ7wbI/AAAAAAAAAFc/sHVMbn6tGh8/s320/kompas.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363778864604234162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bandung KOMPAS.com-&lt;/strong&gt; Perpustakaan mesti mengubah citra. Bukan sekadar tempat penyimpan buku-buku, melainkan adalah pusat ilmu pengetahuan dan cermin peradaban. Untuk itu, perpustakaan di berbagai tempat harus dikemas lebih menarik dan dinamis menjadi pusat kunjungan masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kalau kita pergi ke luar negeri, misalnya saja Singapura, perpustakaan itu tempat yang ramai dikunjungi. Di tempat kita berbeda. Perpustakaan identik tempat yang gelap, kumuh, dan penuh buku. Kita harus mengubah &lt;em&gt;image &lt;/em&gt;(citra) ini," tutur Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf saat membuka Rapat Kerja Pengelola Perpustakaan Daerah Se-Jabar, Selasa (31/3) di Bandung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia berharap, pengelola perpustakaan di berbagai daerah dapat berinovasi dengan memasukkan unsur-unsur rekreasi dan edutainment ke dalam lembaga ini. Tidak melulu konservatif hanya berupa tempat menyimpan buku-buku. "Misalnya dibuat taman bermain (bacaan), biar anak-anak mau datang dan betah," ucapnya. Atau, membuat suatu lomba penulisan kreatif atau memperbanyak buku pelajaran komik yang bisa merangsang anak bergairah membaca.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemikiran ini dilandasi keprihatinan minimnya minat baca masyarakat, khususnya di tingkat kanak-kanak. Mereka sekarang lebih gemar main &lt;em&gt;Playstation &lt;/em&gt;(video game) daripada baca. "Ini, yang saya tahu, bahkan merambah ke desa-desa. Makanya, kalau tidak kreatif, perpustakaan bisa ditinggalkan," ucapnya. Padahal, menurut Dede, perpustakaan punya peran besar dalam menekan buta aksara sekaligus meningkatkan minat baca.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terkait imbauan ini, Kepala Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jabar Dedi Djunaedi membenarkan, perpustakaan di masa sekarang ini harus tampil lebih menarik. Untuk itu, pada 2010 nanti, Bapusda Jabar akan melakukan perubahan besar di desain ruangan perpustakaan. "Desain lay out-nya dibuat lebih menarik. Warna-warna yang digunakan pun lebih terang dan mencolok," ucapnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Secara bertahap, dengan fokus mengajak lebih banyak pembaca di usia dini atau kanak-kanak, Bapusda Jabar telah menjalankan program &lt;em&gt;story telling &lt;/em&gt;untuk anak-anak. Lalu, membuka bimbingan layanan belajar untuk siswa TK-SD yang tengah menghadapi ujian. "Kami pun sudah memiliki ruangan yang ada &lt;em&gt;home theatre&lt;/em&gt;-nya," ucapnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setiap hari, ia mengklaim, Bapusda Jabar dikunjungi sekitar 1.000 orang, mayoritas pelajar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cermin peradaban &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam kesempatan sama, Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Sri Sularsih mengatakan, saat i ni, pertumbuhan tingkat kunjungan ke perpustakaan semakin membaik dari waktu ke waktu. Namun, belum tumbuh betul kecintaan masyarakat untuk senantiasa membaca dan ebrkunjung ke masyarakat. Untuk itu, terobosan melalui variasi-variasi dari pelayanan perpus takaan perlu terus dimunculkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Bagaimanapun, keberadaan perpustakaan tidak bisa dilepaskan dari peradaban suatu masyarakat. Tinggi rendahnya peradaban dari suatu masyarakat tercermin pula dari kualitas perpustakaan yang dimiliki," ucapnya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-2093630653572961123?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/2093630653572961123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/perpustakaan-harus-jadi-pusat-ilmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2093630653572961123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2093630653572961123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/perpustakaan-harus-jadi-pusat-ilmu.html' title='Perpustakaan Harus Jadi Pusat Ilmu'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/Sm_4dXZ7wbI/AAAAAAAAAFc/sHVMbn6tGh8/s72-c/kompas.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-1498678245737953731</id><published>2009-07-23T10:20:00.002+07:00</published><updated>2009-07-23T10:25:26.080+07:00</updated><title type='text'>Baru, Perpustakaan Universitas digital sajikan manuskrip islam</title><content type='html'>Amerika (SuaraMedia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Universitas Princeton telah menyediakan sebuah perpustakaan digital yang berisi 200 naskah kuno Islam yang di-online-kan untuk pelajar sebagai bahan rujukan dan pembelajaran. Naskah-naskah tersebut diseleksi dari  9500 volume naskah-naskah kuno dalam bahasa Arab, Persia, Turki dan bahasa umat Islam lain di dunia yang tersedia di Bagian Buku Langka dan Koleksi Khusus Perpustakaan Universitas. Menurut Don Skemer, kurator dari kitab kuno tersebut, kehebatan Princeton dikarenakan Universitas ini memegang koleksi buku-buku penting di setengah negara-negara barat dan koleksi buku-buku yang terbaik di dunia. &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Perpustakaan digital merupakan sebuah komponen utama dari Proyek digitalisasi dan pengkatalogan naskah-naskah kuno Islam yang dimulai tahun 2005 dengan dukungan penuh  David A. Gardner '69 Magic Project. Pada akhirnya, seluruh naskah kuno akan disusun secara online, melibatkan catatan daftar pustaka yang terdiri dari informasi gambaran dasar yang membantu para pencari memutuskan antara memesan kopian microform atau mengunjungi langsung perpustakaan.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Proyek Digitalisasi dan pengkatalogan naskah-naskah kuno Islam terutama bertujuan sebagai sebuah jalan bagi perpustakaan untuk mengembangkan akses koleksi-koleksi penting perpustakaan dan berbagi ilmu lebih luas melalui teknologi digital” kata Skemer.” Proyek ini sangat diharapkan memberi sebuah sumbangan untuk pemahaman internasional dan melayani sebuah bentuk harapan&lt;img style="margin: 5px; float: right;" title="Rumah Lelang paling bergengsi di London, Christie, berhasil melelang sebuah al-Quran kuno dengan harga 2, 5 juta poundsterling atau sekitar 4, 9 juta dollar. Harga itu memecahkan rekor harga termahal manuskrip Islam yang pernah dilelang di rumah lelang Christie.Al-Quran kuno diduga berasal dari kota Madinah, Arab Saudi dan sudah ada sejak pertengahan abad ke-7. Christie awalnya memperkirakan al-Quran kuno itu akan terjual dengan harga antara 100 ribu-150 ribu poundsterling. Tapi ternyata terjual hingga 2, 5 juta poundsterling atau lebih dari 45, 5 milyar rupiah. (SuaraMedia News)" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/Image/pic4%28184%29.jpg" alt="" height="206" width="312" /&gt; baik bagian koreksi di dunia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael Cook, Profesor Universitas angkatan 1943 di bidang Kajian timur dan salah satu pemimpin paham Islam di Amerika, mengatakan,”Princeton memiliki 9.500 naskah-naskah kuno Islam dalam bahasa arab dan lainnya sangat sesuai bagi pelajar di Amerika Utara, dan sejauh ini juga sesuai dengan Islam dunia atau Eropa. Kebanyakan koleksinya dikatalogan dalam buku, dan pelajar bisa memiliki microfilms dari kitab kuno tersebut. Tapi, naskah-naskah kuno sangat tua dan langka, sementara microfilms biasanya memiliki gambar yang tidak jelas dan kualitas yang rendah. Karena itulah perpustakaan online digital merupakan perkembangan penting dalam penyediaan kitab-kitab kuno untuk siapapun yang mau membuka web, serta naskah-naskah kuno yang tersedia secara online tersebut memiliki kualitas gambar yang bagus.”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Diperkirakan duaper tiga dari naskah-naskah kuno tersebut disumbangkan ke Universitas pada tahun 1924 oleh Robert Garret, seorang pelajar Princeton angkatan 1987. Selanjutnya, perpustakaan melanjutkan koleksi naskah-naskah kuno tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Naskah kuno tersebut merupakan naskah-&lt;img style="margin: 5px; float: left;" title="Perpustakaan Digital memiliki koleksi naskah kuno Arab yang menggunakan huruf tumbuhan abad 15 yang disumbangkan oleh Robert Garret pada tahun 1942. " src="http://www.princeton.edu/pr/pictures/g-k/islamic_manuscripts/IMG_5157.jpg" alt="" width="300" /&gt;naskah mulai pertengahan abad Islam sampai jatuhnya kerajaan Ottoman. Mereka berasal dari seluruh bagian Islam di dunia, bagian barat dimulai dari spanyol dan afrika utara.melalui timur tengah, ke bagian barat yaitu india dan indonesia. Subjek buku-buku kuno tersebut sangat lengkap meliputi sejarah, biografi, filosofi, dan logika, ke-Tuhanan ( berdasarkan kitab suci Al-Qur’an dan tradisi), hukum dan peradilan, bahasa, sastra, buku sastra dan ilustrasi, sihir dan ilmu supranatural, astrologi,matematika, obat-obatan,dan aspek lain dari kehidupan intelektual dan spiritual dunia islam.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Perpustakaan digital selain memberikan pelayanan keperluan akademik berupa teks yang unik dan langkah, juga berupa sebuah koleksi Naskah kuno persia dan miniatur Mughal, seperti kumpulan miniatur dan kaligrafi india pada abad 18 yang menarik.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Princeton mengharapkan untuk menambah koleksi naskah-naskah kuno pada perpustakaan digitalnya, dan juga memproduksi daftar pustaka online. (yy/pri) dikutip Oleh &lt;a href="http://www.suaramedia.com/undefined/"&gt;http://www.suaramedia.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-1498678245737953731?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/1498678245737953731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/baru-perpustakaan-universitas-digital_23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/1498678245737953731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/1498678245737953731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/baru-perpustakaan-universitas-digital_23.html' title='Baru, Perpustakaan Universitas digital sajikan manuskrip islam'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-1344368500935249106</id><published>2009-07-21T09:43:00.000+07:00</published><updated>2009-07-21T09:44:48.702+07:00</updated><title type='text'>Era Surat Kabar Digital</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Penulis : Ahmad Sofiullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAAT Anda membaca Media Indonesia, ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan. Pertama, membaca lewat media kertas atau menggunakan medium internet dengan mengunjungi tautan epaper.mediaindonesia.com pun situs mediaindonesia.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa mendatang, alternatif mengeksplorasi berita boleh jadi akan bertambah. Anda bisa membaca &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar lewat sebuah gadget. Ya, sebuah gadget yang bisa dibawa ke mana saja dengan berita (berformat &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar) yang selalu dikirim ke gadget secara nirkabel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, berita memang sudah bisa dikirim ke ponsel maupun PDA. Namun kebanyakan masih dalam bentuk teks. 'Rasa' grafis dan ilustrasi yang merupakan kekuatan &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar tidak bisa dinikmati secara utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di 'Negeri Paman Sam', baru-baru ini telah lahir generasi terbaru pembaca digital nirkabel yang diberi nama Kindle DX. Kindle memang nama lama, tetapi ia mengusung teknologi berbeda yang konon bisa memuaskan selera Anda dalam membaca berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketimbang Kindle generasi-generasi sebelumnya, Kindle DX memiliki ukuran yang lebih besar (diagonal 9,7 inci) sehingga lebih nyaman di mata saat kita membaca. Sang produsen, Amazon, dalam situs resminya mengklaim gadget tersebut memiliki fitur Auto-rotate sehingga kita bisa membaca berita dalam formasi landscape maupun portrait. Gadget yang dibanderol US$489 atau sekitar Rp5.370.000 (asumsi US$1 = 11 ribu) itu juga bisa membacakan satu halaman penuh &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar untuk kita dengan fitur text-to-speech.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah ada beberapa surat kabar yang bisa kita baca lewat Kindle DX seperti New York Times, Wall Street Journal serta majalah Time, The New Yorker, dsb. Semua &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar tersebut dikirim langsung secara nirkabel lewat jaringan 3G yang sudah built-in di Kindle DX.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan e-paper&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara penyajian &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar secara digital lewat Kindle DX sekilas mirip dengan e-paper yang ditawarkan internet. Namun, ada perbedaan mendasar di antara keduanya, yakni soal pengarsipan berita. Pada Kindle DX kita bisa melihat sekitar 3500 arsip berita terdahulu. Di samping itu, kita juga tidak harus repot menyiapkan PC atau notebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadget yang berbalut warna putih itu juga memungkinkan kita membaca ratusan bahkan ribuan buku yang tersedia diAmazon.com dengan banderol US$9,99. Buku yang bersangkutan akan dikirim melalui jaringan pita lebar nirkabel dalam waktu kurang dari 60 detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PlasticLogic&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kindle DX dan e-paper hanyalah dua di antara sejumlah teknologi yang mendesak berita agar betul-betul 'menceraikan' kertas. Menurut rumor yang beredar, pabrikan gadget eksklusif Apple juga tengah mempersiapkan sebuah gadget pembaca &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar digital untuk memanaskan kompetisi gadget pembaca &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal 2010 nanti, tantangan dipastikan datang dari PlasticLogioc, sebuah perusahaan yang berbasis di Jerman, Inggris, dan AS. Perusahaan tersebut kabarnya akan merilis sebuah pembaca &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar digital--mirip Kindle DX-- yang mengandalkan teknologi plastik elektronik. Belum banyak fitur yang digembar-gemborkan secara resmi oleh PlasticLogic, termasuk perihal harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, menurut bocoran dari ireaderreview.com, PlasticLogic akan merilis produk yang lebih funky ketimbang Kindle DX saat ini. Konon PlasticLogic akan membuat pembaca digital dengan layar sentuh. Selain itu, PlasticLogic juga akan menyiapkan memori 6 GB, jauh lebih besar ketimbang Kindle DX yang hanya berdaya ingat 3,33 GB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunculan berbagai gadget pembaca &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar digital boleh jadi akan merangsang munculnya semacam model bisnis baru dalam pemberitaan, khususnya di &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Berita tidak lagi dikawinkan dengan medium kertas, namun diwujudkan dalam format digital. Pengiriman berita juga tidak lagi dilakukan dari pintu ke pintu oleh loper koran, melainkan langsung lewat jaringan nirkabel ke gadget pembaca &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi perusahaan pers, model bisnis semacam itu jelas akan lebih menguntungkan karena tidak harus mengeluarkan banyak biaya untuk percetakan. Dari segi lingkungan, jumlah pohon yang ditebang pun bisa ditekan karena tidak mesti menggunakan kertas. Konsumen juga tinggal membayar sejumlah biaya berlangganan atas &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar digital yang diterima setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadget pembaca digital tidak semata-mata menyajikan berita. Karena berita apa pun bisa kita peroleh gratis dengan berselancar di dunia maya. Lebih dari persoalan biaya, gadget tersebut juga menawarkan kenyamanan. Contohnya, kita bisa dengan nyaman mengelola dan membuat arsip berita dan relatif aman dari ancaman malware. Kita tunggu saja kapan itu akan terjadi di Tanah Air. (OL-5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Media &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; Online&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-1344368500935249106?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/1344368500935249106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/era-surat-kabar-digital.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/1344368500935249106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/1344368500935249106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/era-surat-kabar-digital.html' title='Era Surat Kabar Digital'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-7726030082753881526</id><published>2009-07-17T08:38:00.000+07:00</published><updated>2009-07-17T08:39:46.475+07:00</updated><title type='text'>Mothra Versus Skypeasaurus</title><content type='html'>&lt;h2&gt;Mothra Versus Skypeasaurus&lt;/h2&gt;                                                                &lt;span class="submitted"&gt;StephenK&lt;/span&gt;           &lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://lisnews.org/announcing_lisnews_summer_series"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Librarians seem to have an aversion to business as a concept. That is unfortunate. Without business and the taxes derived thereby, how else would libraries exist? It is not as if there is a patron these days like Andrew Carnegie endowing library operations. While dreams may be large, the rocket fuel known as greenbacks keeps so many ships on the ground away from their goals.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A situation where this arises is participation in new media endeavors. The skill sets required for producing in new media are somewhat foreign to the optimal skill sets needed to catalog stacks of materials and answers rapid-fire reference questions. Was it any accident that the producers of the LISNews Netcast Network all happened to have experience in technical theater as well as experience in performance? Those are not skills you pick up in library school and are normally considered within the spectrum of American higher education as not things to pick up initially at the graduate level.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are free tools, where free is considered as in free beer rather than freedom, that librarians have already used in producing podcasts. One fairly limited tool that allows call-in roundtables is TalkShoe. The service's quality has gotten worse over time as per my own observation during participation in fan discussions related to Battlestar Galactica. The former program Uncontrolled Vocabulary provided a roundtable for discussing library science issues. The present program T is for Training attempts to provide a similar roundtable focused on training.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A key flaw with TalkShoe is that purportedly uses technology spun off of the conference loop used by NASA flight controllers who direct shuttle missions. The problem with that is that it works great for providing communications and audio that can be recorded for logging. Such logs were important during situations like the proceedings of the Columbia Accident Investigation Board where actions of flight controllers had to be reconstructed. For casual listening, the audio's quality was slightly abrasive and somewhat harsh. TalkShoe uses a similar model of recording without the same required discipline that is exhibited by flight controllers executing mission orders.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TalkShoe also has limitations on simultaneous live participants. The upper limits on participation are not too certain but passing the fifty participant threshold can seriously impair a call's proceedings. TalkShoe is not a tool used by outfits like CNET or the TWiT Cottage to record programs with remote guests. The Skypeasaurus at the TWiT Cottage is a rig built by their studio manager, Colleen, where six simultaneous Skype feeds are brought in and can be independently mixed using a local physical audio mixer. Having a local mixer with a local operator allows far more fine-tuning of audio quality than the automated system of TalkShoe can provide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now, let us turn to practical suggestions for how librarians can surmount these problems. For any single library to have the infrastructure for this in-house would be cost-prohibitive. As the grow of operations at the TWiT Cottage has shown, programs beyond those produced by the TWiT Network are making use of the facilities of the cottage. Having a stable yet reliable hub for bringing in multiple remote guests is apparently quite valuable for diverse group like gdgt and the Gilmor Gang. Translating this into the paradigms of North American librarianship would result in this being an area of activity undertaken by a consortium or a vendor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The initial startup and construction cost for a consortium to being to provide similar functions to the TWiT Cottage would be immense. At a minimum, the consortium's base would have to have at least one T-1 leased line, one ISDN line, one cable broadband connection, one ADSL connection as a backup, and a single phone line for somebody to answer. As proven from the growing pains of the TWiT Cottage, various data connections to the outside world are best split over separate pipelines so as to ensure acceptable minimum connection quality. At any fixed location this would also require electrical wiring upgrades to accommodate the increased load from the additional air conditioning that would be required to keep the required hardware operational. A number of computers would have to be procured so that enough possible connections were available via Skype or other VoIP system. Systems for editing would be required. All this would be the case even if no video was involved in production.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The hardest part to this is the matter of securing the funds so that an operating base could be equipped. While such an operation could eventually generate revenue that would allow for self-sufficiency, that would take considerable time. In the present harsh economic climate, merely knowing what is needed does not make it any more likely to become reality. With the tools that are free as in beer not producing appropriate quality output, alternative options are few and far between.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-7726030082753881526?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/7726030082753881526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/mothra-versus-skypeasaurus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7726030082753881526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7726030082753881526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/mothra-versus-skypeasaurus.html' title='Mothra Versus Skypeasaurus'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-6133339202234540065</id><published>2009-07-16T09:07:00.000+07:00</published><updated>2009-07-16T09:09:08.813+07:00</updated><title type='text'>Library Systems: Synthesise, Specialise, Mobilise</title><content type='html'>&lt;h2&gt;Introduction&lt;/h2&gt;  &lt;p&gt;The role of the integrated library system is, and always has been, to help    manage the effective delivery of library services. This has traditionally    been anchored on the management of the catalogue and physical collection. The    core business and service model could be described as 'Acquire - Catalogue -    Circulate'. This is increasingly no longer the case.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;While the physical collection remains a critical aspect of the library service, it is just one of a number of 'atomic' or 'granular' services presented by the library. The only distinguishing feature of the local collection is the physical location of the resources; a facet that is increasingly irrelevant in today's networked world. Libraries today present a more holistic information environment; the role of library systems therefore is to make the management and delivery of that environment both effective and efficient.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;The business and service model is evolving from acquiring, cataloguing and circulating physical collections to synthesising, specialising and mobilising Web-based services. While the transition is undoubtedly evolutionary, it is not at all clear that the systems required to support the new paradigm are an evolutionary development of the traditional Information and Library Service (ILS).&lt;/p&gt;     &lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;img style="width: 351px; height: 450px;" src="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/murray/figure-1.gif" alt="screenshot (36KB) : Figure 1: Library Systems: Synthesise, Specialise, Mobilise" title="screenshot (36KB) : Figure 1: Library Systems: Synthesise, Specialise, Mobilise" border="0" /&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="caption"&gt;Figure 1: Library Systems: Synthesise, Specialise, Mobilise&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;    &lt;p&gt;The current generation of federated search systems, link resolvers, resource-sharing systems and electronic record management (ERM) systems are starting to address the new model; the approach, however, is somewhat piecemeal, driven by the identification of specific market opportunities. The fact that these new components are typically being delivered as stand-alone, yet integratable, components is indicative of the current state of the evolution:&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;No clear model yet exists for the shape of future library services and systems.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;It is unclear where the ILS fits in the future strategy.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;There is a period of market disruption providing opportunities for new and existing players to reposition themselves in the market.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;p&gt;In making the transition to this new model there are many significant challenges to be overcome by all players in the information supply chain: libraries, system vendors, content suppliers and network service providers.&lt;/p&gt;   &lt;h2&gt;Synthesising&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;There is a bewildering and increasing number of 'atomic' services that are    relevant to library provision. These range from traditional library services    such as content and metadata, to more generic Web services such as authentication,    taxonomies and spell-checkers. The role of the library, and its supporting systems,    is to synthesise these atomic Web services into a cohesive user-centric environment.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;A significant change that has occurred in recent years is that, historically,    the component services have been provided by players from within the 'library    industry' - content providers, catalogue services, reference services, etc.    Increasingly, rich network services are being made available from players outside    the traditional library industry. Trivial examples of these services nowadays    include the likes of the Web service access to Amazon book reviews and Google's    spell-checker. As developments progress, such services will become richer and    more commonplace; this means that library systems have to be far more open and    externally focused than in the past. It also has profound implications for library    standards organisations which traditionally have been internally focused and    now need to be far more outward looking.&lt;/p&gt;  &lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;img style="width: 404px; height: 450px;" src="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/murray/figure-2.gif" alt="screenshot (44KB) : Figure 2: Synthesising atomic services into coherent and comprehensive user services" title="screenshot (44KB) : Figure 2: Synthesising atomic services into coherent and comprehensive user services" border="0" /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p class="caption"&gt;Figure 2: Synthesising atomic services into coherent and      comprehensive user services&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;      &lt;p&gt;New-model library systems need to offer a 'plug-and-play' environment to allow    holistic user-focused services to be synthesised from this ever-changing sea    of Web services. There are three core aspects to such an environment:&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Integration - providing the core technological capability to integrate disparate services into the environment.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Administration - providing a management environment that takes into account      the commercial licensing and maintenance issues of the underlying services.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Measurement - providing an environment that drives continuous improvement by measuring and monitoring user behaviour and system use.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;h2&gt;Specialising&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;The key value proposition of the local library derives from its physical presence,    integration of local services and the detailed knowledge of the user population    it serves. In a flattened world where information services can be delivered    from anywhere on the network, to maintain relevance it is essential the library    leverage these unique strengths to provide a specialised service for its users.&lt;/p&gt;   &lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;img style="width: 351px; height: 450px;" src="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/murray/figure-3.gif" alt="screenshot (28KB) : Figure 3: Added value is generated by specialising services according to local needs and capabilities" title="screenshot (28KB) : Figure 3: Added value is generated by specialising services according to local needs and capabilities" border="0" /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p class="caption"&gt;Figure 3: Added value is generated by specialising services      according to local needs and capabilities&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;    &lt;p&gt;It is the library system's role to support this local specialisation of services.    Examples include:&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Respecting local rights and policies - comprehensive authentication and      authorisation can only be by integrating the local context; the rights and      policies appropriate to a particular individual will include rights derived      from local library affiliation. The service provided through the library can      therefore be more specialised than that provided through generic network services.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Respecting national policies and copyright law - the access policy in the      content provider contract that has to be understood, respected and enacted      in the specialised service.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Applying local knowledge of the user population to the service - understanding holistic user profiles and requirements allows the service to be tailored to specific user groups and individuals. The library has greater access to specific profiling information than is available to generic network service providers.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Integration of local systems and services - specific local systems and services      (which may or may not be library services) can be integrated into the overall      specialised service offering.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mediation and guidance - of critical importance is the library's ability      to integrate a local personal service with an IT-based service. This clearly      distinguishes it from any generic network-based services. The challenge is      to provide this mixed human and IT-based service as integrated system with      a strong unified brand.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p&gt;It is clear that as the new model evolves, any services that can be abstracted to generic network services will be. This will be driven by the inexorable need to reduce redundancy and generate wider economies of scale. Throughout this evolution:&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Libraries have to be alert and responsive to changes and be ready to take advantage of the economies and service enhancements generated.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Network service providers have to be continually looking for opportunities      to provide new 'synthesisable services'.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Library systems have to be sufficiently flexible to support the changing nature of service provision.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;h2&gt;Mobilising&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;Mobilisation is a key catalyst to drive library use and value. The library    service must find users at their point of need, wherever that is: Users are    on the Web; they are using their suite of office applications; students are    using their e-learning environments; doctors are in their clinical management    systems; researchers are in their electronic lab books - this is where the library    service has to meet them if it is to realise its full value.&lt;/p&gt;   &lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;img style="width: 439px; height: 450px;" src="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/murray/figure-4.gif" alt="screenshot (42KB) : Figure 4: Mobilisation: embedding the library in workplace applications to meet  users at their point of need" title="screenshot (42KB) : Figure 4: Mobilisation: embedding the library in workplace applications to meet  users at their point of need" border="0" /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p class="caption"&gt;Figure 4: Mobilisation: embedding the library in workplace      applications to meet users at their point of need&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;   &lt;p&gt;Mobilisation is the next frontier of development for library systems. The ability    to integrate rich, synthesised library services tightly into workplace applications    represents the potential to unlock the latent value in information services.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;It should be noted that producing well-synthesised services is a necessary    pre-cursor to mobilisation - while, for example, there is undoubtedly some value    in presenting a library catalogue search within an e-learning environment, the    true value is realised when a comprehensive information discovery service is    integrated.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;It is also apparent that generating this level of integration will necessarily mean significant interaction with bodies from outside the traditional library sphere; integrating library systems into 'foreign' applications necessarily means interacting with players in those domains. Sometimes these foreign applications will be mainstream de facto standard applications such as Office suites - in this case the integration standards will be defined by the likes of Microsoft and the library systems will simply have to fall in to line. In other cases the foreign systems will be niche applications operating in similar 'island communities' to the library community.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;In both these situations mobilisation will have profound effects on library    system development organisations and the relevant standards organisations:&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;It will drive the more rapid uptake of modern mainstream technologies within library systems.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;It will see bridges being built between 'niche island communities' in order to foster cross-application integration.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;h2&gt;Example: The UK National Library for Health&lt;/h2&gt; &lt;h3&gt;Background&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;The UK National Health Service (NHS) is committed to providing excellence in healthcare, free at the point of use. Everyone in the UK - no matter how much they earn, who they are, how old they are, where they come from or where they live - should have the health care they need for themselves and for their families. 80% of the UK population say the NHS is critical to British society and the country must do everything it can to maintain it.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;To achieve this vision, the NHS has grown into a phenomenally complex organization    - it is the world's third largest organisation with around 1 million employees.    Every day the service provides around 2 million consultations with approximately    10 million clinical decisions being made. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Critical within the NHS's service delivery is the mandatory use of 'evidence-based    healthcare'. To support this, a well-mobilised and synthesised evidence base    is clearly essential. The value placed on knowledge services within the NHS    is perhaps best summarised by the following quote from Dr. Muir Gray:&lt;/p&gt;  &lt;blockquote&gt; "&lt;em&gt;Knowledge is the enemy of disease; the application of existing healthcare knowledge will have a greater impact on health and disease than any drug or technology likely to be introduced in the next decade.&lt;/em&gt;" [&lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/murray/#1"&gt;1&lt;/a&gt;]&lt;/blockquote&gt;  &lt;p&gt;The National Library for Health has embarked on an ambitious programme to synthesise,    specialise and mobilise the evidence base to support the NHS's core mission.&lt;/p&gt;      &lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;img style="width: 398px; height: 450px;" src="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/murray/figure-5.gif" alt="screenshot (48KB) : Figure 5: The National Library for Health - Synthesising, Specialising and Mobilising" title="screenshot (48KB) : Figure 5: The National Library for Health - Synthesising, Specialising and Mobilising" border="0" /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p class="caption"&gt;Figure 5: The National Library for Health - Synthesising,      Specialising and Mobilising&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;      &lt;p&gt;At the heart of this programme is a synthesized information discovery and fulfilment service. This programme represents a good example of the evolution of the new library model:&lt;/p&gt;   &lt;h3&gt;Synthesising&lt;/h3&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;A single search environment is provided across multiple specialist library services, commercial databases and internal information sources.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;The search process is augmented and enhanced with various Web services such      as the Google spellchecker, Amazon book reviews and data enrichment services.      These services originate from sources from within, and from outside, the traditional      library sphere.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Authentication and authorisation is provided through an external, NHS-wide      authorisation network service. This forms the basis of a comprehensive user-profiling      service that can be used to specialise the service to the individual.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;For fulfilment services a synthesised environment can be presented integrating      OpenURL resolution, Inter-Library Loan from internal NHS libraries and links      to commercial document suppliers.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;h3&gt;Specialising&lt;/h3&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Appropriate presentation of the evidence base is a central requirement of      the service - within the health environment there is a specific requirement      for grouping information according to types such as 'patient information',      'clinical guidance', 'clinical evidence', etc. These information types cut      across the underlying atomic sources; the specialisation layer performs real-time      data analysis in order to categorise and present the information according      to the target user requirements.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Local service integration - the system can direct users to the local library service centres or the appropriate specialist libraries depending on the profile of the particular user.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;h3&gt;Mobilising&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;It is clear that mobilisation represents the key activity that can drive improvement    in the delivery of evidence-based healthcare; the evidence base must meet users    at their point of need. It is also clear that mobilisation cannot properly occur    until the services have been fully synthesised. Initial points of mobilisation    include:&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Office suite applications - integrating the evidence base into the Microsoft Research Pane.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Email &amp;amp; RSS - delivering update information tailored to the user's profile through email and RSS.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Integration with the Map of Medicine - the Map of Medicine is a specific workplace application that maps over 250 different patient journeys. These journeys are symptom-based and clearly map out the steps to be taken by the clinician. Points in the journeys can be contextually linked to the evidence base through clickable buttons.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p&gt;This is a compelling example of the synthesise, specialise, mobilise paradigm    in action. If this model can be delivered effectively within the health service    there is unquestionably immense, and tangible value to be realised. The model    clearly does translate into all spheres of the library service, though clearly    the value proposition is particularly dramatic in the health space.&lt;/p&gt;  &lt;h2&gt;Conclusions&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;Library systems have traditionally been synonymous with the ILS. The classical ILS is increasingly managing and focused on a legacy business process. While the ILS will remain a critical component in the management of a library service, its functions will gradually become peripheral to the core of the library service.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;While the 'new library model' is an evolution of the traditional model, the IT systems required to support it are clearly not evolutionary developments of the ILS. At some point there will be a critical jump in perception as to what is the core system supporting the library.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;The core of the library system will become an environment that is focused on    synthesszing, specialising and mobilising Web services to deliver user-centric    services at the point of need.&lt;/p&gt;     &lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;img style="width: 331px; height: 450px;" src="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/murray/figure-6.gif" alt="screenshot (22KB) : Figure 6: Maximising the value of library and information services" title="screenshot (22KB) : Figure 6: Maximising the value of library and information services" border="0" /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p class="caption"&gt;Figure 6: Maximising the value of library and information      services&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Significant added value can be realised from library and information services through this model. This can be achieved through:&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Maximising the scope and breadth of services that we can synthesise.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Minimising and simplifying the interface definition to the core synthesised services.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Maximising outreach of the service through mobilizing as widely as possible.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;p&gt;The development of this model has been caught in a 'chicken-and-egg' scenario: there is no market for 'synthesisable services' until systems are capable of using them; systems will not be developed to synthesise services until compelling services are available. This cycle can be broken either through ad hoc identification of market opportunities, or through some form of vertical market alignment whereby the systems and services are developed in concert; the latter is more likely to generate a strategic catalyst for development.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;During this period of re-alignment, significant opportunities exist for more globalised strategic initiatives both in the development of reusable, synthesisable services and in the front-end systems to exploit such services. All players in the supply network need to be cognizant of and alert to such changes:&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Libraries need to keep aware of new services that can be synthesised into their offering.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Libraries need to be ready to outsource internal services to network service providers who can realise economies of scale.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Network service providers have to be looking for opportunities to provide new 'synthesisable services'.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Library systems providers have to ensure 'plug-and-play' compatibility with network services.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;p&gt;Above all, to maximise the value of our library services the industry needs to be far more externally focused than has traditionally been the case. The services we are synthesising will increasingly be coming from 'foreign' parties and our services will need to be mobilised into domains outside the traditional library sphere. The industry needs to foster links with these adjacent domains at all levels if we are to realise the value inherent in our services.&lt;/p&gt;   &lt;h2&gt;References&lt;/h2&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a name="1"&gt;&lt;/a&gt;Dr. Muir Gray, Director, UK National Electronic Library for      Health speaking at Chief Scientific Officers 2nd Annual Conference, Healthcare      Science: Achievements and Challenges: London, 7 - 8 July 2005&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.dh.gov.uk/NewsHome/ConferenceAndEventReports/ConferenceReportsConferenceReportsArticle/fs/en?CONTENT_ID=4126209&amp;amp;chk=7zVR65"&gt;http://www.dh.gov.uk/NewsHome/ConferenceAndEventReports/ConferenceReportsConferenceReportsArticle/fs/en?&lt;br /&gt;CONTENT_ID=4126209&amp;amp;chk=7zVR65&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;h2&gt;Author Details&lt;/h2&gt; &lt;p class="authors"&gt; &lt;a name="author1"&gt;&lt;/a&gt;   &lt;strong&gt;Robin Murray&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Chief Executive Officer&lt;br /&gt;Fretwell-Downing Informatics&lt;br /&gt;OCLC PICA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email: &lt;a href="mailto:robin.murray@fdisolutions.com"&gt;robin.murray@fdisolutions.com&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="right"&gt;&lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/murray/#top"&gt;&lt;small&gt;Return to top&lt;/small&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="footer"&gt; Article Title: "Library Systems: Synthesise, Specialise, Mobilise"&lt;br /&gt;Author: Robin Murray&lt;br /&gt;Publication Date:  30-July-2006  Publication: Ariadne Issue  48&lt;br /&gt;Originating URL: http://www.ariadne.ac.uk/issue48/murray/&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/about/copyright-new.html"&gt;Copyright and citation information&lt;/a&gt;  File last modified:  Wednesday, 23-Aug-2006 14:27:34 UTC &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-6133339202234540065?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/6133339202234540065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/library-systems-synthesise-specialise.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/6133339202234540065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/6133339202234540065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/library-systems-synthesise-specialise.html' title='Library Systems: Synthesise, Specialise, Mobilise'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-4931442820909464664</id><published>2009-07-16T09:02:00.000+07:00</published><updated>2009-07-16T09:03:56.443+07:00</updated><title type='text'>The Library Catalogue in the New Discovery Environment: Some Thoughts</title><content type='html'>&lt;h2&gt;Introduction&lt;/h2&gt;  &lt;p&gt;The catalogue [&lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/dempsey/#0"&gt;Note 1&lt;/a&gt;] has always been an important focus of library discussion; its construction and production are a central part of historical library practice and identity. In recent months, the future of the catalogue has become a major topic of debate, prompted by several new initiatives and by a growing sense that it has to evolve to meet user needs [&lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/dempsey/#1"&gt;1&lt;/a&gt;][&lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/dempsey/#2"&gt;2&lt;/a&gt;].&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Much of the discussion is about improving the catalogue user's experience, not an unreasonable aspiration. However, we really need to put this in the context of a more far-reaching set of issues about discovery and about the continued evolution of library systems, including the catalogue, in a changing network environment. In this environment, users increasingly discover resources in places other than the catalogue.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;This article takes a medium-term perspective and covers some issues that the further development of the catalogue, or the library discovery experience, poses. In the longer term, I think, we will see major changes in how libraries organise themselves to provide services, but coverage of that is outside my scope, and probably my competence, here. My purpose is to touch on some questions, not to provide any answers, as libraries continue to co-evolve with network behaviours and expectations.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;It might be useful to begin with a somewhat schematic account of this change.    The main outlines of the catalogue were formed in the pre-network world. In    that world, materials were distributed to many physical locations. The closer    to a user a resource was, the more likely it was to be accessed. Each of those    locations developed a catalogue, which described parts of its collection. In    this way, the &lt;em&gt;catalogued collection&lt;/em&gt; (what was described in the collection,    acknowledging that not everything was described) broadly corresponded to the    &lt;em&gt;available collection&lt;/em&gt; (where availability was determined by being local).    In that world, information resources were relatively scarce, and consumed a    considerable amount of attention: people would spend time looking in libraries,    or in library catalogues, or in moving from bibliographies, abstracting and    indexing services, and other finding tools back to library catalogues. This    was a necessary behaviour if you were to find things.&lt;/p&gt;     &lt;p&gt;Today, we live in a different world. Now, information resources are relatively    abundant, and user attention is relatively scarce [&lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/dempsey/#3"&gt;3&lt;/a&gt;]. Users    have many resources available to them, and may not spend a very long time on    any one. Many finding tools are available side by side on the network, and large    consolidated resources have appeared in the form of search engines. Even within    the library, there are now several finding tools available on the network (for    local repositories, A&amp;amp;I databases, ..). The user is crowded with opportunity.    No single resource is the sole focus of a user's attention. In fact, the network    is now the focus of a user's attention, and the &lt;em&gt;available 'collection'&lt;/em&gt;    is a very much larger resource than the local catalogued collection. The user    wishes to 'discover' and use much more than is in the local &lt;em&gt;catalogued collection&lt;/em&gt;.    Of course, this was always the case. However, the user may be less willing to    work hard to make links and connections between resources when they are on the    network, and there is more incentive for the library to make the necessary linkages    (to resource-sharing systems, or to search engines, for example)..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;I think that this shift poses major questions for the future of the catalogue,    and this shift is bound up with the difference between &lt;em&gt;discovery&lt;/em&gt; (identifying    resources of interest) and &lt;em&gt;location&lt;/em&gt; (identifying where those resources    of interest are actually available). There may be many discovery environments,    which then need to locate resources in particular collections. While the catalogue    may be a part of the latter process, its role in the former needs to be worked    through.&lt;/p&gt;   &lt;h2&gt;The Catalogue, Discovery and the Network Environment&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;In this section, I will consider several general issues arising from being in a network environment, before turning in the next section to some more specific ways in which things might change.&lt;/p&gt;  &lt;h3&gt;Matching Supply and Demand: The Long Tail&lt;/h3&gt;  &lt;p&gt;One of the interesting aspects of the last couple of years is the emergence    of several large consolidated information resources - Amazon, iTunes, Google,    etc - which have strongly influenced behaviour and expectation. Unlike these    resources, the library resource is very fragmented: it is presented as a range    of databases, places, and services. In other words, libraries do not aggregate    supply very well. There are at least two factors here. Firstly, there is no    unified discovery experience, and, secondly, the transaction costs of using    the system are often high (transaction costs refer to the cost in time or effort    to perform the steps required to meet a goal). There are a range of potential    transaction costs, where you have to move between systems, re-key data, or pass    authentication challenges: you may have to search several resources, check for    locations, make ILL requests, and so on. Compare this to popular Web resources    like those mentioned a moment ago. These provide a unified discovery experience    and work hard to reduce transaction costs: they aggregate supply. Think of demand.    And, again, think of the large Web presences: they aggregate demand by mobilising    large network audiences for resources. The fragmentation of library resources    reduces the gravitational pull of any one resource on the network. Nor do these    resources tend to be projected into user environments such as the course management    system or RSS aggregator. There is limited aggregation of demand. Better matching    supply and demand closely relates to what has become known, following Chris    Anderson, as the long tail argument. (I explore this in more detail elsewhere    [&lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/dempsey/#4"&gt;4&lt;/a&gt;]). The long tail argument is about how a wider range of    resources may be found, used or bought in network environments which better    match supply and demand through aggregation at the network level.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Libraries face many interesting questions as they think about how to provide services across multiple physical service points and shared network spaces. Think about some issues which arise from this discussion: I talked about unified discovery and low transaction costs as part of the aggregation of supply. So, it is likely we will see the catalogue integrated with other resources in consolidated discovery environments at various levels (metasearch, regional systems, Google, etc). It is also likely that we will see more streamlined integration of the catalogue as part of supply chains so as to reduce the transaction costs involved in discovery, location, request and delivery of materials (resolution or resource sharing, for example). On the demand side, I talked about gravitational pull and projection into user environments. We will see a variety of ways of connecting the catalogue to large-scale discovery environments. And we will see greater use of Web services, RSS and other approaches to reach out into user environments. All of these approaches are discussed in more detail below.&lt;/p&gt;   &lt;h3&gt;Discovery and Location Are Different Functions&lt;/h3&gt;  &lt;p&gt;Elsewhere, I &lt;a href="http://orweblog.oclc.org/archives/000865.html"&gt;have suggested&lt;/a&gt;    [&lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/dempsey/#5"&gt;5&lt;/a&gt;] that we can think about some distinct processes - discover,    locate, request, deliver - in the chain of use of library materials. (This chain    does not include the various ways in which resources might be used.) Increasingly    we will see these sourced as part of separate systems which may be articulated    in various combinations, and across material types. A major part of the library    challenge is to integrate these processes across different environments (resource    sharing, metasearch, resolution, purchase options, ...), or, in the terms established    above, to aggregate supply.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Now, historically the discovery and location processes were tied to each other in the catalogue. And each location required a separate inspection. Where somebody discovered something elsewhere (a citation or in a bibliography, for example) they would then inspect the catalogue. In this way the discovery process was tied to the location process, and indeed the catalogue is still closely tied to local inventory management. It is typically a part of the system which manages a part of that collection. This makes less and less sense from a 'discovery' point of view. Of course, we want to be able to find out what is in the local catalogued collection, but to what extent should that be the front door to what the library makes available? Does this give us the best available exposure for library collections? Is it tying the discovery process to a location engine?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;In some ways we have end-to-end integrated library systems where the ends are in the wrong places. At one end, we have a catalogue interface which is unconnected to popular user discovery environments or workflows. It is often a somewhat flat experience with low gravitational pull in the crowded network information space. We expect people to discover the catalogue before they can discover what is in (part of) the collection. And this points to the issue at the other end: the 'fulfilment' options open out onto only a part of the universe of materials which is available to the user: that local catalogued collection.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;These factors mean that the catalogue currently sits awkwardly in the array of available resources. And in fact, this appears to be realised within library vendor offerings. A couple of things are indicative here. First we see the emergence of new products, like Primo from Ex-Libris, which provide a discovery experience across a broader part of the library collection. In effect they appear to be trying to make discovery of the catalogued collection a part of a broader discovery experience encompassing those parts of the collection which are in library control: local digital collections, institutional repository, catalogue. Of course, this then needs to be articulated with the journal literature, or other resources, probably through metasearch.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;And, second, in coming years we will see a new accommodation between the ILS,    metasearch, resolution, electronic resource management, repositories, and other    components from the ILS vendors as they try to map better this array of systems    onto library requirements and user behaviours. Resolution, for example, is now    used to &lt;em&gt;locate&lt;/em&gt; instances of discovered items, usually articles. In    the future, resolution seems likely to develop into more of a service router:    given some metadata, what services are available to me on the resource referred    to by the metadata (borrow it, buy it, send it to a colleague, ..), or which    relate to the metadata itself (export in a particular citation format, for example).    It is a way of connecting potentially multiple discovery experiences to multiple    fulfilment (request/deliver) services, or a multiplicity of other services.    So, one scenario might see the catalogued collection act as a target to a resolver,    which in turn would be a resource used by various discovery services. Of course,    some of these discovery environments may be outside the library altogether.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So, what we will see is multiple discovery environments. At the institutional    level, we are seeing attempts to unify discovery in front of catalogue, resolver    and other services, although this is not straightforward. At the same time,    given the pressures discussed in the last section, there is a trend to raise    catalogue discovery to the network level (regional, national, ..). Libraries    Australia, Ohiolink. Worldcat.org, and Deff provide examples here. And for similar    reasons, we are seeing growing consideration of exporting discovery to other    environments, search engines included. In one scenario, which may become more    common, discovery options may connect to materials available for purchase (either    by the user, or by the library on an on-demand basis).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;It is interesting to compare access to the catalogue with access to the journal literature at this stage. Historically, access to the journal literature was a two-stage process. A user looked in one set of tools - abstracting and indexing services - to discover what was potentially of interest at the article level. Then they would have journal level access to the catalogue to check whether the library held the relevant issue. To caricature Adorno, these two steps represented the torn halves of an integral whole to which they did not add up. Resolution services aim to make that integral whole, to connect the discovery and location experiences seamlessly. Of course, this is done with some expense as we construct knowledge bases to support it. The catalogue, as discussed above, allows you to locate materials in the local collection. We are now seeing scenarios emerge which make the catalogue experience similar to the historical situation with journals where we need to connect a discovery layer (which may represent much more than is in the local collection) with the ILS to locate instances of discovered items in the local collection. This again points to the likely realignment of services within the library systems environment.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;The current catalogue will need to be blended in some way with the discovery apparatus for local digital collections, for materials available through resource-sharing systems, for materials available for purchase (either by the user, or by the library on an on-demand basis), for the journal literature, and so on.&lt;/p&gt; &lt;h3&gt;The Network Is the Focus of Attention&lt;/h3&gt;  &lt;p&gt;In a pre-network world, where information resources were relatively scarce and attention relatively abundant, users built their workflow around the library. In a networked world, where information resources are relatively abundant, and attention is relatively scarce, we cannot expect this to happen. Indeed, the library needs to think about ways of building its resources around the user workflow. We cannot expect the user to come to the library any more; in fact, we cannot expect the user even to come to the library Web site any more.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;A corollary of this is that there is no single destination, the world has become 'incorrigibly plural'. Search engines, RSS feeds, metasearch engines: these are all places where one might discover library materials. I have described how one might experience a catalogue at institutional, regional or international levels and be guided back to an appropriate collection. Increasingly, we need to think of the catalogue, or catalogue services and data, making connections between users and relevant resources, and think of all the places where those connections should happen.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Finally, we know that today's network users may have different expectations of such services. As well as expecting prompt delivery, they may expect to be able to rate and review, to persistently link, to receive feeds of new materials, and so on. Services need to enter the fabric of their working and learning lives through those tools they use to construct their digital workflows and identities. The emergence of social networking has also caused us to think a little differently about 'discovery'. The network conversations that are facilitated by these services, either directly where folks talk about things, or indirectly where one can trace affiliations through tagging, social bookmarking, and other approaches, have become important orientations for many people.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So, the catalogue emerged when patterns of distribution and use of resources, and corresponding behaviours, were very different than they are now. The catalogue was a response to a particular configuration of resources and circumstances. The question now is not how we improve the catalogue as such; it is how we provide effective discovery and delivery of library materials in a network environment where attention is scarce and information resources are abundant, and where discovery opportunities are being centralised into major search engines and distributed to other environments.&lt;/p&gt;   &lt;h2&gt;&lt;a name="headings-version"&gt;&lt;/a&gt;Multiple Discovery Experiences&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;As we work to aggregate supply (either through consolidation of data or of services) so we must work to place these resources where they will best meet user needs. In this process, discovery of the catalogued collection will be increasingly disembedded, or lifted out, from the ILS system, and re-embedded in a variety of other contexts -- and potentially changed in the process. And, of course, those contexts themselves are evolving in a network environment.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;What are some of those other discovery contexts? I have referred to some throughout; here is a non-exhaustive list of current examples:&lt;/p&gt; &lt;h4&gt;Local Catalogue Discovery Environments&lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;There has been a recent    emphasis on the creation of an external catalogue discovery system, which takes    ILS data and makes it work harder in a richer user interface. The &lt;a href="http://www.lib.ncsu.edu/catalog/"&gt;NCSU catalogue&lt;/a&gt;    [&lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/dempsey/#6"&gt;6&lt;/a&gt;] has been much discussed and admired in this context. Ex-Libris has announced    its &lt;a href="http://www.exlibrisgroup.com/webinar_1144862525.htm"&gt;Primo&lt;/a&gt; product [&lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/dempsey/#7"&gt;7&lt;/a&gt;] which will import data from locally managed collections    and re-present it. Furthermore, we have just seen announcements about the &lt;a href="http://www.rochester.edu/news/show.php?id=2518"&gt;eXtensible    Catalog&lt;/a&gt; project [&lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/dempsey/#8"&gt;8&lt;/a&gt;] at the University of Rochester. One of the ironies of the    current situation is that just at the moment when we begin to extract more value    from the historic investment in structured data in our catalogues, and these    initiatives are examples of this trend, we are also looking at blending the    catalogue more with other data and environments where it may be difficult to    build services on top of that structured data. Think of what happens, for example,    if you combine article level data and catalogue data.&lt;/p&gt; &lt;h4&gt;Shared Catalogue Discovery Environments&lt;/h4&gt;   &lt;p&gt;We also observe a    greater trend to shared catalogues, often associated with resource-sharing arrangements.    It has not been unusual to see a tiered offering, with resources at progressively    broader levels (for example: local catalogue, regional/consortial, Worldcat).    The level of integration between these has been small. However, in recent times    we have seen growing interest in moving more strongly to the shared level. This    may be to strengthen resource-sharing arrangements, the better to match supply    and demand of materials (&lt;a href="http://www.dlib.org/dlib/april06/dempsey/04dempsey.html"&gt;the 'long tail' discussion&lt;/a&gt;    [&lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/dempsey/#4"&gt;4&lt;/a&gt;]), and to reduce costs. And once one moves in this direction,    the question of scoping the collective resource in different ways emerges: moving    from local to some larger grouping or back. The value of OhioLink as a state-wide    catalogue is an example here. OCLC has just made Worldcat.org available, which    aims to connect users to library services, brokering the many to many relations    involved. A critical driver here is the benefit of consolidation, and discussion    of what level of consolidation is useful. Increasingly, a library will have    to consider where and how to disclose its resources.&lt;/p&gt; &lt;h4&gt;Syndicated Catalogue Discovery Environments&lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;Increasingly,    the library wants to project a discovery experience into other contexts. I use    'syndication' to cover several ways of doing this. Typically, one might syndicate    &lt;em&gt;services&lt;/em&gt; or &lt;em&gt;data&lt;/em&gt;. In the former case a machine interface is    made available which can be consumed by other applications. We are used to this    model in the context of Z39.50, but additional approaches may become more common    (OpenSearch, RSS feeds, ..). How to project library resources into campus portals,    or course management systems, has heightened interest here. A service might    provide a search of the collection, but other services may also be interesting,    providing a list of new items for example. The syndication of data is of growing    interest also, as libraries discuss making catalogue data available to search    engines and others, with links back to the library environment. Several libraries    and library organisations are exposing data in this way. And OCLC has been very    active in this area with Open WorldCat, where member data is exposed to several    search engines.&lt;/p&gt;  &lt;h4&gt;The Leveraged Discovery Environment&lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;This is a clumsy expression    for a phenomenon that is increasingly important, where one leverages a discovery    environment which is outside your control to bring people back into your catalogue    environment. Think of Amazon or Google Scholar. Now this may be done using fragile    scraping or scripting environments, as for example with library lookup or our    FRBR (Functional Requirements of Bibliographic Records) bookmarklets. Here,    a browser tool may, for example, recognise an ISBN in a Web page and use that    to search a library resource. &lt;a name="DavePattern"&gt;&lt;/a&gt;The work that Dave Pattern has done with the University    of Huddersfield catalogue is an example here. The broader ability to deploy, capture and act    on structured data may make this approach more common: the potential use of    CoINS (ContextObject in Span) is a specific example here.&lt;/p&gt;  &lt;h2&gt;There Are a Lot of Questions!&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;We are, then, looking at complex shifts in behaviour and network systems. Many issues need to be worked through; here are some examples:&lt;/p&gt;  &lt;h4&gt;Scale, Niches and Value&lt;/h4&gt; &lt;p&gt;Much of what I have said supports consolidation into general network level services. The unified discovery experience of the search engines, Amazon, iTunes, and so on, has been a very powerful example. And we will certainly see greater consolidation of discovery opportunities in the library space. This will be in institutional, regional/national, and vendor contexts. At the same time, we are seeing growing interest in specialisation for niche requirements. How do you scoop out the resources which are of particular relevance to a specific course, for example, or do we want to build services specialised towards those working in archaeology, biodiversity, or other disciplines? And the library will want to add more value in terms of higher-level services: what are the 'best' resources in a particular area, feeds for new materials, interaction with the developing apparatus for reading list and citation management, and so on. Being able to do some of these things effectively will require further architectural, service and organisational development. From an architectural point of view, for example, it means being much more readily able to filter, recombine and manipulate data and Web services. From an organisational point of view it means finding ways to share or outsource routine work, and focus on where the library can make a distinctive impact.&lt;/p&gt; &lt;h4&gt;The User Experience: Ranking, Relating and Recommending&lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;There is a general recognition that discovery environments need to do more to help the user. Developers are looking at ranking (using well-known retrieval techniques with the bibliographic data, or probably more importantly, using holdings, usage or other data which gives an indication of popularity), relating (bringing together materials which are in the same work, about the same thing, or related in other ways), and recommending (making suggestions based on various inputs - reviews or circulation data for example). Users of Amazon and other consumer sites are becoming used to a 'rich texture of suggestion', and we have data to do a better job here than we have had hitherto. This leads naturally into the mobilisation of user participation - tagging, reviews - to enhance the discovery experience. PennTags is a widely noted institutional experiment in this area. This raises interesting questions. One is the issue of critical mass, and it may be that mechanisms emerge to share this data, or to invite it at some shared level. It is appropriate to think here about the success of social networking sites, and about the attraction there is to converse and connect around shared interests: these are becoming important 'discovery' venues. LibraryThing is an intriguing example of how such interest can be mobilised to create an increasingly rich resource. This raises a second issue, about levels: are there particular local interests and contexts which would benefit being captured and how does that play with stuff on a more general level. And, third, there are architectural issues around identity and citation.&lt;/p&gt;   &lt;h4&gt;&lt;a name="TheBackend"&gt;&lt;/a&gt;Talking to the Backend Library System&lt;/h4&gt;    &lt;p&gt;In the context of &lt;a href="http://orweblog.oclc.org/archives/000927.html"&gt;an    ILS service layer&lt;/a&gt; [&lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/dempsey/#9"&gt;9&lt;/a&gt;], if the discovery environment    is separated from the ILS, there needs to be a way for the two to communicate.    Again, this is currently done through a variety of proprietary scripting and    linking approaches. It would be useful to agree a set of appropriate functionality    and some agreed ways of implementing it.&lt;/p&gt;  &lt;h4&gt;The Discovery Deficit: The Catalogued Collection Is Only a Part of the Available    Collection&lt;/h4&gt;    &lt;p&gt;I am thinking of two related things here.    The first - which has been discussed throughout this article - is that there    will be a growing desire to hide boundaries between databases (A&amp;amp;I, catalogue,    repositories, etc) - especially where those boundaries are seen more to reflect    the historical contingencies of library organisation or the business decisions    of suppliers than the actual discovery needs of users. We will see greater integration    of the catalogue with these other resources, whether this happens at the applications    level (where the catalogue sits behind the resolver, or is a metasearch target),    or at the data level (where catalogue data, article level data, repository data,    and so on, are consolidated in merged resources). We will also see greater articulation    of the catalogue with external resources. This then poses a second issue, about    the data itself. Our catalogues are created in a MARC/AACR world, with established    practices for controlling names, subjects and so on. However, as the catalogue    plays in a wider resource space, issues arise in meshing this data with data    created in different regimes, and accordingly in leveraging the investment in    controlled data. Think about personal names for example, where authority control    practices apply only to the 'catalogued collection'. What does it mean when    that data is mixed with other data? Does it become more difficult to build higher-level    services which exploit the consistency of the data - faceted browse for example?    Libraries have made a major historical investment in structured data. We need    to find good ways of releasing the value of that investment in productive use    in these new services.&lt;/p&gt;  &lt;h4&gt;Routing&lt;/h4&gt;   &lt;p&gt;As we separate functions - discovery from location    and fulfilment - we need effective ways of tying them back together. Resolution    was discussed as important in this context above. In the longer term, it also    is an example of the broad interest converging on directories and registries.    In the type of environment I have sketched here, we need registries which manage    the 'intelligence' that applications need in order to tie things together. Registries    of services (resolvers, deep opac links, Z39.50/SRW/U targets, ..), institutions    (complex things!), and so on. One wants to be able to connect users to services    they are authorised to use, or to tie institutional service points to geographic    co-ordinates (so as to be able to place locations on a map), or to tie a user    application to the appropriate institutional resolver (so as to be able to bring    somebody from a discovered item to one that is available to them), and so on.    In each case, system-wide registries will remove local development burdens.&lt;/p&gt; &lt;h4&gt;Indexing&lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;One of the interesting recent developments in the    'book' space has been the emergence of mass digitisation initiatives alongside    existing aggregations of e-books. This opens up the prospect of access to the    book literature at the full-text level, and also of building higher-level services    on this new corpus of material. In effect, if they can be used appropriately,    we are acquiring indexes to books scattered through many collections. We need    to work through how these index resources can be leveraged to provide deeper    access to local collections. For example, one can imagine a local application    leveraging a 'book search engine' to find appropriate titles and then trying    to locate those titles locally or against other fulfilment options.&lt;/p&gt; &lt;h4&gt;Sourcing&lt;/h4&gt; &lt;p&gt;This is an interesting topic which is not yet widely    explored in the ILS area. The typical current model is a licensed software model    where an instance of a vendor application is run locally. The examples above    show some other models: local development, collaborative sourcing, and an on-demand    model where the catalogue or other functionality is provided as a network service.    Here, as in other areas of library systems work, we are likely to see a much    more plural approach to sourcing system requirements in coming years.&lt;/p&gt;  &lt;h2&gt;Conclusion&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;The catalogue discussion is often presented as just that, the &lt;strong&gt;&lt;em&gt;catalogue&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;    discussion. However, I have argued here that it belongs in a wider context.    We may be lifting out the catalogue discovery experience, but we are then re-embedding    it in potentially multiple discovery contexts, and those discovery contexts    are being changed as we re-architect systems in the network environment. These    systems include discovery systems for other collection types (the institutional    repository, or digital asset repository, etc); the emergence of a general search/resolution    layer within the library; external environments as different as Google and Amazon,    the RSS aggregator, or the course management system. The discovery experiences    will also increasingly be part of various supply chains: resource sharing or    e-commerce, for example, or local resolution services.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;In summary, the &lt;em&gt;catalogue question&lt;/em&gt; is a part of the complex set of    questions we will address as we re-architect the discovery-to-delivery apparatus    in ways appropriate to changing network behaviours.&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;a name="0"&gt;&lt;/a&gt;Notes&lt;/h2&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;I have used 'catalogue' throughout this article with some unease, but alternative approaches were too clumsy. The problem I faced is that while the word 'catalogue' currently evokes a recognisable bundle of functionality, I sometimes use the word with a different bundle of functionality in mind, as I am talking about how functionality may be reconfigured across a variety of systems.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;h2&gt;References&lt;/h2&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a name="1"&gt;&lt;/a&gt;This short article adapts the following entry in Lorcan Dempsey's Weblog: Lifting out the catalog discovery experience, 14 May 2006, &lt;a href="http://orweblog.oclc.org/archives/001021.html"&gt;http://orweblog.oclc.org/archives/001021.html &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a name="2"&gt;&lt;/a&gt;Several of these initiatives are also discussed in: Thinking about the catalog, 12 January 2006, &lt;a href="http://orweblog.oclc.org/archives/000919.html"&gt;http://orweblog.oclc.org/archives/000919.html &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a name="3"&gt;&lt;/a&gt;There is a growing literature on &lt;em&gt;attention&lt;/em&gt;. The      Bubble Generation blog is an interesting venue for discussion of production      and use of information and other media resources in a network environment:      &lt;a href="http://www.bubblegeneration.com/"&gt;http://www.bubblegeneration.com/&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a name="4"&gt;&lt;/a&gt;Lorcan Dempsey. Libraries and the Long Tail: Some Thoughts about Libraries in a Network Age, &lt;em&gt;D-Lib Magazine&lt;/em&gt; Vol. 12, No. 4, April 2006. &lt;a href="http://www.dlib.org/dlib/april06/dempsey/04dempsey.html"&gt;http://www.dlib.org/dlib/april06/dempsey/04dempsey.html&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a name="5"&gt;&lt;/a&gt;Lorcan Dempsey's Weblog: Discover, locate, ... vertical and horizontal integration, 20 November 2005, &lt;a href="http://orweblog.oclc.org/archives/000865.html"&gt;http://orweblog.oclc.org/archives/000865.html&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a name="6"&gt;&lt;/a&gt;North Carolina State University Libraries Catalog &lt;a href="http://www.lib.ncsu.edu/catalog/"&gt;http://www.lib.ncsu.edu/catalog/&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a name="7"&gt;&lt;/a&gt;Primo: an Exclusive Peek from Ex Libris &lt;a href="http://www.exlibrisgroup.com/webinar_1144862525.htm"&gt;http://www.exlibrisgroup.com/webinar_1144862525.htm&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a name="8"&gt;&lt;/a&gt;University of Rochester press release, 14 April 2006: Mellon Grant Funds Planning Analysis for Future Online Services &lt;a href="http://www.rochester.edu/news/show.php?id=2518"&gt;http://www.rochester.edu/news/show.php?id=2518&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a name="9"&gt;&lt;/a&gt;Lorcan Dempsey's Weblog:  A palindromic ILS service layer, 20 January 2006, &lt;a href="http://orweblog.oclc.org/archives/000927.html"&gt;http://orweblog.oclc.org/archives/000927.html&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;h2&gt;Further Reading&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;Related issues are discussed in these blog entries:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Search, share and subscribe,  6 March 2006 &lt;a href="http://orweblog.oclc.org/archives/000964.html"&gt;http://orweblog.oclc.org/archives/000964.html&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Thinking about the catalog, 12 January 2006, &lt;a href="http://orweblog.oclc.org/archives/000919.html"&gt;http://orweblog.oclc.org/archives/000919.html&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Discover, locate, ... vertical and horizontal integration, 20 November 2005, &lt;a href="http://orweblog.oclc.org/archives/000865.html"&gt;http://orweblog.oclc.org/archives/000865.html&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Systemwide activities and the long tail, 25 February 2006, &lt;a href="http://orweblog.oclc.org/archives/000955.html"&gt;http://orweblog.oclc.org/archives/000955.html&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Systemwide discovery and delivery, 22 December 2005, &lt;a href="http://orweblog.oclc.org/archives/000903.html"&gt;http://orweblog.oclc.org/archives/000903.html&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;A palindromic ILS service layer, 20 January 2006, &lt;a href="http://orweblog.oclc.org/archives/000927.html"&gt;http://orweblog.oclc.org/archives/000927.html&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Making data work - Web 2.0 and catalogs, 4 October 2005, &lt;a href="http://orweblog.oclc.org/archives/000815.html"&gt;http://orweblog.oclc.org/archives/000815.html&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;h2&gt;Author Details&lt;/h2&gt; &lt;p class="authors"&gt; &lt;a name="author1"&gt;&lt;/a&gt;  &lt;strong&gt;Lorcan Dempsey&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;VP Programs and Research &amp;amp; Chief Strategist&lt;br /&gt;OCLC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email: &lt;a href="mailto:dempseyl@oclc.org"&gt;dempseyl@oclc.org&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Web site: &lt;a href="http://orweblog.oclc.org/"&gt;http://orweblog.oclc.org&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="right"&gt;&lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/issue48/dempsey/#top"&gt;&lt;small&gt;Return to top&lt;/small&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="footer"&gt; Article Title: "The Library Catalogue in the New Discovery Environment: Some Thoughts"&lt;br /&gt;Author: Lorcan Dempsey&lt;br /&gt;Publication Date:  30-July-2006  Publication: Ariadne Issue  48&lt;br /&gt;Originating URL: http://www.ariadne.ac.uk/issue48/dempsey/&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.ariadne.ac.uk/about/copyright-new.html"&gt;Copyright and citation information&lt;/a&gt;  File last modified:  Monday, 14-Aug-2006 06:59:36 UTC &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-4931442820909464664?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/4931442820909464664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/library-catalogue-in-new-discovery.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/4931442820909464664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/4931442820909464664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/library-catalogue-in-new-discovery.html' title='The Library Catalogue in the New Discovery Environment: Some Thoughts'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-7850662980014242509</id><published>2009-07-14T10:17:00.001+07:00</published><updated>2009-07-14T10:23:21.124+07:00</updated><title type='text'>Memahami konsep dasar perpustakaan digital</title><content type='html'>&lt;b style="font-family: times new roman;"&gt;Pertentangan antara media elektronik dan media cetak begitu menyita waktu, tenaga dan biaya. Manakala pertentangan kerap muncul, ternyata muncul lagi pertentangan lain antara media cetak (koran, televisi, film) dan media portal (situs web). Akar masalah pertentangan muncul manakala sistem lama bergeser ke sistem baru, tatanan lama berubah total ke tatanan baru. Model lama berganti menjadi model baru. Yang lama usang yang baru begitu merangsang. Rangsangan ini melingkupi juga tatkala perpustakaan model lama mencoba masuk ke model perpustakaan digital. Ramai-ramai orang mau peduli bahwa perpustakaan digital mampu menyelesaikan banyak masalah, entah bagi pustakawan entah bagi pengakses awam. Sejauhmana jawaban kemudahan akses atas perpustakaan digital yang cocok dengan keadaan perpustakaan nasional, Putu Laxman Pendit menjabarkan lengkap dalam peluncuran buku barunya.&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;p&gt;Membaca digital yang berkembang saat ini, disandingkan dengan membaca melalui kertas sebagai bahan dasar tetap tak dapat lenyap begitu saja, demikian Blasius Sudarsono, pembicara pada peluncuran buku &lt;i&gt;Perpustakaan Digital&lt;/i&gt;, Kamis 14/2 di Perpustakaan Nasional RI. “Saya tertarik membaca dengan kertas,” ujar Blasius Sudarsono seraya mempertanyakan kenapa ia tertarik. “Saya lebih lama berkecimpung di perpustakaan.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut Blasius Sudarsono, Pustakawan Utama Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta, buku “Perpustakaan Digital” karya Putu Laxman Pendit, 49 tahun, lebih tepat sebagai &lt;em&gt;Hadiah Valentine&lt;/em&gt;. Selain itu, katanya, buku ini menjelaskan perpustakaan digital yang mendasar. Memahami pengetahuan tentang perpustakaan digital. Di Indonesia, perpustakaan Indonesia bermula pada 1971. Oleh karena itu, buku ini memahami hal-hal mendasar. Namun, sayang belum ada indeks. Akan tetapi, Putu kata Blasius ibarat ‘menyemen benih pohon pengetahuan’. Bagaimana perkembangannya, itulah yang mesti diteruskan kepada Putu, demikian Blasius Sudarsono mengurai pandangannya sebagai pembicara seraya menutup dengan dua pertanyaan. Pertama, berkenankah Saudara Putu meningkatkan perpustakaan digital itu? Kedua, maukah kita pustakawan Indonesia meneruskan?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Putu Laxman Pendit dilahirkan di Jakarta, 3 September 1959. Ia penulis buku ini, seorang peneliti, mantan dosen Sekolah Tinggi Publisistik (kini Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta), penulis bidang informasi dan perpustakaan. Ia menyampaikan terima kasih kepada Perpustakaan Nasional, seraya menanggapi Blasius Sudarsono bahwa ia tidak sengaja kenapa memilih tanggal empat belas yang bertepatan dengan &lt;em&gt;Hari Valentine&lt;/em&gt;. “Saya malah lupa hari ini Valentine,” ujar peraih gelar doktor filsafat dari RMIT University di Melbourne Australia pada tahun 2000. Menurut Putu, buku ini selesai dicetak tadi malam (Rabu 13/2/08). Oleh karena itu, ada beberapa halangan, seperti ketika saya pindahkan judul di komputer, malah &lt;i&gt;error&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Buku &lt;i&gt;Perpustakaan Digital&lt;/i&gt; diperuntukkan untuk teman-teman pustakawan dan menambah kepustakaan Indonesia. Pada umumnya masyarakat Indonesia kalau mendengar kata perpustakaan persepsinya selalu abu-abu dan gelap. Namun, baru ditambah kata digital menjadi &lt;i&gt;Perpustakaan Digital&lt;/i&gt;, ternyata seperti mendapat perintah mirip &lt;i&gt;Bandung Bondowoso&lt;/i&gt;. Tiba-tiba harus selesai semalam, kata Putu yang meraih gelar Master of Arts dari Loughborough University of Technology di Inggris pada 1988. Ia menggarisbawahi kegamangan pada sebagian besar orang pada konsep-konsep dasar pada kata “perpustakaan”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Istilah &lt;i&gt;Perpustakaan Digital&lt;/i&gt; bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Mendadak muncul di tengah-tengah kita. Ada hal-hal baru. Buku ini dapat dibaca cepat dari A sampai Z. Memang seharusnya dilengkapi indeks. “Ada indeks tapi tidak tercetak,” tukas dosen jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (1989—2005). Ia menggambarkan proses pencetakannya hanya semalam diselesaikan. “Saya minta maaf,” ujar Kepala Laboratorium Komputer Sastra (1990) yang menjanjikan bahwa indeks akan disampaikan secara &lt;i&gt;online &lt;/i&gt;yang dapat diunduh (&lt;em&gt;download&lt;/em&gt;)&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Buku ini menyambut Konferensi Pertemuan Organisasi-Organisasi yang mumpuni di bidang digital. Pertemuan yang lebih besar, menurut Joko Santoso, moderator berlangsung sekitar Mei atau Juni 2008 yang berkaitan dengan Perpustakaan Digital. “Ini kesempatan kita bahwa perhatian dunia kepada Indonesia begitu tinggi,” kata Putu Laxman Pendit, Kepala Pusat Komputer dan Pengolahan Data Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1993).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Buku ini memerlukan masa eksperimen sepuluh tahun. Konseptual &lt;i&gt;Perpustakaan Digital&lt;/i&gt;, kata Putu Laxman Pendit memiliki kecerdasan sosial (cerdas bersama-sama), kebebasan atau kemerdekaan informasi, hak asasi dan demokrasi (tidak boleh ada yang terhalangi untuk mempunyai pengetahuan yang berbasis pada etos atau &lt;i&gt;humanistic ethos&lt;/i&gt;), kehormatan dan kebersamaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Putu Laxman Pendit menyampaikan pesan bahwa perpustakaan digital memiliki anggota. Ada sebuah infrastruktur. Basis. Masih menjadi, masih &lt;i&gt;being&lt;/i&gt;. Yang terpenting, katanya, perpustakaan digital menghimpun pengetahuan untuk kepentingan bersama. Benih perpustakaan digital ini berlangsung pada 1900-an dari universitas. “Adalah percuma membangun perpustakaan digital tanpa mengetahui konsep dasar,” tegas Putu konsultan untuk pengembangan sistem informasi di Pusat Layanan Informasi, Dewan Perwakilan Rakyat, RI.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bedah buku dan peluncuran “Perpustakaan Digital: Dari A sampai Z” di Auditorium Perpustakaan Nasional RI Jalan Salemba Raya Nomor 28A Jakarta Pusat berlangsung pukul 9.00—11.00 WIB. Bertindak sebagai moderator, Joko Santoso, Kepala Subbidang Otomasi, Perpustakaan Nasional RI. Hadir pustakawan, profesional teknologi informatika, dan pemerhati masalah perpustakaan yang mencapai seratus orang. Ukuran buku 17,5 x 26 cm, v + 308 halaman dengan harga promo delapan puluh ribu rupiah.***&lt;/p&gt;&lt;p&gt;From : http://johnherf.files.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-7850662980014242509?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/7850662980014242509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/memahami-konsep-dasar-perpustakaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7850662980014242509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7850662980014242509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/memahami-konsep-dasar-perpustakaan.html' title='Memahami konsep dasar perpustakaan digital'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-968931170391020878</id><published>2009-07-14T10:10:00.000+07:00</published><updated>2009-07-14T10:11:23.905+07:00</updated><title type='text'>PERPUSTAKAAN DIGITAL</title><content type='html'>Oleh : Prof. Yanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan zaman menjadikan semua lini bidang kehidupan membutuhkan komputerisasi. Begitu juga tentang perpustakaan, saatnya perubahan sistem perpustakaan yang konvensional menjadi perpustakaan digital. Mulai dengan penggunaan sistem informasi perpustakaan sampai dengan perpustakaan online.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada hari Kamis, 28 Mei 2009 bertempat di UNIKA Semarang, ketua STMIK AMIKOM Yogyakarta, Prof. Dr. M. Suyanto, MM menjadi pembicara Seminar Nasional Perpustakaan yang diadakan oleh Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, bekerja sama dengan UNIKA. Walau Prof. Yanto tidak memiliki basic ilmu keperpustakaan, tapi beliau menguasai pengetahuan tentang teknologi yang dapat digunkan untuk menjadikan perpustakaan masa depan.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam pemaparanya Prof. Yanto menunjukkan bahwa teknologi dan perpustakaan dapat bersinergi secara baik. Penggunaan komputer sebagai media pendataan buku dan sirkulasinya pastinya dapat memabantu para pustakawan dalam menjalankan tugasnya. Seperti yang dilakukan di perpustakaan STMIK AMIKOM Yogyakarta, di sini semua pendataan dan sirkulasi buku menggunakan komputerisasi dan barcode. Sehingga pelayanan peminjaman buku dapat dilakuakn dalam waktu kurang dari 3 menit &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bahkan semua terintegerasi dengan sistem akademi kampus.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penggunaan internet dapat pula digunakan untuk melakukan komunikasi dan transaksi perpustakaan dari jarak jauh. Seperti yang juga dilakukan STMIK AMIKOM Yogyakarta, penggunaan Digital Library dapat digunakan untuk melakukan searching dan pemesanan buku serta CD yang menjadi koleksi perpustakaan STMIK AMIKOM Yogyakarta dengan menggunakan media internet. Selain itu STMIK AMIKOM Yogyakarta juga memiliki aplikasi Amikom Mobile yang dapat diinstall di telepon genggam. Dengan Amikom Mobile mahasiswa dapat melakuakan cek nilai KHS, cek jadwal, searching buku perpustaakan dan lain lain.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jadi kelak, sebuah perpustakaan dapat di akses dari berbagai dunia. Buku-buku akan berbentuk e-book sehingga pengguna tidak perlu datang langsung ke perpustakaan. Bahakan sekarang indikasinya sudah menuju ke arah itu. Banyak referensi luarnegeri dalam bentuk resensi buku dapat diakses dan digunakan untuk landasan teori. Resensi buku tersebut dapat diperoleh dari perpustakaan melalui internet.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam seminar ini para pustakawan dari berbagai daerah, dibukakan cakrawala bahwasanya teknologi bukan menghambat orang untuk berkunjung ke perpustakaan, namun dapat disinergikan. Para pengunjung dapat mengunjungi perpustakaan secara online. Para pustakawan juga akan semakin dipermudah dengan adanya teknologi. &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-968931170391020878?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/968931170391020878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/perpustakaan-digital.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/968931170391020878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/968931170391020878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/perpustakaan-digital.html' title='PERPUSTAKAAN DIGITAL'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-600691728723288821</id><published>2009-07-13T11:09:00.000+07:00</published><updated>2009-07-13T11:11:13.543+07:00</updated><title type='text'>Digital world Library , situs pintar bikin mudah belajar</title><content type='html'>Perpustakaan, adalah tempat pilihan utama mencari data jika ada tugas/PR dari guru ataupun dosen. Tempat yang jarang didatangi pengunjung ini merupakan sarana yang terus dipertahankan fungsi maupun tempatnya. Namun seiring merebaknya teknologi Internet, orang semakin malas datang ke perpustakaan. Kalau Mesujian susah ngedapetin bahan untuk PR, tinggal klik yahoo, atau google atau situs yang sejenis maka semua bahan yang diinginkan segera muncul. Bahan untuk PR siap disalin dan dikumpulkan esoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan hal itu, badan PBB yang mengurusi soal pendidikan, ilmu pengetahuan,dan budaya ,UNESCO, menyediakan layanan dengan nama World Digital Library. Fasilitas ini ditujukan untuk mendokumentasikan berbagai naskah dan data dari berbagai peradaban di dunia dalam satu tempat, sehingga orang tidak perlu repot datang mencari naskah yang dinilai langka. Naskah kuno dari China, kaligrafi Arab, dan catatan penting peristiwa dunia lengkap tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup dengan mengunjungi http://www.wdl.org, World Digital Library sudah bisa dilihat oleh user di seluruh dunia. Nggak cuma naskah atau buku, di perpustakaan digital ini juga bisa lihat berbagai rekaman gambar atau film, peta, naskah kuno, atau juga foto langka yang belum pernah dilihat. Perpustakaan yang berupa situs ini dibuat sebagai sumber pengajaran global untuk masyarakat dunia. Penggagasnya adalah seorang ahli perpustakaan dan bos-nya The Library of Congress, James Billington. Library of Congress adalah salah satu perpustakaan terbesar di dunia. Asiknya lagi situs perpustakaan ini bisa diakses gratis untuk siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James Billington sudah membuat prototipe situs ini sejak 2007. Layanannya direncanakan akan di-launch di markas UNESCO, Paris, pada 21 April 2009. World Digital Library tersedia dalam berbagai versi bahasa; Inggris, Spanyol, Arab, Prancis, Cina, Portugis, dan Rusia (Koran Tempo 21/4/09). sph&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-600691728723288821?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/600691728723288821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/digital-world-library-situs-pintar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/600691728723288821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/600691728723288821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/digital-world-library-situs-pintar.html' title='Digital world Library , situs pintar bikin mudah belajar'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-6431016213039137955</id><published>2009-07-13T10:58:00.002+07:00</published><updated>2009-07-13T11:01:58.078+07:00</updated><title type='text'>Perpustakaan Bisa Deteksi Pencurian Buku</title><content type='html'>&lt;div class="boxartikel"&gt;       &lt;div class="boximgartikel"&gt;                    &lt;div class="boxartikel"&gt;       &lt;div class="boximgartikel"&gt;MEMASUKI gedung Badan Perpustakaan Provinsi Kaltim usai direhab tertangkap kesan eksklusif di dalamnya. Lantai marmer ukuran lebar tampak mengilap menyambut pengunjung. Lampu kristal menjuntai di ruang lobi. Ruang demi ruang dilengkapi sistem keamanan yang mutakhir, termasuk yang dipasang di bawah tangga lantai dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan mutkahir itu dilengkapi sensor yang bisa mendeteksi pencurian buku. Alat sensor ini dihubungkan dengan magnit yang ada di setiap buku koleksi. Magnit ini bentuknya sangat tipis seperti sehelai rambut, sehingga orang sangat susah menemukannya dalam sebuah buku. "Kami menempatkan magnit ini di bagian tersembunyi dalam sebuah buku yang tidak bisa diketahui orang. Ini menghindari terjadinya pencurian buku," kata Taufik, Kabid Layanan Informasi dan Otomasi Badan Perpustakaan Kaltim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengakui tidak semua koleksi buku diberikan magnit. Namun, ia menargetkan semua buku bakal diberikan magnit pada 2009 ini. Security System sendiri sudah dioperasikan sejak awal Maret 2009. Keberadaan alat ini sengaja dipasang di lantai dasar persis di bawah tangga sebab koleksi buku sendiri berada di lantai dua dan tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum keluar gedung, setiap peminjam buku pasti melewati alat canggih ini. Jika peminjam buku belum mendatangi petugas perpustakaan, sensor alat ini bakal berbunyi dengan lampu menyala merah. "Sensor berbunyi karena magnit dalam buku belum di-off-kan petugas," jelas Taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga Kamis (12/3) kemarin, alarm sistem keamanan masih berbunyi. Maklum pengunjung ini membawa buku pinjaman yang transaksinya dilakukan sebelum Maret 2009. Sedang transaksi peminjaman buku di atas Maret 2009 sudah di-off-kan. Tampilan ruang koleksi buku di lantai dua dan tiga juga terlihat makin luas. "Kami memperbarui interior ruang dengan mengurangi sekat-sekat sehingga ruang tampak lebih luas," lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jendela kaca berukuran lebar terpasang di sekeliling dinding sehingga pengunjung bisa melihat langsung suasana di luar gedung. Perubahan interior ruang ini dimaksudkan demi kenyamanan pengunjung perpustakaan. Setiap lantai ruang dilengkapi toilet. Sedangkan 12 orang karyawan dikerahkan untuk membersihkan setiap ruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami melibatkan pihak ketiga dalam merekrut petugas kebersihan. Mereka bertanggung jawab atas kebersihan gedung perpustakaan ini. Kalau dulu kami hanya mempekerjakan 3 orang cleaning service, sekarang 12 orang petugas kebersihan yang disiagakan di sini," kata Taufik. &lt;b&gt;(rahmat taufik)&lt;/b&gt;&lt;div style="margin-bottom: 5px;"&gt;            &lt;/div&gt;           &lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-6431016213039137955?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/6431016213039137955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/perpustakaan-bisa-deteksi-pencurian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/6431016213039137955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/6431016213039137955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/perpustakaan-bisa-deteksi-pencurian.html' title='Perpustakaan Bisa Deteksi Pencurian Buku'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-6076593258677467779</id><published>2009-07-10T09:47:00.002+07:00</published><updated>2009-07-10T09:52:13.374+07:00</updated><title type='text'>KECEPATAN INTERNET SAMPAI 40 Gbps Wow..</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SlasyuL590I/AAAAAAAAAFU/JT73yq8fmMA/s1600-h/internet+satelite.1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 248px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SlasyuL590I/AAAAAAAAAFU/JT73yq8fmMA/s320/internet+satelite.1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356658794195187522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span&gt;   Belum lama kami sempat memberi kabar mengenai   &lt;a href="http://www.otakku.com/index.php/2008/02/25/internet-connection-up-to-12-gbps/"&gt;   kecepatan internet yang bisa mencapai 1,2Gbps&lt;/a&gt; dan belum juga sempat    kami membayangkannya, sudah lahir sebuah kecepatan internet yang konon    bisa mencapai 40Gbps.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span&gt;   &lt;strong&gt;Peter Lothberg&lt;/strong&gt; (legenda di bidang internet) dari Swedia adalah    penemu teknologi "gila" ini.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span&gt; Melalui modul teknologi terbaru dan penggunaan kabel fiber optik yang sangat berkualitas, teknologi ini memungkinkan untuk menstransfer data secara langsung antara 2 ruter (router) yang berjarak sampai dengan 2.000 km tanpa menggunakan alat tambahan lainnya (transporder).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span&gt; Aduh, cukup sudah kami mendengar berita seperti ini, kami cukup bersyukur apabila bisa menikmati kecepatan internet hanya 10Mbps tetapi gratis dan tak terbatas.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;table id="table8" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="468"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="font-size: 10px;" width="468"&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;table id="table9" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="468"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="font-size: 10pt;" width="468"&gt;&lt;span&gt;     &lt;a href="http://www.newlaunches.com/archives/40gbps_net_connection_used_as_a_dryer.php" target="_blank"&gt;Sumber berita&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="font-size: 8pt;" width="468"&gt;&lt;span&gt;40GBps net connection used as a dryer&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-6076593258677467779?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/6076593258677467779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/kecepatan-internet-sampai-40-gbps-wow.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/6076593258677467779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/6076593258677467779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/kecepatan-internet-sampai-40-gbps-wow.html' title='KECEPATAN INTERNET SAMPAI 40 Gbps Wow..'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SlasyuL590I/AAAAAAAAAFU/JT73yq8fmMA/s72-c/internet+satelite.1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-8536492543838953506</id><published>2009-07-10T09:43:00.001+07:00</published><updated>2009-07-10T09:45:45.093+07:00</updated><title type='text'>KECEPATAN INTERNET SAMPAI 1,2 Gbps</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SlarNEv2TKI/AAAAAAAAAFM/pClxTtYa6H4/s1600-h/internet+satelite.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 170px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SlarNEv2TKI/AAAAAAAAAFM/pClxTtYa6H4/s320/internet+satelite.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356657047904865442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span&gt; Sebenarnya kami paling malas untuk menulis artikel mengenai kecepatan koneksi internet dan juga biaya internet di negara lain karena hal ini akan membuat hati kami sedih dan pilu mengingat kondisi koneksi internet di Indonesia.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span&gt;   Tetapi tidak ada salahnya, kami mencoba berbagi berita yang paling "heboh"    saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span&gt; Sebuah proyek kerjasama senilai 342 milyar dollar antara Mitsubishi Heavy Industries dengan Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) belum lama ini telah meluncurkan satelit yang diberi nama Kizuna Satellite.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span&gt; Satelit ini nantinya digunakan untuk kepentingan koneksi internet dan berita "heboh"-nya adalah kecepatan yang bisa dicapai melalui Kizuna Satellite adalah 1,2 Gbps (Gigabyte per second).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span&gt; Sebagai informasi, kecepatan internet saat ini adalah sekitar 8 mbps, jadi hampir sekitar 150 kali  lebih cepat dibandingkan saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span&gt;   Berarti untuk mendownload 1 buah film di DVD, butuh waktu hanya kurang    dari 10 detik.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span&gt;   Kalau masuk ke Indonesia, berapa harganya yah untuk langganan per bulan?   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;table id="table8" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="468"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="font-size: 10px;" width="468"&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;table id="table9" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="468"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td style="font-size: 10pt;" width="468"&gt;&lt;span&gt;     &lt;a href="http://gizmodo.com/360171/japans-kizuna-satellite-to-beam-souped-up-internet-connection-back-home" target="_blank"&gt;Sumber berita&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="font-size: 8pt;" width="468"&gt;&lt;span&gt;Japan's Kizuna Satellite to Beam Souped Up      Internet Connection Back Home&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-8536492543838953506?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/8536492543838953506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/kecepatan-internet-sampai-12-gbps.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/8536492543838953506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/8536492543838953506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/kecepatan-internet-sampai-12-gbps.html' title='KECEPATAN INTERNET SAMPAI 1,2 Gbps'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SlarNEv2TKI/AAAAAAAAAFM/pClxTtYa6H4/s72-c/internet+satelite.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-7784909779052381437</id><published>2009-07-07T09:46:00.002+07:00</published><updated>2009-07-07T09:48:43.013+07:00</updated><title type='text'>PERPUSTAKAAN ALEXANDRIA, CINTA LAMA BERSEMI KEMBALI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SlK3fZ_DjkI/AAAAAAAAAFE/f5HMpQuUmCI/s1600-h/ALEXANDRIA1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 237px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SlK3fZ_DjkI/AAAAAAAAAFE/f5HMpQuUmCI/s320/ALEXANDRIA1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355544657076129346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;Pembangunan kembali Perpustakaan Alexandria yang runtuh ibarat ‘cinta lama bersemi kembali.’ Banyak pihak yang bersuka cita menyambut rencana pemerintah Mesir membangun kembali kejayaan perpustakaan megah itu. Bahkan Suzanne Mubarak, istri Presiden Husni Mubarak sampai melakukan presentasi di Museum British London untuk meminta bantuan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-22"&gt;&lt;/span&gt;Usahanya itu mendapat sambutan hangat. Banyak pihak mengulurkan bantuannya. Donatur datang dari Arab Saudi yang menyumbang 65 juta dolar hingga Norwegia 3,44 juta dolar (dalam bentuk mebel).&lt;br /&gt;Perpustakaan berbiaya 230 juta dolar Amerika itu berbentuk unik. Bangunannya menyerupai silinder, dengan banyak jendela. Dinding bagian Selatan dihias potongan batu granit. Permukaan bebatuan yang tidak rata, ditulisi simbol huruf seluruh dunia. karena letaknya di tepi laut Mediterania, bila malam tiba, kesan dramatis muncul dari permukaan air yang memantulkan cahaya lampu jalan yang berwarna keemasan. Konon, bangunan yang dirancang oleh kantor arsitek Snohetta, Norwegia ini mendekati bentuk aslinya.&lt;br /&gt;Ruang utama perpustakaan sangat luas. Berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 160 m, mampu menampung hingga 2.500 orang (aslinya, Perpustakaan Alexandria lama bisa menampung hingga 5.000 orang).Gedung ini memiliki tujuh lantai, 37 m di atas tanah dan 15,8 m di bawah tanah. Rak-rak buku berjajar dalam ruangan besar, seukuran empat kali lapangan bola. Disebutkan, perpustakaan ini mampu menampung 8 juta buku.&lt;br /&gt;Perpustakaan Alexandria memiliki banyak koleksi berharga. Di antaranya 5.000 koleksi penting berupa manuskrip klasik tentang aneka pengetahuan dari abad 10 M-18 M. Juga ada catatan penting Napoleon berjudul Description de’lEgypte, yang menceritakan peristiwa Prancis menyerbu kota Alexandria.&lt;br /&gt;Gedung ini diresmikan Presiden Mesir Husni Mubarak tahun 2002. Direktur Perpustakaan Alexandria Ismail Serageldin, pada peresmian perpustakaan bertekad akan mengembangkan perpustakaan ini sebagai pusat belajar untuk sains dan teknologi, ilmu humaniora, seni dan kebudayaan serta pembangunan.(Museum Arsitektur Norwegia/korantempo)&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-7784909779052381437?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/7784909779052381437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/perpustakaan-alexandria-cinta-lama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7784909779052381437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7784909779052381437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/perpustakaan-alexandria-cinta-lama.html' title='PERPUSTAKAAN ALEXANDRIA, CINTA LAMA BERSEMI KEMBALI'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SlK3fZ_DjkI/AAAAAAAAAFE/f5HMpQuUmCI/s72-c/ALEXANDRIA1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-1213581512322160347</id><published>2009-07-07T09:37:00.001+07:00</published><updated>2009-07-07T09:37:56.660+07:00</updated><title type='text'>The struggle for libraries in Islington</title><content type='html'>This is an extract from a paper about the history of Islington Public Libraries, published at the 2007 centenary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1855, ratepayers of St. Mary’s, Islington met at the Parochial School Room, Church Street and in a stormy session voted down a motion in support of the Public Libraries Act. In 1870, another meeting adopted the motion by 76 votes to 66, but this was below the two thirds majority needed to pass. A year later the political activist Benjamin Lucraft took a petition with 43 signatures, from St Mary’s ratepayers, to the Vestry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The petition said that free Public Libraries and Museums would help to improve people, leading to a“higher pitch of morality and industry” and “a more wholesome and pure source of recreation.” Lucraft lost. In 1874, Lucraft (below,) and Professor Leoni Levi organised a further campaign to adopt libraries. Levi published a pamphlet called “A plea for a public library at Islington” in which he argued libraries would help adults develop their knowledge. The Islington Gazette agreed, saying that libraries could help reduce popular ignorance, crime and poverty. Over 2,000 people attended the noisy meeting at the Agricultural Hall in November of that year, but only 338 voted for the motion and 1,435 against. “Howling roughs” and the “disordered pipe-smoking clique” reportedly shouted down the supporters!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A further request in 1887 was rejected by a two to one majority. The following year, Dr Levi and Major Robert Holborn were reduced to offering money and at least £300 worth of books to try to encourage people to vote for libraries. The strategy did not work, with a massive vote against in 1891. Unlike Islington, however, Clerkenwell did adopt the Acts, so Holborn gave part of his personal library to Clerkenwell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1896, Mr. John Passmore Edwards (right, in a caricature from ‘Vanity Fair’) offered £10,000 if the Parish adopted the Acts, with £5,000 for a Central Library and £2,500 each for two branches. However, the Islington Public Libraries Rejection Association said that ratepayers did not want to adopt the Act, while the annual maintenance would soon outweigh Mr Passmore Edwards’ “bribe”, which was only to build libraries. They felt that public libraries were unlikely to succeed when evening education classes at Board Schools were poorly attended.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One ratepayer wrote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I read that one of our ‘new philanthropists’ had offered to give the people of ‘Merry Islington’ a building for a library on condition that they maintain it as a going concern for all time… Personally I have a strong objection to have even a penny rate taken out of my pocket by force in order to provide Mary Jane with novels, or her friends with newspapers.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another person wrote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It is a place where you can arrange to meet your young lady instead of waiting about in the street and catching cold… let us have literature of the best kind. In my humble opinion the reading of novels and ‘bitty’ papers is a delusion and a snare and they have much to answer for in the present style of living”!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniformed policemen delivered voting papers to ratepayers for the January 1897 poll, where 14,416 voted against adoption and 11,341 for. Local Government was reformed in 1899, with metropolitan boroughs replacing the old vestries. On July 29th 1904, Thomas Lough and the Islington Libraries Promotion Committee presented a petition that was signed by 796 ratepayers supporting the Public Libraries Act. Alderman George Elliott (who felt libraries were a “curse”) said it was unconstitutional, as it was not in the Council’s Election manifesto and Islington ratepayers had always rejected adoption.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nevertheless the Mayor, Andrew Torrance, a friend of Andrew Carnegie, moved to adopt the Public Library Acts and to limit the rate charge to 2d. The vote was carried by a show of hands and, in a division, was carried 36 to 19 and Islington finally became a Public Library authority - 50 years after the original Parliamentary bill was passed!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The full article can be found at :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;https://www.islington.gov.uk/DownloadableDocuments/LeisureandCulture/Pdf/100_years_central&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;library_booklet.pdf&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-1213581512322160347?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/1213581512322160347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/struggle-for-libraries-in-islington.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/1213581512322160347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/1213581512322160347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/struggle-for-libraries-in-islington.html' title='The struggle for libraries in Islington'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-7135655606350350536</id><published>2009-07-03T09:56:00.001+07:00</published><updated>2009-07-03T09:58:27.763+07:00</updated><title type='text'>Libraries for Fragment-Based Drug Discovery</title><content type='html'>&lt;table&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="headertop"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;              &lt;!-- Content--&gt;                             &lt;div style="text-align: left;"&gt;The fragment-based approach to drug discovery (FBDD) has been established as an efficient tool in the search for new drugs. &lt;a style="font-weight: normal;" name="ednref1" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#edn1" title="ednref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;, &lt;a style="font-weight: normal;" name="ednref2" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#edn2" title="ednref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;  It has been in intensive use since the end of nineties &lt;a style="font-weight: normal;" name="ednref3" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#edn3" title="ednref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; and it already starts delivering compounds which are entering the clinic. &lt;a style="font-weight: normal;" name="ednref4" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#edn4" title="ednref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; In essence, the FBDD differs from the long-used high-throughput screening (HTS) of large, relative high molecular weight compound collections: it identifies simpler, low molecular weight compounds, the "fragments", which bind to the target of interest. The FBDD has several advantages over HTS of large compound libraries. &lt;a id="ednref1" style="font-weight: normal;" name="ednref1" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#edn1" title="ednref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;, &lt;a id="ednref2" style="font-weight: normal;" name="ednref2" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#edn2" title="ednref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; First of all, when following this approach, there is a better chance for the final lead compound to be compliant with the Lipinski’s "Rule of five" &lt;a style="font-weight: normal;" name="ednref5" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#edn5" title="ednref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; to increase the likelihood of having good pharmacokinetic properties.&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;Another important benefit of the FBDD derives from the fact that even a small (few thousands) collection of fragments covers a much greater proportion of all the possible compounds that could exist, termed "chemical space", than large (millions) corporate compound collections for HTS. &lt;a style="font-weight: normal;" name="ednref6" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#edn6" title="ednref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Finally, the increased chemical diversity allows one to avoid problems caused by existing intellectual property. Because of relatively low affinity of fragments to the biological target, efficient techniques had to be developed to detect their binding. Today, researchers widely employ X-Ray crystallography and NMR screening as well as other techniques for this purpose and the bottleneck of FBDD becomes availability of quality fragments. &lt;/div&gt;      &lt;p&gt;Understanding the increasing importance of the FBDD for modern pharmaceutical industry, we set a goal to design a compact library of quality fragments which would represent the whole collection of Enamine compounds and would provide a useful probing tool to identify bindings to any biological target. &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;The &lt;strong&gt;Enamine Fragment Library&lt;/strong&gt; was designed by application of "Rule of three" filters proposed by Astex Therapeutics &lt;a style="font-weight: normal;" name="ednref7" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#edn7" title="ednref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; and then strict structural filters &lt;a style="font-weight: normal;" name="ednref8" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#edn8" title="ednref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; to a combined dataset of Enamine &lt;a href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=22"&gt;Screening Compounds&lt;/a&gt; and &lt;a href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=2"&gt;Building Blocks&lt;/a&gt; (940,000 and 19,000 respectively at the time of the library preparation). Criteria used in ADME selection are summarized in Table 1. We had identified 6,173 compounds strictly meeting these requirements. Analysis of this set by the variable-length Jarvis-Patrick clustering &lt;a id="ednref9" style="font-weight: normal;" name="ednref9" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#edn9" title="ednref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; (Tanimoto coefficient – 0.85, portion of near neighbors overlapping – 0.5) resulted in 830 clusters and 1 819 singletones, which were refined by stringent scientific expertise to yield 1 190 structures of the Fragment Library. An extension library was selected to provide a softer focus and complement design to the main Fragment Library. The compounds in this library may violate the "Rule of three" to the extent mentioned in Table 1 at one of the six selection criteria. This library contains 11 717 compounds distributed between 1 754 clusters and 3 316 singletones. It should be noted, that both databases are composed of the stock compounds, immediately available upon ordering.&lt;/p&gt;   &lt;div align="center"&gt;   &lt;table align="center" bgcolor="#ccccff" border="0" cellpadding="6" cellspacing="2"&gt;       &lt;tbody&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#edeaf9" valign="midle" width="150"&gt;&lt;strong&gt;Parameter&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td align="center" bgcolor="#edeaf9" valign="midle" width="150"&gt;&lt;strong&gt;Fragment Library &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td align="center" bgcolor="#edeaf9" valign="midle" width="150"&gt;&lt;strong&gt;Fragment Library&lt;br /&gt;  Extension Set&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;      &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;Molecular Weight&lt;/td&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;150 … 300&lt;/td&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;150 … 350&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;ClogP&lt;/td&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;-2 … 3&lt;/td&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;-2 … 3.5&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;H-Bond acceptors&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;0 … 3&lt;/td&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;0 … 4&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;H-Bond donors&lt;br /&gt;     &lt;/td&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;0 … 3&lt;/td&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;0 … 4&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;Rotating Bonds&lt;/td&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;0 … 3&lt;/td&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;0 … 4&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;TPSA&lt;/td&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;0 … 60&lt;/td&gt;      &lt;td align="center" bgcolor="#ffffff" valign="top"&gt;0 … 90&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;    &lt;/tbody&gt;   &lt;/table&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;Table 1.&lt;/strong&gt; The parameters used in design of Fragment Libraries&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;The graphs (Fig. 1) illustrate the distributions of different parameters over the compounds in the Fragment Library.&lt;/p&gt;  &lt;div align="center"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="6" cellspacing="2" width="600"&gt;   &lt;tbody&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td align="center" valign="midle" width="275"&gt;&lt;img src="http://www.enamine.net/images/stories/enamine/fragment/fragment_clip_image002.jpg" alt="" /&gt;&lt;br /&gt;     Molecular weight&lt;/td&gt;     &lt;td align="center" valign="midle" width="275"&gt;&lt;img src="http://www.enamine.net/images/stories/enamine/fragment/fragment_clip_image004.jpg" alt="" /&gt;&lt;br /&gt;     ClogP&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td align="center" valign="midle"&gt;&lt;img src="http://www.enamine.net/images/stories/enamine/fragment/fragment_clip_image006.jpg" alt="" /&gt;&lt;br /&gt;     Number of  rotating bonds&lt;/td&gt;     &lt;td align="center" valign="midle"&gt;&lt;img src="http://www.enamine.net/images/stories/enamine/fragment/fragment_clip_image008.jpg" alt="" /&gt;&lt;br /&gt;     Number of  H-bond acceptors&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td align="center" valign="midle"&gt;&lt;img src="http://www.enamine.net/images/stories/enamine/fragment/fragment_clip_image010.jpg" alt="" /&gt;&lt;br /&gt;     Number of  H-bond donors&lt;/td&gt;     &lt;td align="center" valign="midle"&gt;&lt;img src="http://www.enamine.net/images/stories/enamine/fragment/fragment_clip_image012.jpg" alt="" /&gt;&lt;br /&gt;     TPSA&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;  &lt;/table&gt;  &lt;strong&gt;Fig. 1.&lt;/strong&gt; Parameters of the "rule of three" showed against the number of compounds in the Enamine Fragment Library.&lt;/div&gt;   &lt;p&gt;A very important feature of a fragment scaffold is its inherent chemical possibility of further elaboration, allowing "linking" or "growing" the fragments into leads of very high affinity. It is important to note, that the designed Fragment Library is supported by the grand selection of the Building Blocks available from Enamine. Therefore, for the vast majority of fragments in the Enamine Fragment Library there are a number of compounds with the same scaffold in the Enamine &lt;a href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=2"&gt;Building Blocks&lt;/a&gt; and &lt;a href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=22"&gt;Screening Databases&lt;/a&gt;. Availability of these derivatives is a key benefit for the FBDD: after identifying the fragment possessing an affinity to the target of interest, further elaboration of the fragment, or linking fragments are next steps in developing lead compounds. A literature example &lt;a style="font-weight: normal;" name="ednref10" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#edn10" title="ednref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; of this process is given in the Scheme 1. An initial µM fragment hit &lt;strong&gt;1&lt;/strong&gt; was elaborated stepwise to the nM lead &lt;strong&gt;7&lt;/strong&gt;. This elaboration required synthesis of all the compounds which have the same scaffold as the initial hit. Enamine could facilitate the advance by providing the intermediates and functionalized fragments promptly.&lt;/p&gt;   &lt;div align="center"&gt; &lt;img src="http://www.enamine.net/images/stories/enamine/fragment/fragment_clip_image014.gif" alt="" height="461" width="500" /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Scheme 1&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Enamine provides customers with the analogues of the fragments, which have additional functional groups, "handles" for further elaboration or linking, and even larger additional fragments. For example, Fig. 2 shows a screenshot of an Enamine Fragment Library record for a randomly chosen fragment. The fields "stock compounds with the same fragment(s)" show examples of the analogues, available from stock at Enamine. Total number of the analogues can be seen in the field "number of stock compounds based on the same core cycle(s)".&lt;/p&gt;  &lt;div align="center"&gt; &lt;img src="http://www.enamine.net/images/stories/enamine/fragment/fragment_clip_image016.gif" alt="" height="459" width="341" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;Fig. 2.&lt;/strong&gt; Screenshot of a record in the Enamine Fragment Library.&lt;/div&gt;     &lt;p&gt;&lt;br /&gt;  The Fragment Library and complimentary extension can be downloaded &lt;a href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=117"&gt;here&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;    &lt;div&gt;&lt;a style="font-weight: normal;" name="edn1" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#ednref1" title="edn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Erlanson, D. A.; McDowell, R. S.; O’Brien, T. Fragment-based drug discovery. &lt;em&gt;J. Med. Chem.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;2004&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;47&lt;/em&gt;, 3463-3482.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&lt;a style="font-weight: normal;" name="edn2" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#ednref2" title="edn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Rees, D. C.; Congreve, M.; Murray, C. W.; Carr, R. Fragment-based lead discovery. &lt;em&gt;Nat. Rev. Drug Discovery &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;2004, &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;3, &lt;/em&gt;660-672.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&lt;a style="font-weight: normal;" name="edn3" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#ednref3" title="edn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Shuker, S. B.; Hajduk, P. J.; Meadows, R. P.; Fesik, S. W. Discovering high-affinity ligands for proteins: SAR by NMR. &lt;em&gt;Science&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;1996&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;274&lt;/em&gt;, 1531-1534.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&lt;a style="font-weight: normal;" name="edn4" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#ednref4" title="edn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Hajduk, P. J.; Greer, J. A decade of fragment-based drug design: strategic advances and lessons learned. &lt;em&gt;Nat. Rev. Drug Discov&lt;/em&gt;. &lt;strong&gt;2007&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;6&lt;/em&gt;, 211-219.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&lt;a style="font-weight: normal;" name="edn5" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#ednref5" title="edn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Lipinski, C. A. et al. Experimental and computational approaches to estimate solubility and permeability in drug discovery and development settings. &lt;em&gt;Adv. Drug. Deliv. Rev&lt;/em&gt;. &lt;strong&gt;1997&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;23&lt;/em&gt;, 3-25.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&lt;a style="font-weight: normal;" name="edn6" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#ednref6" title="edn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Lipinski, C. A.; Hopkins, A. Navigating chemical space for biology and medicine. &lt;em&gt;Nature&lt;/em&gt;, &lt;strong&gt;2004&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;432&lt;/em&gt;, 855-861.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&lt;a style="font-weight: normal;" name="edn7" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#ednref7" title="edn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Congreve, M. et al. A rule of three for fragment-based lead discovery. &lt;em&gt;Drug Discov. Today &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;2003&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;8&lt;/em&gt;, 876-877.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&lt;a style="font-weight: normal;" name="edn8" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#ednref8" title="edn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Leadlikeness and structural diversity of synthetic screening libraries. &lt;em&gt;Molecular Diversity&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;2006&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;10&lt;/em&gt;, No. 3, 377-388.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&lt;a style="font-weight: normal;" name="edn9" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#ednref9" title="edn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; a) Jarvis, R. A.; Patrick, E. A. Clustering Using a Similarity Measure Based on Shared Nearest Neighbors. &lt;em&gt;IEEE Trans. Comput.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;1973&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;C22&lt;/em&gt;, 1025-1034; b) Brown, R. D.; Martin. Y. C. Use of Structure-Activity Data To Compare Structure-Based Clustering Methods and Descriptors for Use in Compound Selection. &lt;em&gt;J. Chem. Inf. Comput. Sci.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;1996&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;36&lt;/em&gt;, 572-584; c) Barnard, J. M.; Downs, G. M. Chemical Fragment Generation and Clustering Software. &lt;em&gt;J. Chem. Inf. &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Comput. Sci.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;1997&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;37&lt;/em&gt;, 141-142.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;a style="font-weight: normal;" name="edn10" href="http://www.enamine.net/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=116&amp;amp;gclid=CJqnm-TEuJsCFYctpAodqUUiAQ#ednref10" title="edn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Saxty, G.; Woodhead, S. J.; Berdini, V.; Davies, T. G.; Verdonk, M. L.; Wyatt, P. G.; Boyle, R. G.; Barford, D.; Downham, R.; Garrett, M. D.; Carr, R. A. Identification of inhibitors of protein kinase B using fragment-based lead discovery. &lt;em&gt;J. Med. Chem&lt;/em&gt;. &lt;strong&gt;2007&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;50&lt;/em&gt;, 2293-2296.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;enamine.net&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-7135655606350350536?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/7135655606350350536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/libraries-for-fragment-based-drug.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7135655606350350536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/7135655606350350536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/libraries-for-fragment-based-drug.html' title='Libraries for Fragment-Based Drug Discovery'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-2087111882173841633</id><published>2009-07-03T09:50:00.001+07:00</published><updated>2009-07-03T09:52:14.383+07:00</updated><title type='text'>News: New Design of Self Check Station!</title><content type='html'>&lt;p&gt;     &lt;a href="http://www.rfid-library.com/images/rfid_e01.jpg" target="_blank"&gt;     &lt;img src="http://www.rfid-library.com/images/rfid_e01.jpg" alt="LibBest Library RFID Management System" style="border-width: 0px;" height="386" width="594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;          &lt;h2&gt;SIX SENTENCE About RFID FOR LIBRARY&lt;/h2&gt;            &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;RFID tags replace both the EM security strips and Barcode.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;Simplify patron self check-out / check-in.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;Ability to handle material without exception for video and audio tapes.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;Radio Frequency anti-theft detection is innovative and safe.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;High-speed inventory and identify items which are out of proper order.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;Long-term development guarantee when using Open Standard.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;          &lt;a name="SampleTags"&gt;&lt;/a&gt;     &lt;h1&gt;RFID Technology for Libraries&lt;/h1&gt;          &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;RFID (Radio Frequency IDentification) is the latest technology to be       used in library theft detection systems. Unlike EM (Electro-Mechanical) and       RF (Radio Frequency) systems, which have been used in libraries for decades,       RFID-based systems move beyond security to become tracking systems that combine       security with more efficient tracking of materials throughout the library,       including easier and faster charge and discharge, inventorying, and materials handling.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;RFID is a combination of radio-frequency-based technology and microchip technology.       The information contained on microchips in the tags affixed to library materials is read       using radio frequency technology regardless of item orientation or alignment (i.e., the       technology does not require line-of-sight or a fixed plane to read tags as do traditional       theft detection systems) and distance from the item is not a critical factor except       in the case of extra-wide exit gates. The corridors at the building exit(s)       can be as wide as four feet because the tags can be read at a distance of up to two feet       by each of two parallel exit sensors.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;The targets used in RFID systems can replace both EM or RF theft detection targets and barcodes.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;              &lt;a name="SampleTags"&gt;&lt;/a&gt;     &lt;h1&gt;Advantages of RFID systems&lt;/h1&gt;     &lt;h3&gt;Rapid charging/discharging&lt;/h3&gt;        &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;The use of RFID reduces the amount of time required to perform circulation operations. The most significant time savings are attributable to the facts that information can be read from RFID tags much faster than from barcodes and that several items in a stack can be read at the same time. While initially unreliable, the anti-collision algorithm that allows an entire stack to be charged or discharged now appears to be working well.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;The other time savings realized by circulation staff are modest unless the RFID tags replace both the EM security strips or RF tags of older theft detection systems and the barcodes of the automated library system - i.e., the system is a comprehensive RFID system that combines RFID security and the tracking of materials throughout the library; or it is a hybrid system that uses EM for security and RFID for tracking, but handles both simultaneously with a single piece of equipment. There can be as much as a 50 percent increase in throughput. The time savings are less for charging than for discharging because the time required for charging usually is extended by social interaction with patrons.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;           &lt;h3&gt;Simplified patron self-charging/discharging&lt;/h3&gt;        &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;For patrons using self-charging, there is a marked improvement because they do not have to carefully place materials within a designated template and they can charge several items at the same time.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;Patron self-discharging shifts that work from staff to patrons. Staff is relieved further when readers are installed in book-drops.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;               &lt;h3&gt;High reliability&lt;/h3&gt;        &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;The readers are highly reliable. RFID library systems claim an almost 100 percent detection rate using RFID tags. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;There are fewer false alarms than with older technologies once an RFID system is properly tuned.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;RFID systems encode the circulation status on the RFID tag. This is done by designating a bit as the "theft"(EAS) bit and turning it off at time of charge and on at time of discharge. If the material that has not been properly charged is taken past the exit sensors, an immediate alarm is triggered. Another option is to use both the "theft"(EAS) bit and the online interface to an automated library system, the first to signal an immediate alarm and the second to identify what has been taken.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;h3&gt;High-speed inventorying&lt;/h3&gt;        &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;A unique advantage of RFID systems is their ability to scan books on the shelves without tipping them out or removing them. A hand-held inventory reader can be moved rapidly across a shelf of books to read all of the unique identification information. Using wireless technology, it is possible not only to update the inventory, but also to identify items which are out of proper order.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;h3&gt;Automated materials handling&lt;/h3&gt;        &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;Another application of RFID technology is automated materials handling. This includes conveyer and sorting systems that can move library materials and sort them by category into separate bins or onto separate carts. This significantly reduces the amount of staff time required to ready materials for re-shelving.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;h3&gt;Long tag life&lt;/h3&gt;        &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;Finally, RFID tags last longer than barcodes because nothing comes into contact with them. Most RFID vendors claim a minimum of 100,000 transactions before a tag may need to be replaced.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;worldigitallibrary.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1695290399743983505-2087111882173841633?l=perpuskini.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpuskini.blogspot.com/feeds/2087111882173841633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/news-new-design-of-self-check-station.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2087111882173841633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1695290399743983505/posts/default/2087111882173841633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpuskini.blogspot.com/2009/07/news-new-design-of-self-check-station.html' title='News: New Design of Self Check Station!'/><author><name>NEW LIBRARY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00213097729246417068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/SjHBD3oqsRI/AAAAAAAAABQ/jtoKpecADQ4/S220/aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1695290399743983505.post-530636012806320789</id><published>2009-07-01T12:37:00.001+07:00</published><updated>2009-07-01T12:39:20.614+07:00</updated><title type='text'>Perpustakaan Digital Dunia Semakin Semarak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/Skr2eM-MA4I/AAAAAAAAAE0/MV1WMiIwZNI/s1600-h/dilib.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 199px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jHviYnCF-zw/Skr2eM-MA4I/AAAAAAAAAE0/MV1WMiIwZNI/s320/dilib.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353362105821823874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Perpustakaan digital dunia kini diramaikan oleh kehadiran anggota baru. Satu lagi website baru dengan tawaran akses gratis ke berbagai konten berisi referensi buku, peta, film dan foto di seluruh dunia. Website ini baru saja diluncurkan minggu lalu di markas besar UNESCO di Paris.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seperti yang dilansir dari AFP, Senin (20/4/2009), worlddigitallibrary.org berisi berbagai konten tak ternilai, mulai dari kaligrafi Persia dan China kuno hingga fotografi pada zaman awal Amerika Latin. Boleh dibilang web ini merupakan perpustakaan digital terbesar di dunia setelah Google Book Search dan proyek sejenis baru milik Uni Ero
